Pandanglah Kebawah, Anda akan melihat besarnya nikmat Allah

Pandanglah Kebawah, Anda akan melihat besarnya nikmat Allah

Di antara sarana yang paling bermanfaat dalam hal ini adalah menerapkan yang dibimbingkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalam hadits shahih, beliau bersabda.

“Artinya : Pandanglah orang yang lebih bawah darimu (dalam hal materi), dan jangan kamu pandang orang yang lebih atas darimu. Hal itu lebih cocok bagimu, agar kamu tidak merendahkan ni’mat Allah yang dikaruniakanNya kepadamu”.

Seorang hamba jika memusatkan perhatiannya pada ajaran nabawi yang agung ini, maka ia akan melihat dirinya mengungguli orang banyak dalam hal kesejahteraan dan rezki serta rentetan kenikmatan lain berkat kedua karunia itu, meski ia dalam kondisi apapun. Dengan itu sirnalah keguncangan, kegundahan dan keruwetannya, dan bertambahlan kegembiraan dan kesukaannya terhadap ni’mat-ni’mat Allah, yang ia dalam hal ini mengungguli orang-orang yang lain dibawahnya.

Setiap kali seorang hamba merenungi ni’mat-ni’mat Allah yang zhahir maupun yang batin, baik itu dari sisi kehidupan religi maupun duniawinya, ia akan melihat Allah Tuhannya telah mengarunianinya karunia yang banyak dan telah menangkis untuknya berbagai keburukan. Tidak diragukan, bahwa hal itu dapat menangkis kegundahan dan keruwetan, disamping membuahkan kegembiraan dan kesukacitaan.
Berhijab Tidak Harus Nunggu Hatinya dulu yang berhijab

Berhijab Tidak Harus Nunggu Hatinya dulu yang berhijab

Hijab Syari sesusai syariat
1. hijab itu adalah kewajiban yang Allah karuniakan pada Muslimah | karena selain membuat terhormat, hijab juga menjadi bagian ibadah

2. maka Muslimah apapun aktivitasnya, wajib berhijab tanpa alasan | dan karena ibadah, maka haruslah memenuhi apa yang Allah tentukan

3. karena hijab itu wajib, maka niatan bukan sebab batalnya kewajiban | walau niat sangat mempengaruhi diterimanya ibadah dan ganjaran

4. maka tidak boleh orang berucap "kalo nggak niat, nggak usah hijab" | karena niat nggak niat, ikhlas atau nggak, hukum hijab tetap wajib

5. juga salah ucapan "untuk apa hijab kalo bukan dari hati? lepas aja lah!" | yang betul, hijabnya wajib, ya pertahankan, niatnya perbaiki

6. adanya kesalahan dalam kewajiban dan ibadah yang Allah perintahkan | seharusnya bukan jadi alasan menyoalkan, bahkan meremehkan

7. kita lihat memang banyak Muslimah berhijab masih bermaksiat | tapi bukankah tak berhijab itu juga maksiat? manusia pasti maksiat?

8. maka jangan kaitkan kewajiban hijab dengan kekurangan manusia | justru kita mesti kuatkan semangat berhijabnya, hidayah lain ikut serta

9. begitu juga bagi anak yang belum baligh, betul hijab tak wajib | hanya saja kewajiban dan ibadah itu perlu dilatih dan dibiasakan

10. anak-anak dikenalkan dengan identitasnya sebagai Muslimah | mereka harus dibuat nyaman dengan hijabnya, dibuat terbiasa beribadah

11. maka penting bagi sekolah untuk tidak hanya tausiyah tentag hijab | tapi benar-benar membiasakan anak-anak Muslimah berhijab syar'i

12. perkara anak-anak itu melepas hijabnya sepulang sekolah | namanya juga latihan, maka pelan-pelan kita pahamkan dengan tausiyah

13. anak-anak belum baligh memakai hijab karena wajib di sekolah | lalu melepas sepulangnya, itu juga bukan hinaan pada agama, biasa saja

14. lha bagaimana bisa disebut menghina agama? itu Muslimah belum baligh kok | dan justru lagi pelatihan taat, melatih membiasakan yang baik

15. anak-anak yang dilatih taat sejak awal saja belum ada jaminan taat nantinya | apalagi yang tidak dibiasakan dalam taat? lebih berisiko

16. maka tugas kita ialah melatih anak-anak terbiasa dengan kewajiban | dan terus-menerus memperbaiki niat mereka dalam ibadah

17. dan ingat, membiasakan beribadah itu bukan memaksa, tapi itulah tugas pendidik | adalah kewajiban pendidik dalam membiasakan kebaikan

18. maka aturan wajibnya hijab di sekolah bagi anak-anak, itu perlu dan penting | memahamkan mereka tentang hijab itu ibadah, sama penting

19. karena pikir, rasa, tingkah anak-anak, adalah apa yang mereka dengar, lihat, lakukan

* Ustad Felix Siauw
Sikap Pertengahan Dalam Mencari Rizki

Sikap Pertengahan Dalam Mencari Rizki


Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Antara seorang hamba dan rezekinya ada pemisah. Jika dia qanaah (merasa cukup) dan jiwanya merasa ridha, rezekinya akan menghampirinya. Akan tetapi, jika dia memaksa masuk dan meruntuhkan hijab itu, dia tidak akan bisa menambah rezekinya di atas kadar yang telah ditentukan untuknya.”

Sebagian salaf berkata, “Bertawakallah, maka engkau akan dianugerahi rezeki tanpa kelelahan dan susah payah.”Al-Marwazi bertanya kepada al-Imam Ahmad tentang seseorang yang hanya duduk di rumahnya -padahal dia mampu untuk beraktifitas- dan mengatakan, “Aku akan duduk dan bersabar. Aku tidak akan mengharapkan sesuatu dari orang lain.”

Al-Imam Ahmad menjawab, “Dia keluar dari rumahnya dan berbuat sesuatu lebih aku sukai.
Kalau dia hanya duduk di rumahnya, aku khawatir, dia malah berharap akan ada orang
yang mengiriminya sesuatu.”

(diambil dari Jami’ul Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab al-Hanbali, hlm. 591-592)
Hidup Itu Indah, Jika ...???

Hidup Itu Indah, Jika ...???


HIDUP ITU INDAH.. Jika kita bisa BERSAMA...

Sungguh hidup itu terasa INDAH :
  • Jika saat kita pergi ada yang mendo'akan.
  • Jika saat kita jauh ada yang merindukan.
  • Jika saat kita sedih ada yang menentramkan .
  • Jika saat kita ketemu ada senyum dan sapa

Tapi yang terindah dari segalanya adalah .... KETIKA Allah masih berkenan Memberikan nafas untuk hidup hari ini dan berkenan Memberikan kemudahan untuk Saling Bantu dalam ber-ibadah untuk-Nya...

Baarakallahu fiikum

*Status FB Abu Fillah
Muslim Itu Jelas!

Muslim Itu Jelas!


Kata-kata "non-Muslim tapi bersih mendingan dari Muslim korupsi" | ini penyesatan tanpa dalil, harusnya berpikirnya "Muslim yang bersih"

dan itu semua tidak menghilangkan hukum wajibnya dipimpin Muslim | karena dalam Islam, kepemimpinan itu sudah disyariatkan, sudah diatur

Misal dalam shalat, Imam itu disyariatkan Muslim, harus Muslim | walau bagus bacaaannya, hafalannya, tapi non-Muslim, ya bathil

Misal saat Muslimah menikah, ya harus Muslim lakinya | walau tanggung jawab, mampu, tapi non-Muslim, ya bathil, itu syariatnya

Kalau ada yang bilang "urusan pemimpin nggak perlu dipandang agamanya" | ini jelas pandangan pribadi, bukan pandangan Islam, tak berdalil

Beda pemimpin dalam hal hukkam (penguasa) dengan pemimpin biasa | kalau pemimpin perusahaan, non-Muslim boleh, kalau penguasa wajib Muslim

Mengapa penguasa harus Muslim? karena dalilnya begitu | karena penguasa mengurus hajat orang banyak

Satu lagi yang sama pentingnya, bahkan mungkin lebih penting | penguasa itu selain Muslim harus menerap syariat Islam, Al-Qur'an dan Hadits

Karena penguasa tak mungkin adil kecuali dengan menerapkan Al-Qur'an dan Hadits | bukan malah menerapkan sistem sekuler, yang diatur manusia

Dengan menerap syariat Islam, Muslim baru bisa menunjukkan ke-Islamannya dengan sempurna | karena aturan Allah pastilah manfaat bagi kita
Selama sistem selain Islam yang diterapkan, ya akan sulit adil | sulit untuk jujur, sulit untuk bersih, walau penguasanya Muslim

Muslim, itu jelas, sangat jelas malah | karena dalam konsep Islam, adil itu adalah hasil penerapan syariat
Jadi jelas banget ya, pemimpin itu wajib Muslim, dan pemimpin itu wajib menerapkan syariat Islam | bila sekarang belum begitu, ya berjuang

dikutip dari G+ Ustad Felix Siauw
Lelaki Jangan Cengeng

Lelaki Jangan Cengeng

Lelaki itu pemimpin atas wanita, karena Allah haruskan mereka lebih.....

Lebih banyak berkorban ....
Lebih bertanggung jawab.....
Lebih banyak menuntut ilmu .....
Lebih dalam hal kesabaran ....

Bersabar menjalani proses berhijrah....

Bersabar menjalani proses berhijrah....

Jangan khawatir akan konsekuensi kebaikan, karena pastilah baik | sebab bila niat dan caranya sudah baik, pastilah beroleh kebaikan

Yang berhijrah itu meninggalkan keburukan, menjauhi larangan Allah | sudah pasti ada tantangan, sudah pasti ada yang tak suka dan marah

dan memang tak selamanya kita mampu membuat semua senang | yang kita mampu hanya memurnikan niat dan cara kita dalam kebaikan

Berubah itu ada konsekuensinya, tapi tak berubah itu lebih sulit lagi | hijrah ke kebaikan itu sangat sulit, tapi tetap buruk itu musibah

Bila sudah diniatkan karena Allah, dengan cara sesuai ajaran Nabi | melangkahlah, Allah pasti mempermudah, Allah akan menguatkan

Lihat saja, sebentar lagi, Allah kirim hamba-hamba-Nya menemani langkahmu | Allah kuatkan hatimu dan memberi rasa manis dalam ketaatan

Bersabar menjalani proses dan progres hijrah, kita bukan yang pertama | sudah banyak yang melaluinya, kita juga pasti bisa

dan berkumpullah dengan majlis-majlis ilmu, disanalah keberkahan | dan lebih lagi, disanalah keistiqamahan, saat berkumpul dalam kebaikan 


sumber Felix Siauw
Hanya Pada Allah kita meminta

Hanya Pada Allah kita meminta

Setiap dari kita tentu punya hajat, sayangnya tak semua dari kita pandai menempatkan kepada siapa kita meminta agar hajat kita dipenuhi

Ada diantara kita yang meminta dan berharap pada manusia, ada yang malah setengah memaksa dalam meminta-minta, atau yang terburuk, menyakiti dalam meminta

Padahal manusia itu lemah dan terbatas, setiap manusia juga punya keperluan, dan keperluan itu takkan habis dipenuhi, hingga ia selalu merasa kurang

Aneh, kita meminta urusan dunia pada manusia, sementara dunia ini tidak pernah menjadi milik manusia, padahal milik Allah segala yang ada di langit dan bumi

Memintalah pada Allah jangan pada manusia, berharaplah pada Allah bukan pada manusia

Dan sebaik-baik pinta pada Allah adalah ampunan dan ridha-Nya, tapi kalaupun meminta Allah soal hajat dunia, itupun tak dilarang

Bangunlah di sepertiga malam dan adukan semuanya pada Allah, memintalah kepada-Nya di saat banyak manusia tidur

Nabi saw bersabda, "Di malam hari terdapat suatu saat yang tidaklah seorang muslim memanjatkan doa pada Allah berkaitan dengan dunia dan akhiratnya bertepatan dengan saat tersebut melainkan Allah akan memberikan apa yang ia minta. Hal ini berlaku setiap malam" (HR Muslim)

Tiap malam Allah tawarkan kepada kita untuk meminta, tiap malam Allah tunggu doa kita untuk Dia kabulkan, tiap malam Allah tebarkan ampunan bagi yang meminta pada-Nya, yang perlu kita lakukan hanya berserius dan bersungguh-sungguh, istiqamah dalam meminta

Nabi saw juga mengingatkan kabar gembira, "Rabb kita tabaroka wa ta’ala turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa 1/3 malam terakhir, lalu Dia berkata: ‘Siapa yang berdoa pada-Ku, aku akan memperkenankan doanya. Siapa yang meminta pada-Ku, pasti akan Kuberi. Dan siapa yang meminta ampun pada-Ku, pasti akan Kuampuni’" (HR Bukhari Muslim)

MasyaAllah, masihkah kita sia-siakan malam-malam kita itu dengan tidur pulas semalaman? Seriuskah kita dengan apapun yang kita inginkan?


sumber : G+ Felix Siauw
Belajar ... dan... Terus Belajar

Belajar ... dan... Terus Belajar

Karena hidup adalah proses,
Maka setiap orang yang kita temui,
Adalah guru.
Maka setiap tempat yang kita datangi,
Adalah kelas.
Maka setiap kejadian yang kita alami,
Adalah pembelajaran.

Tak perlu pandang dia siapa,
Dari mana ia berasal,
Pejabat atau bukan,
Kaya atau miskin,
Rupawan atau pas-pasan,
Terkenal atau tidak,
Setiap apa yang diucap adalah sebuah pembelajaran.
Perkataan baik perlu kita serap,
Perkataan tak baik perlu kita saring,
Jika menyakitkan,
Maka anggaplah sebuah 'jamu' kehidupan,
Bisa jadi bermanfaat di lain waktu hidup kita.

Dimana langkah kaki memijak,
Di situlah kelas baru kita hadiri,
Tak pandang tempat preman,
Tempat kumuh,
Gunung yang dingin,
Pantai yang panas,
Di situ lah kita bisa belajar,
Mensyukuri banyak hal yang belum sempat kita ketahui.

Episode hidup yang menyakitkan,
Peristiwa yang menyesakkan tak termaafkan,
Kejadian membahagiakan yang tak terlupakan,
Semua adalah pembelajaran.
Proses untuk kita menapaki segalanya dengan secukupnya tanpa berlebihan,
Karena suatu saat semuanya akan berganti dan tak akan pernah abadi.

Karena sejatinya hidup ini adalah untuk belajar,
Kemudian mengamalkannya untuk bekal di kehidupan akhirat.

*sumber : Instagram Celoteh Muslim

Berbagi Tak Pernah Rugi

Berbagi Tak Pernah Rugi

Berbagi tak pernah rugiKebahagiaan hadir bukan dengan "mendapatkan" tapi dengan "berbagi" | banyak yang ingin bahagia, namun malah enggan berbagi yang dimiliki

Karena yang hadir saat "mendapat" hanya kesenangan | sedang yang hadir saat "berbagi" ialah ketenangan

Mendapati makanan enak, tempat indah, atau harta berlimpah | bila tidak ada tempat berbagi, semuanya sia-sia, fatamorgana

Namun makanan biasa, tempat layaknya, harta secukupnya | bila dibagi dengan yang disayangi, kebahagiaannya sempurna

Orang yang berbagi, hidupnya dicucurkan kebahagiaan | tak mudah susah dan marah, karena ada ketenangan
Bagi engkau yang enggan berbagim dengan apa yang sudah dimudahkan Allah bagimu | "apa yang sebenarnya kau cari? bahagia atau selainnya?"

Karena dalam agama kita, menjadi Muslim adalah berbagi dengan lainnya | berbagi ilmu, nasihat, harta, kasih, jiwa, apapun karena Allah :)

*dikutip dari G+ Felix Siauw
Udah Putusin Aja!

Udah Putusin Aja!

Cari calon suami itu yang rekam jejaknya bagus walau tak sempurna | ibadah dia segera, taubat nggak ditunda, cinta akhirat tak lupa dunia

Lelaki yang santun pada orangtuanya, pandai bahagiakan keduanya | kemungkinan besar santun-ramah pada
istrinya, dan bahagiakan istrinya

Lelaki yang menomorsatukan Allah, dan senantiasa taat saat dia sendiri | akan jauh
dari maksiat dan selalu dirindukan saat sudah beristri

Lelaki yang senantiasa berdakwah, karena
tak mau sendiri dalam taat | nantinya mengajakmu taat berdua, dan menjaga keluarga dari maksiat

lelaki yang hatinya terikat pada masjid, lisannya basah oleh Al-Qur'an | nantinya
jadikan rumah tangga ibadah, syahdu penuh ketenangan yang celaka, lelaki yang sudah rekam
jejaknya jelek, enggan memperbaiki | maksiat dipelihara, kebaikan diolok-olok, sudah taubat kumat lagi

lelaki begini jangan diharap-harap, sudah dinikahi bikin susah | ibunya yang sudah
melahirkan saja diabaikan, apalagi kamu lelaki begini hanya bisa PHP, jangankan
janji ke kamu | janjinya kepada Sang Pencipta saja bisa diingkari lelaki begini minim tanggung jawab,
pacaran terus | menikahi belum sanggup, maksiat jalan terus

lelaki begini, shalatnya ditinggal, puasa sekenanya, ibadah lalai | wajar nanti
istrinya ditinggal, nafkah sekenanya, bahagia cuma mimpi calon suami baik, itu rekam jejaknya baik,
juga sebaliknya | cari rekam jejak ke ustadznya, bapak-ibunya | bukan dipacari, itu maksiat

calon suami baik itu dilihat dari rekam jejak hidupnya | kalo sekarang berani
maksiat, sudah nikah lebih parah lagi kalau dia taat dia nggak pacaran, kalau pacaran dia berani maksiat | kalau kamu cari calon suami baik lewat pacaran, jelas salah fatal kalau rekam jejaknya baik, kemungkinan besar calon yang baik | kalau rekam jejaknya hancur, kemungkinan besar calon
yang hancur tentu ada pengecualian yang rekam jejaknya jelek tapi calon suami baik | tapi
ya itu, melibatkan rekam jejak lain, taubat - taubat-taubat

#UdahPutusinAja, cari ridha Allah, taat pada Allah | kalau kamu yakin jodoh
ditangan Allah, maka taat Allah jalan terbaik dapat suami baik

*dikutip dari status G+ ustad Felix Siauw
Selalu Ada Seleksi

Selalu Ada Seleksi



Pendaki yang sampai ke puncak adalah pendaki yang tangguh

Pejuang yang sampai kesuksesan adalah pejuang yang sabar

Dan kita diberi pilihan Menjadi manusia yang rapuh oleh tantangan, atau
Justru menghebat seiring hebatnya Rintangan

Menjadi generasi yg menggantikan atau generasi yang tergantikan?

Harus kita ingat Badai hanya menyisakan pohon-pohon yang terKuat....

Selasa, 10 Maret 2015, pukul 13.58

#renungan dihari yg mendung menjelang hujan
Aku, Kamu, Mereka kelak akan mati!

Aku, Kamu, Mereka kelak akan mati!


Janganlah bersedih bila engkau dibenci | Bersedihlah bila engkau yang membenci

Tidak mengapa bila engkau tak dicintai | Sepanjang engkau masih bisa mencintai

Jangan merasa hina bila engkau tak diketahui | Khawatirlah bila engkau yang tidak mengetahui

Tidak mengapa bila engkau bodoh, engkau masih bisa belajar | Khawatirlah bila engkau malas belajar, karena sudah merasa pintar

Tidak mengapa hari ini gagal, kesempatan dunia datang berulang | Jangan di akhirat menyesal, disana hanyalah tempat berpulang

Aku, kamu, Orang Kaya, Orang Miskin, Rakyat Biasa, Raja Raja, kita dan mereka semua kelak akan mati | mungkin sebentar lagi, lalu apa gunanya mendengki?


Allah nggak akan marah bila kita mati tanpa membawa harta berlimpah| Yang pasti kita akan merugi bila mati tanpa iman, hatta sebiji dzarrah

Hidup mungkin hanya semisal shalat sehari semalam | Diawali dengan agungkan Allah, diakhiri dengan salam

Siapa yang memperbaiki hubungan dengan Allah | Allah akan jadikan dia dengan manusia indah :)


*dikutip dari status G+ Ustad Felix Siaw
ALAA   LAA .....

ALAA LAA .....

Judul ini bukanlah senandung orang yang lagi diliputi suasana senang.  Akan tetapi, judul ini adalah kutipan dari dua bait syi'ir. Kitab Ta'liimul Muta'allim menisbatkan dua bait itu kepada 'Ali bin Abi Thalib (Radhiyallahu 'anhu). Sementara dalam kitab Diwan Imam Syafi'i, dalam bab qafiyah nuun (syi'ir yang berakhiran huruf nun) dua bait syi'ir inipun ada, meskipun kata pembukanya bukanlah ALAA  LAA.

Dua bait syi'ir itu lengkapnya adalah sebagai berikut:

Ketahuilah, engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali setelah memenuhi enam syarat.
Yaitu: Kecerdasan, semangat, sabar dan pakai ongkos (biaya) Petunjuk (bimbingan) guru dan dalam tempo waktu yang lama.

Dalam berda'wah, ilmu merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar. Istilah Arabnya: syai-un la budda minhu (sesuatu yang mesti dan tan kena ora).

Allah swt berfirman : 
Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu'min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu. (QS Muhammad: 19).

Mengomentari firman Allah swt ini, Imam Bukhari berkata : Ilmu dulu sebelum berbicara dan berbuat

Sudah pasti, da'wah termasuk dalam al qaul dan al 'amal, karenanya, 'ilmu dalam da'wah adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Gerakan ta'allama (belajar) dan 'allama (pengajaran) harus gencar, mulai dari berbagai bentuk ta'lim; ada ta'lim fil masjid, ada ta'lim rutin, ada majlis ta'lim dan ada halaqah-halaqah ilmiyyah, baik di mushalla, ataupun rumah. Agar gerakan ta'allama dan 'allama ini sukses –bi idznillah- marilah kita bahas dua bait syi'ir yang dikemukakan oleh Imam Syafi'i di atas.

Dalam dua bait di atas, untuk sukses mendapatkan 'ilmu, Imam Syafi'i menyebutkan enam syarat, yaitu:

1. Dzaka' (kecerdasan). Kecerdasan ada dua macam; pertama: pemberian dari Allah swt (minhah) dan kedua: muktasab, dalam arti seseorang bisa menumbuh kembangkan dan mengupayakannya.
Sering-sering membaca buku, malu kita kalau tidak rajin membaca buku, jangan sampai kita terkena ejekan ummatu IQRA' LA TAQRA' (ummat yang wahyu pertamanya berbunyi IQRA' kok malah tidak MEMBACA).
Sering-seringlah menuliskan apa-apa yang anda baca, anda dengar dan anda saksikan. Belajarlah merapikan ide-ide dan pengetahuan anda. Tuangkanlah segala gagasan anda dalam bentuk tulisan. Ingatlah bahwa wahyu kedua yang turun kepada nabi Muhammad saw adalah surat AL QALAM (pena), sebagaimana pendapat yang paling kuat yang dipegang para ulama'. Dalam surat ini Allah swt bersumpah dengan AL QALAM dan APA YANG DITULISKAN OLEHNYA.
Biasakanlah mengikuti dan melakukan diskusi-diskusi ilmiyah, ya … ilmiyah, bukan diskusi penuh emosi, adu otot, debat kusir dan semacamnya, akan tetapi , sekali lagi, diskusi ilmiyah.
Ajarkanlah apa-apa yang telah anda ketahui kepada orang lain. Atau istilah para ulama': tunaikanlah zakat ilmu anda, sebab, dengan zakat ilmu ini, ilmu anda akan bersih (thahir) dan semakin tumbuh dan berkembang dengan lebih baik (tazkiyah). Kalau istilah guru kampung saya, ilmu itu ibarat api (sebenarnya yang lebih pas sih cahaya, nur, tapi nggak mengapa-lah), bila kita mempunyai api, lalu ada orang lain datang membawa kayu, dan ia meminta api kepada kita, maka api itu akan semakin besar dan semakin banyak.

2. Hirsh (semangat). Menurut saya, hirsh itu adalah hasil dari kesadaran, kesadaran akan kelemahan dirinya dalam ilmu pengetahuan, kesadaran bahwa dirinya mempunyai potensi untuk mendapatkan ilmu, kesadaran bahwa thalabul 'ilmi itu faridhah, kesadaran bahwa dirinya –sebagai da'i- mesti dan harus berbekal ilmu dan kesadaran bahwa dirinya termasuk dalam kategori orang-orang yang la yadri lakinnahu yadri annahu la yadri (tidak tahu, tetapi tahu bahwa dirinya tidak tahu), bukan orang-orang yang la yadri wala yadri annahu la yadri (tidak tahu, dan ia tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu), sebagaimana yang diungkapkan Imam Ghazali dalam kitab Ihya'-nya. Saudara dan saudariku yang dimulyakan Allah swt … Sebagai kader da'wah, kita tidak boleh kehilangan hirsh ini, jangan sampai kita datang ke majlis ta'lim untuk sekedar memenuhi buku kehadiran, atau karena pertimbangan daripada, daripada…kita harus datang ke majalisul 'ilmu karena sifat hirsh kita, dan dalam rangka memenuhi faridhah islamiyyah.

3. Ishthibar (penuh kesabaran). Ilmu adalah kesabaran, jangan banyak keluh kesah, jangan terburu-buru, dan jangan frustasi.

4. Bulghah (biaya, ongkos). Berbagai acara ta'lim yang sangat murah, bahkan gratis, artinya, persyaratan ini telah banyak dipangkas olehnya, karenanya, jangan kehilangan persyaratan lainnya.

5. Irsyadu Ustadz (petunjuk dan bimbingan guru). Menghidupkan kembali apa-apa yang ada pada salafush-saleh. Diantara yang ada pada mereka adalah adanya model-model QARA-A 'ALA (membaca kitab/ilmu dihadapan … ), SAMI-'A MIN (mendengar pembacaan kitab/ilmu dari …), AKHADZA 'AN (mengambil dalam arti mendapatkan kitab/ilmu dari …), HASHALAL IJAZATA MIN (mendapatkan ijazah atau ijin untuk mengajarkan kitab/ilmu dari …) dan seterusnya. Karenanya, kita semua harus menghidupkan kembali sunnah (jalan, dan metode) ini, sebab, salah satu tolok ukur ke-orisinil-an sebuah 'ilmu adalah diambil dari mana (siapa gurunya) dan siapa saja yang belajar kepadanya.

6. Thulu Zaman (dalam jangka waktu yang panjang). Janganlah mengandalkan hal-hal yang serba KILAT, kursus kilat, belajar cepat, dan semacamnya. Ingat, Rasulullah saw menerima Al Qur'an bukan dalam tempo cepat, padahal beliau adalah orang Arab, dari suku yang paling fasih bahasanya, dan beliau sangatlah cerdas dan masih banyak lagi kelebihan beliau, namun, beliau menerima Al Qur'an itu dalam tempo lebih dari dua puluh dua tahun (22 tahun lebih).

Dan akhirnya, semoga Allah swt senantiasa menambahkan ilmu kepada kita dan menjadikan semua ilmu kita itu bermanfa'at fid-diini wad-dun-ya wal akhirah, amiiin. 

Sumber : Ustad Musyaffa' Ahmad Rahim 


Lisankan Kebenaran Dengan Bersih Hati

Lisankan Kebenaran Dengan Bersih Hati

Lisankan kebenaran dengan hati yang bersih, tujuan yang mulia | dengannya, nasihat akan sampai ke hati, membekas pada jiwa

doakan saudara kita saat tak bersama, bahagiakan dia saat ada | maka malaikat yang mendoakan kita, lebih daripada yang kita minta

bantu mereka yang memerlukan, jangan mencela yang meminta | mudah-mudahan dengan itu jadi jalan Allah cukupkan keperluan kita
tutupi aib saudara, jauhi iri dengki, rendahkan hati terhadap nasihat | itu sumber ukhuwah, sumber ilmu, ketenangan hidup dan awalan taat

senangkan hati saudaramu, walau hanya sapa salam dan senyuman | Allah tak pernah anggap remeh sekecil apapun amalan kebaikan

membalas keburukan dengan keburukan itu sumber risau rusuh | menghilangkan orang yang mencintaimu dan menambah musuh

jangan merasa jumawa, lalu engkau merendahkan sesama Muslim | hati-hati dengan ikatan kelompok, yang memisahkanmu dari ikatan Islam

ilmu itu harusnya membuatmu rendah hati dan tinggi amalmu | bukan merendahkan orang dan meninggikan dirimu

agama itu harusnya membuatmu merasa bodoh di hadapan Allah, lalu taat | bukan membuatmu merasa lebih hebat dari Allah, lalu berani maksiat

dan iman itu membawamu mengecilkan dunia, membesarkan sang Pencipta | tenang jiwamu berbuat karena Allah, bukan mencari ridha manusia
*
La Tahzan...

La Tahzan...

Janganlah bersedih bila engkau dibenci | bersedihlah bila engkau yang membenci
 

Tidak mengapa bila engkau tak dicintai | sepanjang engkau masih bisa mencintai

Jangan merasa hina bila engkau tak diketahui | khawatirlah bila engkau yang tidak mengetahui

Tidak mengapa bila engkau bodoh, engkau masih bisa belajar | khawatirlah bila engkau malas belajar, karena sudah merasa pintar
 

Tidak mengapa hari ini gagal, kesempatan dunia datang berulang | jangan di akhirat menyesal, disana hanyalah tempat berpulang

Aku, kamu, kita dan mereka semua kelak akan mati | mungkin sebentar lagi, lalu apa gunanya mendengki?

Hidup mungkin hanya semisal shalat sehari semalam | diawali dengan agungkan Allah, diakhiri dengan salam

Siapa yang memperbaiki hubungan dengan Allah | Allah akan jadikan dia dengan manusia indah :)


*Felix Siauw
Sawang Sinawang

Sawang Sinawang

Jangan iri sama rezeki orang lain, cari tau gimana caranya bisa begitu | iri itu mematikan kreativitas, nyari tau caranya itu baik :)

Jangan dengki sama hidup orang, keliatannya aja sempurna padahal sama juga kayak kita | nasihat orang jawa, 'sawang-sinawang'  :D
Rezeki yang ada disyukuri, yang belum ada ya sabar dinanti | indah itu kadang ada di penantiannya, deg-degan gimana gitu.. hehe..
 

Lihat orang dapet yang baik-baik, kita doain "masyaAllah, laa quwwata illa billah" | sebut Allah, besok-besok jadi rezeki kita juga :D

Nginget Allah pas susah, biar nggak kaget pas dikasi Allah seneng | liat orang seneng ikut seneng, latihan kalo dapet seneng beneran :D

Jangan ngiri apalagi ngedumel, kalo kata ulama | "kalo nggak bisa saingin dunianya, saingin akhiratnya!" :D

Ujung-ujungnya, kita ini diinget bukan karena apa yang kita punya, tapi apa yang udah kita bagi | dan bagi sesuatu nggak harus duit, kan? :)

Bagi ide, bagi dakwah, bagi kebaikan | atau kalau kamu nggak punya apa-apa, bisa bagi senyum, atau berbagi kasih? (nikah)#eaa

Ya udah gitu aja, jangan ngiri, jangan dengki, apalagi sama-sama beriman | seneng liat yang seneng, itu baru orang Muslim, baru bener :) 


*dikutip dari tulisan felix siauw