NABI SAW dan Muslimin Indonesia

NABI SAW dan Muslimin Indonesia

Mau haji tapi harus antri 20 tahun adalah kejadian unik di akhir zaman. Mungkin sama sekali tidak terbayang akan terjadi seperti ini di masa kenabian dulu.

Lomba banyak-banyakan umat rupanya dimenangkan oleh Nabi Muhammad SAW. Dulu  Beliau SAW pernah bersabda :

Fainni mukatsirun bikumul umama yaumal qiyamah.

Dua sampai tiga juta manusia rutin ngumpul di Mekkah selama durasi kurang lebih 2-3 bulan, setiap tahun dan rutin tanpa henti.

Biar semua kebagian tempat, digilir dan diberi jatah. Satu negara hanya boleh kirim 1 orang dari setiap 1000 orang penduduk muslim. Itu kesepakatan hasil konferensi negara OKI. 

Dan Indonesia keluar sebagai juara pertama, sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, mengalahkan Saudi, India, Pakistan, Mesir, Iran dan lainnya.

Jatah kuota haji buat Indonesia paling besar dibandingkan semua negara lain. Tapi dengan kuota terbesar pun, kita tetap antri hingga 20 tahun? 

Betapa banyaknya umat Nabi Muhammad SAW di negeri ini. Alangkah bergembiranya Rasulullah SAW kalau tahu bahwa di ujung dunia yang teramat jauh dari tempat kelahiran Beliau, ada ratusan juta kaum muslimin yang setiap hari menyenandungkan shalawat atas Beliau.

Allahumma Shalli ala Muhammad . . .

Dan perkenan kaum muslimin Indonesia untuk berbahagia menyambut peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Sumber : FB Ustad Ahmad Sarwat 

Reaksi Orang Sholeh Ketika Melihat Penampakan

Reaksi Orang Sholeh Ketika Melihat Penampakan


NABI IBRAHIM
Dari Ibnu Abbas, beliau bercerita "Ketika Ibrahim berhaji, tiba-tiba Iblis menampakkan diri di hadapan beliau di jumrah Aqobah. Lalu Ibrahim MELEMPAR Iblis itu dengan 7 batu, hingga iblis masuk ke tanah. kejadian itu berulang 3 kali. Ibnu Abbas berkata : “Itulah Ajaran agama ayah kalian, yakni melempar Jumroh" (HR. Ibnu Khuzaimah & hakim)

NABI MUHAMMAD
Di suatu malam Rasulullah shalat, lalu Jin Ifrit menampakkan diri, lalu beliau berdoa "Aku berlindung kepada Allah", setelah itu beliau MENCEKIKNYA (HR Bukhari & Muslim)

UMAR BIN KHATAB
Seorang pria keluar kemudian bertemu dengan jin, tiba-tiba jin itu berkata, "Bertarunglah melawanku !". Maka mereka berdua BERDUEL, dan akhirnya jin itu dapat dikalahkan. Seseorang bertanya siapakah gerangan pria itu ? dijawab "Siapa lagi kalau bukan Umar bin Khattab" (Riwayat Thabrani)

KHALID BIN WALID
Khalid bin Walid R.a ditugaskan Nabi untuk menghancurkan berhala Uzza. Lalu beliau pergi ke sebuah kampung dan menemukan bahwa Uzza adalah Setan perempuan telanjang berambut acak-acakan, Khalid lalu MENIKAMNYA dengan pedang (HR Abu dawud)

AMMAR BIN YASIR
Ammar bin Yasir R.a mengambil air di sumur, lalu Setan menampakkan diri. Beliau bergulat dengan Setan itu dan MENGHANTAM hidungnya dengan batu (Riwayat Baihaqi)

IBNU ZUBAIR
Ibnu Zubair R.a meriwayatkan bahwa ia melihat sesosok jin laki-laki tapi tingginya hanya sejengkal (sekitar 30 cm). Lalu Ibnu Zubair bertanya : “Makhluk apa kamu ?” lalu Makhluk itu menjawab : “Saya Izib”. Ibnu Zubair bertanya lagi : “Apa itu Izib ?” Makhluk itu menjawab : “Izib ya Izib !”. Lalu makhluk itu DIPENTUNG Ibnu Zubair dengan tongkat sampai makhluk itu lari terbirit-birit. (Al-Syibli dalam Ahkam al Jan)

IMAM MUJAHID
Sesosok Jin pernah muncul mengganggu di depan Imam Mujahid, lalu beliau MENGEJARNYA sampai Jin itu jatuh. Beliau berkata "Kalau kamu takut, mereka akan menguasaimu. Untuk itu bersikap keraslah" (Riwayat Ibnu Abi Dunya)
.
“Sungguh, Setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah sebagai musuh” (QS. Fathir : 6)

Garbi, Gerakan Anak Muda Milenial

Garbi, Gerakan Anak Muda Milenial

Realitas tidak boleh kita baca dari apa yang nampak saja. Tetapi dari apa yang tidak tampak. Begitulah faktanya bahwa semua perubahan besar tidak pernah bisa kita prediksi.
Inikah yang membuat orang sulit berubah? Ya salah satunya.

Orang-orang kebanyakan menghadapi ketegangan dengan mekanisme “membela diri” bukan mentalitas “prediktif” sehingga dilanda air bah perubahan yang mereka tak pernah mengerti. Bak katak di bawah tempurung. Maka, membaca peta dunia ini (termasuk politik Indonesia yang sedang bergolak) janganlah menggunakan realitas fisik apa yang terjadi pada setiap kubu.



Hijrah nabi dari Makkah ke Madinah yang kemudian dijadikan tonggak tahun Baru Islam. Ada yang kita lupa bahwa peristiwa hijrah itu bukan soal merancang perubahan saja tapi soal niat. Ini soal hati. Ketika Nabi SAW mengajak hijrah fisik dari Makkah ke Madinah, beliau tidak saja sedang menyelamatkan sebuah gerakan baru, tetapi juga menyeleksi generasi baru.

Maka, jika sebuah masyarakat baru atau gerakan baru lahir dari niat tulus dan bersih, maka tidak ada yang akan menghalanginya untuk menjadi dominan dan membesar seperti Islam dari kota Madinah.

Mari kita bersama-sama wujudkan Gerakan Arah Baru Indonesia.


#Garbi
#Gerakanarahbaruindonesia
Beban Amanah dan Kesiapan Aktivis Islam

Beban Amanah dan Kesiapan Aktivis Islam

Bismillaahirrohmaanirrohiim, kita patut bergembira bahwa dari ke hari jumlah aktivis-aktivis Islam saat ini terus bertambah dan itu berarti bahwa distribusi beban dakwah perlahan-lahan mulai semakin merata. Walaupun begitu, memang masih ditemukan di sana-sini adanya pemusatan beban karena jumlah beban dengan pemikulnya belum terlalu seimbang.

Oleh karena itu para aktivis muslim sampai saat ini memang masih memikul beban yang sangat berat dan juga sangat banyak. Dan itu kadang-kadang melampaui jumlah waktu yang mereka miliki. Dari situ kemudian muncul berbagai persoalan, di antaranya adalah soal rasio produktivitas kita dalam bekerja, kemudian masalah efisiensi waktu, tetapi dua hal ini –rasio produktivitas dan efisiensi waktu- sama-sama terkait dengan kompetensi individu masing-masing aktivis.

  
beban amanah

 Kalau kita mengatakan rasio produktivitas, yang saya maksud adalah semestinya seorang aktivis Islam itu rasio produktivitasnya sebagai berikut, yaitu satu unit waktu sama dengan satu unit amal.
Sekarang, karena jumlah pekerjaan lebih banyak dari waktu yang kita miliki, maka kita harus memilih bahwa satu unit waktu sama dengan satu unit amal terbaik. Jadi kita selalu berorientasi kepada afdhalul amal, itulah kaidah yang menggabungkan antara rasio produktivitas yang tinggi dengan tingkat efisiensi.

Artinya efisiensi itu adalah fi’li amal pada setiap satu unit waktu. Tapi sekali lagi, itu kembali kepada kompetensi individu masing-masing. Dan jika bicara tentang kompetensi individu yang kita maksud adalah apakah individu itu atau aktivis muslim itu sudah merencanakan pengembangan dirinya yang maksimum. Sehingga bakat-bakat yang terpendam dalam dirinya, semuanya terpakai untuk dakwah. Sebab penelitian terhadap orang-orang besar yang pernah dilakukan di Amerika –seperti yang dikutip oleh Syaikh Muhammad Al Ghazali- mengatakan bahwa ternyata orang-orang besar yang pernah ada dalam sejarah hanya menggunakan 5-10 persen dalam total potensinya.

Untuk mencapai hal di atas, kita harus selalu berorientasi kepada penyatuan-penyatuan, pemaduan-pemaduan, pengharmonisan-pengharmonisan, dan mencoba meninggalkan kecenderungan pemisahan-pemisahan atau dikotomi, karena semua itu adalah kebajikan. Contoh: menuntut ilmu di kampus itu adalah kebaikan, berdakwah adalah juga kebaikan. Kita membutuhkan kedua-duanya sekaligus. Kita perlu ilmu supaya kita berdakwah dengan cara yang benar, dan kita harus berdakwah agar ilmu kita bermanfaat. Jadi, tidak ada alasan untuk memisah-misahkannya.

Persoalannya adalah persoalan manajemen, bagaimana mengelola waktu yang tersedia untuk mendapatkan hasil yang terbaik dari semua amal yang ada. Itu saja masalahnya!

Dikutip dari buku: Geliat Da’wah di Era Baru: Kumpulan Wawancara Da’wah.
Belajar Bersatu

Belajar Bersatu

Ketika kekalahan, tragedi, kelaparan, dan pembantaian mendera jasad Islam kita, kita selalu saja menyoal dua hal: konspirasi Barat dan lemahnya persatuan umat Islam. Tangan-tangan syetan Yahudi seakan merambah di balik setiap musibah yang menimpa kita. Dan kita selalu tak sanggup membendung itu, karena persatuan kita lemah.

Mari kita menyoal persatuan, sejenak, dari sisi lain. Ada banyak faktor yang dapat mempersatukan kita: aqidah, sejarah dan bahasa. Tapi semua faktor tadi tidak berfungsi efektif menyatukan kita. Sementara itu, ada banyak faktor yang sering mengoyak persatuan kita. Misalnya, kebodohan, ashabiyah, ambisi, dan konspirasi dari pihak luar.

Mungkin itu yang sering kita dengar setiap kali menyorot masalah persatuan. Tapi di sisi lain yang sebenarnya mungkin teramat remeh, ingin ditampilkan di sini.
Persatuan ternyata merupakan refleksi dari ’suasana jiwa’. Ia bukan sekedar konsensus bersama. Ia, sekali lagi, adalah refleksi dari ’suasana jiwa’. Persatuan hanya bisa tercipta di tengah suasana jiwa tertentu dan tak akan terwujud dalam suasana jiwa yang lain. Suasana jiwa yang memungkinkan terciptanya persatuan, harus ada pada skala individu dan jamaah.

Belajar bersatu-oaseiman.net

Tingkatan ukhuwwah (maratibul ukhuwwah) yang disebut Rasulullah SAW, mulai dari salamatush shadr hingga itsar, semuanya mengacu pada suasana jiwa. Jiwa yang dapat bersatu adalah jiwa yang memiliki watak ’permadani’. Ia dapat diduduki oleh yang kecil dan yang besar, alim dan awam, remaja atau dewasa. Ia adalah jiwa yang besar, yang dapat ’merangkul’ dan ’menerima’ semua jenis watak manusia. Ia adalah jiwa yang digejolaki oleh keinginan kuat untuk memberi, memperhatikan, merawat, mengembangkan, membahagiakan, dan mencintai.

Jiwa seperti itu sepenuhnya terbebas dari mimpi buruk ’kemahahebatan’, ’kamahatahuan’, ’keserbabisaan’. Ia juga terbebas dari ketidakmampuan untuk menghargai, menilai, dan mengetahui segi-segi positif dari karya dan kepribadian orang lain.

Jiwa seperti itu sepenuhnya merdeka dari ’narsisme’ individu atau kelompok. Maksudnya bahwa ia tidak mengukur kebaikan orang lain dari kadar manfaat yang ia peroleh dari orang itu. Tapi ia lebih melihat manfaat apa yang dapat ia berikan kepada orang tersebut. Ia juga tidak mengukur kebenaran atau keberhasilan seseorang atau kelompok berdasarkan apa yang ia ’inginkan’ dari orang atau kelompok tersebut.

Salah satu kehebatan tarbiyah Rasulullah SAW, bahwa beliau berhasil melahirkan dan mengumpulkan manusia-manusia ’besar’ tanpa satupun di antara mereka yang merasa
’terkalahkan’ oleh yang lain. Setiap mereka tidak berpikir bagaimana menjadi ’lebih besar’ dari yang lain, lebih dari mereka berpikir bagaimana mengoptimalisasikan seluruh potensi yang ada pada dirinya dan mengadopsi sebanyak mungkin ’keistimewaan’ yang ada pada diri orang lain.

Umar bin Khattab, mungkin merupakan contoh dari sahabat Rasulullah SAW yang dapat memadukan hampir semua prestasi puncak dalam bidang ruhiyah, jihad, qiyadah, akhlak, dan lainnya. Tapi semua kehebatan itu sama sekali tidak ’menghalangi’ beliau untuk berambisi menjadi ’sehelai rambut dalam dada Abu Bakar’. Sebuah wujud keterlepasan penuh dari mimpi buruk ’kemahahebatan’.

(Arsitek Peradaban; Anis Matta, Lc)
Lelaki Akhirat

Lelaki Akhirat

Kalau butir-butir kurma ini harus kutelan semua baru maju berperang… oh betapa jauh sungguh jarak antara aku dengan surga.”

Itulah ungkapan seorang sahabat ketika mendengar Rasulullah saw. bersabda menjelang berkecamuknya perang Badar: ” Majulah kalian semua menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi.”

Kecermelangan sahabat-sahabat Rasulullah saw, serta semua manusia Muslim agung yang pernah memenuhi lembaran sejarah kejayaan umat ini, sesungguhnya difaktori salah satunya oleh “hadirnya” akhirat dan semua makna yang terkait dengan kata ini dalam benak mereka setiap saat.


Lukisan kenikmatan surga meringankan semua beban kehidupan duniawi dalam diri mereka. Lukisan kenikmatan surga meringankan langkah kaki mereka menyusuri napak tilas perjuangan yang penuh onak dan duri. Tak ada duri yang sanggup menghentikan langkah mereka. Sebab duri itu justru memberinya kenikmatan jiwa saat jiwa duniawinya sedang bermandikan sungai surga. Lukisan kenikmatan surga melahirkan semua kehendak dan kekuatan yang terpendam dalam dasar kepribadiannya. Tak ada kehendak akan kebaikan yang tak menjelma jadi realita. Tak ada tenaga raga yang tersisa dalam dirinya, semua larut dalam arus karya dan amal.

Lukisan kedahsyatan neraka memburamkan semua keindahan syahwati dalam pandangan hatinya. Lukisan kedahsyatan neraka mematikan semua kecenderungan pada kejahatan. Sebab kejahatan itu sendiri telah berubah menjadi neraka dalam jiwanya, saat sebelah kakinya telah terjerembab ke dalam neraka dengan satu kejahatan, dan kaki yang satu akan menyusul dengan kejahatan kedua. Lukisan kedahsyatan neraka menghilangkan semua rasa kehilangan, kepahitan dan penyesalan dalam dirinya saat ia mencampakkan kenikmatan syahwati.

Lukisan surga dan neraka memberi mereka kesadaran yang teramat dalam akan waktu. Makna kehidupan menjadi begitu sakral, suci, dan agung ketika ia diletakkan dalam bingkai kesadaran akan keabadian. Kaki mereka menapak di bumi, tapi jiwa mereka mengembara di langit keabadian. Dari telaga keimanan ini mereka meneguk semua kekuatan jiwa untuk dapat mengalahkan hari-hari. Seperti apakah kenikmatan yang bisa diberikan syahwat duniawi kepadamu, jika engkau letakkan dalam neraka jiwamu. Sepeti apa pulakah kepahitan yang dapat diberikan penderitaan duniawi kepadamu, jika ia engkau simpan dalam surga jiwamu.

Lukisan surga dan neraka yang memenuhi lembaran surat-surat Makkiyah, terkadang dipapatkan Allah swt. dengan gaya ilmiah yang begitu logis. Sama seperti ia terkadang melukiskannya dengan gaya deskripsi, begitu sastrawi dan menyeni, seindah-indahnya atau semengeri-ngerikannya. Lukisan pertama menyentuh instrumen akal dan melahirkan ‘ al-yaqin ‘ akan kebenaran hari kebangkitan (akhirat). Lukisan kedua menyentuh hati dan selanjutnya diharapkan melahirkan ‘ khaufan wa thama’an ‘.

Begitulah al-iman bil yaumil akhir itu menjadi telaga tempat kita meneguk semua kekuatan jiwa untuk berkarya. Begitulah al-iman bil-yaumil akhir itu menjadi mesin yang setiap saat ‘ memproduksi ‘ watak-watak baru yang positif dan islami dalam struktur kepribadian kita.

Untuk ‘ memfungsikan ‘ keimanan ini seperti ini, kita harus ‘ menghadirkan ‘ maknanya setiap saat dalam benak dan hati kita. Sebab “… dari makna-makna kubur inilah akan lahir akal yang kuat dan tegar bagi sang kehendak “, kata Musthafa Shidiq Ar-Rafi’i.

Anis Matta,Lc Arsitek Peradaban
Krisis Umat dan Celah Pembebasan

Krisis Umat dan Celah Pembebasan

Apakah yang dilakukan sebuah ummat, ketika krisis menjadi hantu besar yang melingkupi semua sisi kebaikannya? Apakah yang mungkin dilakukan sebuah ummat, ketika sejarah menjadi begitu pelit untuk membuka pintu-pintu rumahnya, bagi umat itu untuk berteduh dari keterhimpitan yang menyengat tubuhnya? Apakah yang mungkin dilakukan sebuah ummat, ketika semua umat memusuhinya, dan apa yang ada hanya dirinya, sementara realitas dirinya sendiri justru menjadi anak panah di busur musuhnya?

Pertanyaan seperti ini seringkali hinggap dalam benak kita, para du’at dan Mushlihin. Dalam keadaan tanpa jawaban, sering pula kita kehilangan kesesimbangan jiwa, sesuatu yang kemudian menimbulkan rasa tidak berdaya (al’-ajz) dan merasa seakan realita dan tantangan lebih besar dari kapasitas internal kita menjawabnya, apalagi menyelesaikannya.

make things happen-oaseiman.net
Yang lebih parah lagi, rasa tidak berdaya itu kadang sampai begitu kuat, sehingga tanpa sadar kita bersikap negatif terhadap problema yang melingkupi kita, untuk kemudian mencoba melakukan langkah ‘pengunduran diri’ dari gelanggang kehidupan sosial (al-insihab al-ijtima’i). Terkadang pengunduran diri ini disertai sejumlah pembenaran rasional, setelah rasa tidak berdaya itu mendorong kita mempertanyakan beberapa aksioma ideologi dan prinsip perjuangan, yang mungkin dianggap terlalu ideal dan tidak mungkin dipertemukan dengan realita? Beginilah misalnya, kekalahan-kekalahan politik mendorong Nurcholish untuk menelorkan ide ‘Islam Yes, Partai Islam No’ pada tahun 1970-an.

Sesungguhnya itu tidak perlu terjadi, kalau saja kita mau merenungi kembali, bagaimana Allah SWT dalam Al Qur’an telah membuka begitu banyak celah pembebasan yang dibuka Allah SWT kepada kita, saat semua jalan masuk ke rumah sejarah telah tertutup.

Pertama, harapan. Harapan adalah matahari di langit jiwa. Tak ada sesuatu yang sangat kita butuhkan saat reruntuhan kekalahan menghimpit jiwa kita, selain harapan yang dapat mengembalikan rasa percaya diri kita untuk bangkit kembali. Begitulah Allah SWT mengembalikan harapan itu ke dalam jiwa sahabat-sahabat Rasulullah SAW, setelah kekalahan pada perang Uhud.
Allah SWT berfirman,
“Dan janganlah kamu merasa hina dan bersedih, sebab kamulah yang lebih tinggi (unggul) jika kamu beriman. Jika kamu tersentuh luka (musibah), maka luka (musibah) yang sama juga menimpa kaum yang lain. Dan begitulah hari-hari (kemenangan) kami pergilirkan diantara manusia.” (QS. Ali Imran : 140)

Dalam keadaan selemah apapun juga, ketika kita mendengar pernyataan sakral seperti itu, pasti ia akan mengembalikan kekuatan jiwa kita untuk melakukan lompatan ulang dalam sejarah. Pada ayat diatas, Allah SWT tidak sekedar memberi harapan, tapi juga menambah kekuatan harapan itu dengan membuka celah sejarah melalaui hokum ‘siklus menang-kalah’ dalam sejarah peradaban manusia sepanjang zaman.

Bahwa kekalahan dalam hukum itu, tidak boleh menjadi titik awal menuju kepunahan historis. Selalu ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahan pada lompatan awal, kedua, atau ketiga, dalam perjalanan sejarah. Watak sejarah, dengan begitu tidaklah niscaya (deter-minant), sebagaimana manusia yang tumbuh dari kecil, besar, tua, lalu mati. Sunnatut tadawul (hukum perputaran) itu memungkinkan ketuaan untuk sebuah peradaban dijungkirbalik menjadi kemudaan, sekaligus menghentikan, secara tiba-tiba, arus realitas ketuaan berjalan menuju muara kematian historis.

Kedua, taghyirul dzat (merubah diri). Bila celah sejarah pertama tadi meupakan celah ekstrem, maka celah sejarah kedua ini merupakan celah interen. Ada syarat-syarat internal yang harus dipenuhi untuk dapat memanfaatkan peluang historis tersebut. Yaitu merubah seluruh instrument kepribadian kita, mulai dari bagian terkecil, diri, hingga bagian terbesar, masyarakat. Pada diri pun dimulai dari instrument yang paling halus; hati, perasaan, emosi, akal hingga raga.

Allah SWT berfirman,
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaaan suatu kaum, kecuali bila kaum itu yang merubah apa-apa yang ada dalam dirinya.” (Q.S. Ar-Ra’du, 14-11).

Sesungguhnya pada dua celah sejarah ini, tersimpan kunci dinamika gerak sejarah kehidupan manusia, yang tak pernah mati hingga kiamat. Ini adalah ‘kemungkinan-kemungkinan’ yang dijadikan Allah SWT sebagai peluang bagi kita untuk hadir kembali di gelanggang sejarah. Masalahnya, maukah kita memanfaatkan peluang itu?

(diambil dari Arsitek Peradaban, tulisan Anis Matta, Lc)
13 Aurat Wanita yang Wajib Dijaga

13 Aurat Wanita yang Wajib Dijaga

Wanita memang diberkati oleh Allah dengan segala keindahan,tapi terkadang itu salah digunakan untuk membuat para pria tergoda dan terbayang.nah apa saja 13  Aurat Wanita tersebut?


1. Bulu kening (Alis)
Menurut Bukhari, Rasullulah melaknat perempuan yang mencukur atau menipiskan bulu kening atau meminta supaya dicukurkan bulu kening
(Petikan dari Hadits Riwayat Abu Daud Fi Fathil Bari)


2. Kaki (tumit kaki) semacam hantu loceng
Dan janganlah mereka (perempuan) membentakkan kaki (atau mengangkatnya) agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan
(Petikan dari Surah An-Nur Ayat 31. Keterangan : Menampakkan kaki dan mengayunkan/ melenggokkan badan mengikut hentakan kaki terutamanya pada mereka yang mengikatnya dengan loceng, sama juga seperti pelacur dizaman jahiliyah)


3. Wangi-wangian
Siapa saja wanita yang memakai wangi-wangian kemudian melewati suatu kaum supaya mereka itu mencium baunya, maka wanita itu telah dianggap melakukan zina dan tiap-tiap mata ada zinanya terutamanya hidung yang berkumpul itu kata orang sekarang hidung belang
(Petikan dari Hadits Riwayat Nasa’i, Ibn Khuzaimah dan Hibban)


4. Dada
 Hendaklah mereka (perempuan) melabuhkan kain tudung hingga menutupi bagian depan dada-dada mereka
(Petikan dari Surah An-Nur Ayat 31)


5. Gigi
Rasullulah melaknat perempuan yang mengikir (pangur) gigi atau meminta supaya dikikirkan giginya
(Petikan dari Hadits Riwayat At-Thabrani, Dilaknat perempuan yang menjarangkan giginya supaya menjadi cantik, yang merubah ciptaan Allah – Petikan dari Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)


6. Leher
Dan tinggallah kamu (perempuan) di rumah kamu dan janganlah kamu menampakkan perhiasanmu seperti orang jahilliah yang dahulu
Keterangan : Bersolek (make-up) dan menurut Maqatil sengaja membiarkan ikatan tudung yang menampakkan leher seperti orang Jahilliyah.


7. Membayang Anggota Tubuh
Asma Binti Abu Bakar telah menemui Rasullulah dengan memakai pakaian yang tipis. Sabda Rasullulah: Wahai Asma! Sesungguhnya seorang gadis yang telah berhaid tidak boleh baginya menampakkan anggota badan kecuali telapak tangan dan wajah saja
(Petikan dari Hadits Riwayat Muslim dan Bukhari)

8. Berjabat Tangan
Sesungguhnya kepala yang ditusuk dengan besi itu lebih baik daripada menyentuh kaum yang bukan sejenis yang tidak halal baginya
(Petikan dari Hadits Riwayat At Tabrani dan Baihaqi)

9. Memandang
Dan katakanlah kepada perempuan mukmin hendaklah mereka menundukkan sebahagian dari pemandangannya
(Petikan dari Surah An Nur Ayat 31. Keterangan sabda Nabi Muhamad SAW, Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya. Kamu hanya boleh pandangan yang pertama saja manakala pandangan seterusnya tidak dibenarkan hukumnya haram – Petikan dari Hadits Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi)

10. Mulut (suara)
Janganlah perempuan-perem -puan itu terlalu mendayu-dayu dalam berbicara sehingga orang yang mendengarkan ada perasaan serong dalam hatinya, tetapi ucapkanlah perkataan-perka -taan yang baik
(Petikan dari Surah Al Ahzab Ayat 32)

11. Kemaluan
Dan katakanlah kepada perempuan-perem -puan mukmin, hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kehormatan mereka
(Petikan dari Surah An Nur Ayat 31)

Apabila seorang perempuan itu sholat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya dan mentaati suaminya, maka masuklah ia ke dalam Surga dari pintu-pintu yang ia kehendakinya
(Petikan dari Hadits Riwayat Riwayat Al Bazzar)
Tiada seorang perempuanpun yang membuka pakaiannya bukan di rumah suaminya, melainkan dia telah membinasakan tabir antaranya dengan Allah
(Petikan dari Hadits Riwayat Tirmidzi, Abu Daud dan Ibn Majah)

12. Pakaian
Barangsiapa memakai pakaian yang berlebih-lebiha -n terutama yang menyolok mata , maka Allah akan memberikan pakaian kehinaan di hari akhirat nanti
(Petikan dari Hadits Riwayat Ahmad, Abu Daud , An Nasa’i dan Ibn Majah)
(Petikan dari Surah Al Ahzab Ayat 59. Keterangan : Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka memakai baju jilbab dan longgar, yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali. Dan karena itu mereka tidak diganggu. Allah maha Pengampun lagi maha Penyayang)

Sesungguhnya sebagian ahli Neraka ialah perempuan-perem -puan yang berpakaian tetapi telanjang yang cenderung pada maksiat dan menarik orang lain untuk melakukan maksiat. Mereka tidak akan masuk Surga dan tidak akan mencium baunya
(Petikan dari Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim. Keterangan : Wanita yang berpakaian tipis/jarang, ketat/ -membentuk dan berbelah/ -membuka bahagian-bahagi -an tertentu)

13. Rambut
Wahai anakku Fatimah! Adapun perempuan-perem -puan yang akan digantung rambutnya hingga mendidih otaknya dalam Neraka adalah mereka itu di dunia tidak mau menutup rambutnya dari pandangan/ -dilihat oleh lelaki yang bukan mahramnya
(Petikan dari Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)


Mati Layaknya Keledai

Mati Layaknya Keledai

Kisah ini terjadi di Universitas 'Ain Syams, fakultas pertanian di Mesir. Sebuah kisah yang amat masyhur dan dieksposs oleh berbagai media massa setempat dan sudah menjadi buah bibir orang-orang di sana.

Pada tahun 50-an masehi, di sebuah halaman salah satu fakultas di negara Arab (Mesir-red.,), berdiri seorang mahasiswa sembari memegang jamnya dan membelalakkan mata ke arahnya, lalu berteriak lantang, "Jika memang Allah ada, maka silahkan Dia mencabut nyawa saya satu jam dari sekarang!."

Ini merupakan kejadian yang langka dan disaksikan oleh mayoritas mahasiswa dan dosen di kampus tersebut. Menit demi menitpun berjalan dengan cepat hingga tibalah menit keenampuluh alias satu jam dari ucapan sang mahasiswa tersebut. Mengetahui belum ada gejala apa-apa dari ucapannya, sang mahasiswa ini berkacak pinggang, penuh dengan kesombongan dan tantangan sembari berkata kepada rekan-rekannya, "Bagaimana pendapat kalian, bukankah jika memang Allah ada, sudah pasti Dia mencabut nyawa saya?."

Para mahasiswapun pulang ke rumah masing-masing. Diantara mereka ada yang tergoda bisikan syaithan sehingga beranggapan, "Sesunguhnya Allah hanya menundanya karena hikmah-Nya di balik itu." Akan tetapi ada pula diantara mereka yang menggeleng-gelengkan kepala dan mengejeknya.

 
Sementara si mahasiswa yang lancang tadi, pulang ke rumahnya dengan penuh keceriaan, berjalan dengan angkuh seakan dia telah membuktikan dengan dalil 'aqly yang belum pernah dilakukan oleh siapapun sebelumnya bahwa Allah benar tidak ada dan bahwa manusia diciptakan secara serampangan; tidak mengenal Rabb, tidak ada hari kebangkitan dan hari Hisab. Dia masuk rumah dan rupanya sang ibu sudah menyiapkan makan siang untuknya sedangkan sang ayah sudah menunggu sembari duduk di hadapan hidangan. Karenanya, sang anak ini bergegas sebentar ke 'Wastapel' di dapur. Dia berdiri di situ sembari mencuci muka dan tangannya, kemudian mengelapnya dengan tissue. Tatkala sedang dalam kondisi demikian, tiba-tiba dia terjatuh dan tersungkur di situ, lalu tidak bergerak-gerak lagi untuk selama-lamanya.

Yah…dia benar-benar sudah tidak bernyawa lagi. Ternyata, dari hasil pemeriksaan dokter diketahui bahwa sebab kematiannya hanyalah karena ada air yang masuk ke telinganya!!.

Mengenai hal ini, Dr.'Abdur Razzaq Nawfal -rahimahullah- berkata, "Allah hanya menghendaki dia mati seperti keledai!."

Sebagaimana diketahui berdasarkan penelitian ilmiah bahwa bila air masuk ke telinga keledai atau kuda, maka seketika ia akan mati?!!!.

(Sumber: Majalah "al-Majallah", volume bulan Shafar 1423 H sebagai yang dinukil oleh Ibrahim bin 'Abdullah al-Hâzimiy dalam bukunya "Nihâyah azh-Zhâlimîn", Seri ke-9, h.73-74)

Bersiap Kehilangan Guru dan Rekan Terbaik Kita

Bersiap Kehilangan Guru dan Rekan Terbaik Kita

“Jika dulu kita sering dengar kabar baik tentang ikhwah kita seperti baru menikah, lahiran anak, sukses jadi Aleg, lancar usahanya. Maka kini kita harus sudah terbiasa mendengar kata sedih seperti kabarnya sakit si fulan/ah, bangkrutnya usaha ikhwah ini, dan agak sering kabar duka tentang wafatnya ustadz dan para ikhwah kita”

Di suatu malam sendu, saya tercenung. Iya juga ya dalam hati.. jika dulu ustadz/ah masih pada muda. Kini wajah mereka menua, jalannya sudah pelan – pelan, dan sering kabar sakit berseliweran di grup – grup koordinasi.

Jika dulu kita ingat wajah sumringah.. berbarengan dengan anak – anak kecil lari berhamburan.. kini kita lihat, uban sudah memutih.. tongkat atau kursi roda sudah mulai digunakan.. bicaranya sudah pelan.. dan sambil mengingat – ingat tempo dulu yang terasa cepat, tak sadar kini ustadz/dzah kita menua.
ustad-hilman-rosyad

Saya berpikir, kita sudah berada di fase kedewasaan. Jika mengikuti pola grafik trend life of cycle. Generasi dakwah ini di Indonesia pada tahapan mature. Umur dakwahnya sudah mulai establish, akar – akar ideologisnya sudah mengakulturasi pada budaya bangsa itu sendiri. Coba kita lihat trend busana hijab, tren pelatihan dan seminar dakwah, sampai demonstrasi Palestina sudah bukan milik jamaah ini lagi, namun sudah menjadi bagian milik bangsa besar ini.

Dulu kita mudah mengenali mana akhwat mana muslimah umum. Sekarang, para wanitanya sudah jamak menggunakan gamis tertutup dan hijab lebar, sampai kadang salah tebak bertanya “Mbak, Liqo dimana?” Mbak itu pun tersenyum “Liqo, apa itu? Saya ngaji di mana2.. seringnya sih di youtube, hehe.. kebetulan ikut ODOJ, trus temen satu grup jual hijab bagus bgni ya ada rezeki beli, alhamdulillah”

Jika dulu sekolah – sekolah IT (islam terpadu) di dominasi anak – anak temen pengajian, sekarang sudah masyarakat umum mulai dari pengusaha, karyawan asing, sampai anak Tentara, hehe.. beneran.. kalau ditanya kenapa sekolahin anaknya di Sekolah Islam Terpadu? Katanya mereka seneng lihat anak – anak muridnya punya sikap yang baik, bisa rajin ibadah, dan terpenting bisa dipercaya untuk titip anak, hehe.. well, beragam motivasinya, tetapi memiliki harapan yang sama, ingin anaknya jadi orang terbaik.

Saya memahami, beginilah dakwah jika sudah mengalkulturasi. Sensitivitas partisan memudar seiring berjalannya waktu, bahwa dakwah ini cocok dengan karakteristik bangsa ini, dan diterima sebagai bagian dari nilai – nilai masyarakat.

Maka tuntaslah tugas para asabiqunal awwalun kita, para masayaikh yang memulai dakwah ini dalam fase awal – awalnya yang kritis. Dicurigai, di inteli, dan nyaris di labeli terlarang. Dakwah ini dan dakwah islam yang lebih luas alhamdulillah berada pada titik kebebasannya yang optimum. Dengan perjuangan di legislatif juga di eksekutif, kini tak ada orang atau pihak manapun untuk melarang orang berdakwah dan menyampaikan ajaran islam. Bahkan, ajaran islam kini menggeliat di kantor – kantor hingga di kedinasan, bahkan terakhir aturan seragam hijab TNI dan Polri di sosialisasikan untuk mengakomodir para muslimah yang bekerja di institusi tersebut, sebuah issue yang sulit dibayangkan implementasinya puluhan tahun lalu.

Kini, saya menatapi satu persatu foto para pejuang dakwah ini, di antara foto – foto para kader yang juga sudah wafat satu per satu. Kita tidak mengenal mereka mungkin lebih detail, namun kita bisa rasakan karyanya bagi umat ini. Mungkin inilah amal jariyah yang tak terputus hingga alam kubur, yakni ilmu yang bermanfaat. Para asatidz kita yang mendahului kita ini, usianya memang pendek, namun insya Allah karyanya bagi eksistensi dakwah akan melampaui usia biologis mereka. Benarlah janji Allah bahwa masing – masing umat memiliki Rijal – nya.. pemimpinnya.. dan benarlah janji Allah, bahwa kesudahan bagi orang – orang yang istiqomah menyerukan kebaikan siang dan malam.. akan Allah akhirkan dengan akhir yang baik.. Husnul Khatimah..

Mengutip ucapan Ustadz Tifatul Sembiring.. “Selamat Jalan guru kami. Sesungguhnya kita tidak berpisah, kita hanya sedang mempersiapkan sebuah pertemuan yang kekal”
Bersiap tentang Kabar duka selanjutnya, namun bersiap juga tentang kabar gembira serta kemenangan pada akhirnya.. aamiin

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا ۙ قَالُوا هَٰذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ ۖ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا ۖ وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ ۖ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka berkata, “Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu.” Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa. Dan di sana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya.

-Surat Al-Baqarah, Ayat 25

Bekasi, 15 Januari 2018

Muhammad Ilham

sumber : ngelmu.co

Tiga Kenikmatan Hidup

Tiga Kenikmatan Hidup

Barangsiapa yang di pagi hari sehat badannya, tenang jiwanya dan dia mempunyai makanan di hari itu, maka seolah-olah dunia ini dikaruniakan kepadanya (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Untuk memahami lebih dalam tentang apa yang dimaksud oleh Rasulullah Saw, hadits di atas perlu kita pahami dengan baik.

Badan Sehat

Badan yang sehat merupakan suatu kenikmatan tersendiri bagi manusia yang tidak ternilai harganya, rasanya tidak ada artinya segala sesuatu yang kita miliki bila kita tidak memiliki kesehatan jasmani. Apa artinya harta yang berlimpah dengan mobil yang mahal harganya, rumah yang besar dan bagus, kedudukan yang tinggi dan segala sesuatu yang sebenarnya menyenangkan untuk hidup di dunia ini bila kita tidak sehat. Oleh karena kesehatan bukan hanya harus dibanggakan dihadapan orang lain, tapi yang lebih penting lagi adalah harus disyukuri kepada yang menganugerahkannya, yakni Allah Swt.


Kesehatan badan bisa diraih dengan mencegah dari segala penyakit yang akan menyerang tubuh dan mengatur segala keseimbangan yang diperlukannya. Oleh karena itu tubuh manusia punya hak-hak yang harus dipenuhi, diantara hak-hak itu adalah bersihkan jasmani bila kotor, makan bila lapar, minum bila haus, istirahat bila lelah, lindungi dari panas dan dingin, obati bila terserang penyakit, dll. Ini merupakan salah satu bentuk dari rasa syukur kepada Allah yang harus kita tunjukkan. Bentuk syukur yang lain adalah memanfaatkan kesehatan jasmani dengan segala kesegaran dan kekuatannya untuk melakukan berbagai aktivitas yang menggambarkan pengabdian kita kepada Allah Swt.

Namun yang amat disayangkan dan ini diingatkan betul oleh Rasulullah Saw adalah banyak manusia yang lupa dengan kondisi kesehatannya. Saat sehat ia tidak mencegah kemungkinan datangnya penyakit, tidak memenuhi hak-hak jasmani dan tidak menggunakan kesehatannya itu untuk melakukan aktivitas pengabdian kepada Allah sehingga pada saat sakit, barulah ia menyesal dengan penyesalan yang sangat dalam, Rasulullah Saw bersabda:

Ada dua nikmat yang sering dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang (HR. Bukhari).

Jiwa Yang Tenang

Hal yang tidak kalah pentingnya dari badan yang sehat adalah jiwa yang tenang, sebab apa artinya manusia memiliki jiwa yang sehat bila jiwanya tidak tenang, bahkan badan yang sakit sekalipun tidak menjadi persoalan yang terlalu memberatkan bila dihadapi dengan jiwa yang tenang, apalagi ketenangan jiwa bila menjadi modal yang besar untuk bisa sembuh dari berbagai penyakit.

Jiwa yang tenang adalah jiwa yang selalu berorientasi kepada Allah Swt, karena itu, orang yang ingin meraih ketenangan hidup dijalani kehidupan dengan segala aktivitasnya karena Allah, dengan ketentuan yang telah digariskan Allah dan untuk meraih ridha dari Allah Swt. Dengan demikian, sumber ketenangan hidup bagi seorang muslim adalah keimanan kepada Allah Swt dan ia selalu berdzikir kepada Allah dengan segala aplikasinya, Allah Swt berfirman yang artinya: Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram (tenang) dengan mengingat Allah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenang (QS 13:28).

Oleh karena itu, keimanan kepada Allah yang merupakan sumber ketenangan akan membuat seorang muslim merasa senang untuk mendapatkan beban-beban berat dan tidak ada kegelisahan sedikitpun di dalam hatinya dalam menjalankan tugas-tugas yang berat itu. Abu Na’im dan Ibnu Hibban meriwayatkan bahwa para sahabat Nabi bahu-membahu membawa satu persatu batu bata yang besar untuk membangun masjid. Tapi Ammar bin Yasir justeru membawa dua tumpukan batu bata besar. Ketika Nabi melihatnya, beliau membersihkan debu dari kepala Ammar sambil bersabda: “Wahai Ammar, tidakkah cukup bagimu untuk membawa seperti yang dilakukan para sahabatmu?”. Ammar menjawab: “Saya mengharapkan pahala dari Allah”. Lalu Nabi bersabda: “Sesungguhnya Ammar memiliki keimanan yang penuh dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya atau tulangnya”.

Disamping itu, seandainya kematian akan menjemput dirinya, keimanan kepada Allah dengan segala aplikasinya tidak akan membuat seorang muslim takut kepada mati, bahkan ia akan sambut kematian itu dengan jiwa yang tenang, Allahpun memanggilnya dengan panggilan yang menyenangkan: Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku (QS 89:27-30).

Dengan demikian, jiwa yang tenang membuat kehidupan manusia bisa dijalani dengan sebai-baiknya dan memberi manfaat yang besar, tidak hanya bagi dirinya tapi juga bagi orang lain, sedangkan kematiannya justeru akan menjadi kenangan manis bagi orang yang hidup dan ia akan mendapatkan kebahagiaan yang hakiki dengan masuk ke dalam surga dengan segala kenikmatan yang tiada terbayangkan.

Makanan Yang Cukup

Makanan, termasuk di dalamnya adalah minuman merupakan kebutuhan yang sangat pokok dalam kehidupan manusia. Kesehatan manusia tidak bisa dipertahankan bila ia tidak makan dan tidak minum, bahkan tidak sedikit orang yang semula memiliki kekuatan iman tidak bisa lagi dipertahankan keimanannya karena lapar, sedangkan bila situasinya sangat darurat, seorang muslimpun terpaksa harus memakan sesuatu yang pada dasarnya haram untuk dimakan, namun apakah seorang muslim bisa untuk berlama-lama dalam situasi darurat?.

Oleh karena itu, memiliki makanan yang cukup atau perekonomian yang memadai merupakan suatu kenikmatan tersendiri dalam hidup ini, sedangkan bila kondisi kehidupan seseorang dalam keadaan lapar, dan ia tidur dalam keadaan yang demikian, maka hal itu merupakan sesuatu yang sangat jelek, karenanya Rasulullah Saw selalu berdo’a sebagaimana terdapat dalam hadits:

Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari lapar, karena ia adalah teman tidur yang paling jelek (HR. Abu Daud, Nasa’i, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

Untuk bisa memenuhi kebutuhan pangan, seorang muslim sangat dituntut untuk mencari nafkah, baik untuk diri maupun keluarganya, apalagi bila ia bisa membantu orang lain seperti anak yatim, fakir miskin dan sebagainya. Itu sebabnya, orang yang mencari nafkah secara halal dan terhormat (bukan dengan cara mengemis atau meminta-minta) sangat dimuliakan oleh Allah Swt. Karenanya setiap muslim harus bersungguh-sungguh dalam mencari nafkah guna memenuhi kebutuhannya. Bila sudah terpenuhi dan selalu bisa dipenuhi kebutuhan nafkah diri dan keluarganya, maka hal ini merupakan suatu kenikmatan dalam kehidupan dan iman bila dipertahankan dan ditingkatkan kualitasnya pada masa-masa mendatang. Paling tidak, salah satu faktor yang membuat seseorang bisa menjadi kufur telah teratasi.

Demikian tiga faktor penting yang membuat manusia bisa dikatakan memperoleh kenikmatan dalam hidupnya di dunia yang sangat berpengaruh pada upaya memperoleh kenikmatan di akhirat kelak.
Perjalanan Taubat Cicit Iblis

Perjalanan Taubat Cicit Iblis

Perjalanan Taubat Cicit Iblis _laknatulloh_


Oleh : Nadhif Khalyani ( Founder RLC Indonesia )



Cicit Iblis ini bernama Hamah bin Ahyam bin Aqyas bin Iblis.

Dia punya andil dalam terbunuhnya Habil, lalu dia menggoda umat Nabi Nuh hingga nabi Nuh menangis sedih. Dan ia pun ikut sedih menyaksikan kesedihan nabi Nuh.


Lalu dia meminta nasihat pada nabi Nuh tentang cara bertobat.

Beliau ajarkan taubat pada Hamah.

Tapi dia ulangi kesalahan dengan menggoda ummat nabi Hud, hingga nabi Hud sedih dan menangis. Ia pun menangis melihat kesedihan nabi Hud.

Hamah bin Aqyas melanjutkan perjalanan taubatnya, hingga bertemu Nabi Ya'qub, Nabi Yusuf. Ia juga belajar Taurat kepada Nabi Musa.

Nabi Musa mengatakan padanya, jika kau bertemu Isa bin Maryam, sampaikan salam ku padanya.

Ia pun bertemu nabi Isa, nabi Isa berkata, jika kau bertemu dg Muhammad shalallahu alaihi wasallam, _sampaikan salamku padanya._

Hamah bertemu dg Rasulullah, dia menangis.

"Wahai Rasulullah, ajarkan kepada seperti Musa mengajarkan Taurat kepadaku."

Rasulullah mengajarkan kpd Jamah, surah Waqiah, surah Murasalat, surah An Naba, surah At takwir, Al Ikhlas, Al Falaq Annas.

Hadits ini memiliki beberapa jalur periwayatan hingga sampai derajat Hasan.

Di riwayat lain, dr  Aisyah, Nabi berkata bahwa sesungguhnya *Hamah bin Aqyas berada dalam syurga.*

Selengkapnya kisah ini bisa di lihat di buku ini :
_Lutqath Al Marjan Fil Ahkamil Jann, Imam Jalaluddin Suyuthi_(hal 62-63, terjemahan)

------

Wahai bangsa jin yg telah menghabiskan waktu dalam kesesatan dan berjuang untuk keburukan....... bertaubatlah.

Sungguh, diantara pendahulu kalian telah kembali pada jalan Alloh.

Ampunan dan rahmat-Nya sangatlah luas

Ebook Ruqyah Syar'iyyah
Buku ini, mengajak anda berfikir dan meracik senjata sendiri untuk meluluhlantakkan sihir
yang mencuri kebahagiaan keluarga dan kehidupan Anda..
Download Disini
Ruqyah Syar'iyyah
Terapi Gangguan Jin
Terapi Gangguan Sihir
Thibbun Nabawi
Pengobatan Sunnah
Hukum Mandi dengan Air yang diruqyah di Toilet/Bathroom

Hukum Mandi dengan Air yang diruqyah di Toilet/Bathroom


Ditanyakan kpd fadhilah syaikh Abdul 'Aziz bin Baaz rahimahuLLaah: "Bolehkah mandi dg air yg dibacakan (bacaan ruqyah) di toilet?". Maka jawab beliau: (Iya, mandi dg air yg dibacakan di kamar mandi itu Nggak apa-apa).



Ditanyakan kpd fadhilah syaikh Muhammad bin Shaalih al-'utsaimin rahimahuLLaah: "Bolehkah wanita haidh mandi dengan air ruqyah?", maka beliau menjawab: "Ya, Sy tdk 'melihat' hal tsb sebagai masalah, krn air ruqyah itu bukanlah tulisan Al-Quran dan bukan juga sesuatu yang dianggap dihormati (bagian) dari Al-Quran. Sesungguhnya itu (air ruqyah) itu liur/ludahnya si pembaca yg memberi pengaruh dg izin ALLaah 'azza wa jalla.

Ditanyakan kpd fadhilah syaikh al-muhaqqiq Shaalih bin Abdul 'Aziz Aalu Syaikh: "Apa hukumnya mandi dg air zam-zam dan air yg dibacakan Al-Qur'an di Toilet?", Beliau menjawab: "Itu tidak masalah, krn air itu bukan Al-Quran yang ditulis dan tidak ada di dalamnya mushaf tertulis. Sebetulnya isi di dalamnya adalah (tiupan) ludah dan udara yang mengandung (bercampur) mushaf (quran) atau bacaan.

Dan sebagaimana sudah dimaklumi bhw warga Makkah di era awal dulu, mereka selalu menggunakan air zam zam (utk berbagai keperluan) yg ketika itu bagi mrk nggak ada air lagi selain air zam zam. Maka yg tepat adalah: Tidak ada persoalan (mandi dg air zam zam di toilet/kamar mandi), itu adalah sesuatu yang boleh dilakukan

Ebook Ruqyah Syar'iyyah
Buku ini, mengajak anda berfikir dan meracik senjata sendiri untuk meluluhlantakkan sihir
yang mencuri kebahagiaan keluarga dan kehidupan Anda..
Download Disini
Ruqyah Syar'iyyah
Terapi Gangguan Jin
Terapi Gangguan Sihir
Thibbun Nabawi
Pengobatan Sunnah
Konsekuensi Tauhid

Konsekuensi Tauhid

Tauhid diambil kata dalam bahasa Arab: wahhada-yuwahhidu-tawhid[an]; artinya mengesakan atau menunggalkan. Tauhid satu suku kata dengan kata wâhid (satu) atau kata ahad (esa). Dalam ajaran Islam tauhid berarti keyakinan akan keesaan Allah SWT. Kalimat tauhid ialah kalimat Lâ ilâha illalLâh yang berarti: Tidak ada Tuhan selain Allah. Demikian sebagaimana ditegaskan oleh Allah SWT sendiri dalam firman-Nya:

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ

Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan selain Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (TQS al-Baqarah [2]: 163).


Islam adalah satu-satunya agama tauhid. Artinya, tidak ada agama tahuid selain Islam. Memang, agama Yahudi dan Nasrani sebelumnya juga merupakan agama tauhid. Namun, pada perkembangan selanjutnya, kedua agama ini menyimpang dari ajaran aslinya. Yahudi, misalnya, berpendapat bahwa Uzair adalah anak Allah SWT. Kristen pun berpendapat bahwa Isa al-Masih itu anak Allah SWT. Inilah yang dicela secara tegas oleh Allah SWT dalam al-Quran:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

Orang-orang Yahudi berkata, "Uzair itu anak Allah." Orang-orang Nasrani berkata, "Al-Masih itu putra Allah." Demikianlah ucapan mereka dengan mulut-mulut mereka. Mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah melaknat mereka. Bagaimana mereka sampai berpaling? (TQS at-Taubah [9]: 30).

Dengan demikian agama Yahudi maupun Kristen telah mengalami distorsi (penyimpangan) luar biasa dalam tauhid. Wajarlah jika Allah SWT menegaskan bahwa para penganut agama Nasrani (Kristen) adalah kafir:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ

Sungguh telah kafirlah orang-orang yang berpendapat bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga. Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Maha Esa (TQS al-Maidah [5]: 73).

Berdasarkan ayat di atas, konsep trinitas dalam Kristen jelas menyalahi konsep tauhid dalam Islam.

Selain para penganut Kristen, Allah SWT pun memvonis kafir para penganut agama Yahudi maupun kaum musyrik.

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

Sungguh orang-orang kafir itu—baik Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani) maupun kaum musyrik—berada di Neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka adalah manusia yang paling buruk (TQS al-Bayyinah [98]: 6).

Karena itu siapapun yang menganggap sama konsep trinitas—atau konsep-konsep dalam keyakinan agama lain—dengan konsep tauhid jelas telah menyimpang dari ketentuan Allah SWT dalam al-Quran. Padahal jangankan manusia secara umum, Rasulullah saw.—yang notabene kekasih Allah SWT—pun “diancam” dengan ancaman keras seandainya beliau memiliki pendapat yang menyimpang dengan apa yang telah Allah SWT gariskan dalam al-Quran.

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ . لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ . ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ  .فَمَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ . وَإِنَّهُ لَتَذْكِرَةٌ لِلْمُتَّقِينَ.  وَإِنَّا لَنَعْلَمُ أَنَّ مِنْكُمْ مُكَذِّبِينَ

Andai Muhammad mengada-adakan sebagian perkataan atas nama Kami, niscaya Kami benar-benar akan memegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami akan memotong urat tali jantungnya. Sekali-kali tidak ada seorang pun dari kalian yang dapat menghalangi (Kami) dari pemotongan urat nadi itu. Sungguh al-Quran itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Sungguh kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kalian ada orang yang mendustakan al-Quran (TQS al-Haqqah [69]: 41-48).

Konsekuensi Tauhid

Ada beberapa konsekuensi tauhid yang harus dipegang teguh oleh setiap Muslim antara lain. Pertama, setiap Muslim harus meyakini betul, tanpa ragu, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah (Lâ ilâha illâlLâh); sekaligus mengingkari thâghût (segala sesuatu selain Allah SWT). Inilah yang Allah SWT tegaskan dalam al-Quran:

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Siapa saja yang mengingkari thâghût dan mengimani Allah, ia berarti telah berpegang pada tali yang amat kuat, yang tidak akan terputus (TQS al-Baqarah [2]: 256).

Seorang Muslim haram menyekutukan Allah SWT atau mengadakan tandingan bagi Diri-Nya. Allah SWT berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ

Di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan yang mereka cintai seperti mereka mencintai Allah (TQS al-Baqarah [2]: 165).

Rasulullah saw. juga menegaskan:

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَجْعَلُ لِلَّهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ

Siapa saja yang mati, sementara dia mengadakan tandingan bagi Allah, dia masuk neraka (HR Abu Dawud).

Kedua, setiap Muslim wajib mengikhlaskan setiap aktivitas atau amal ibadahnya semata-mata karena Allah SWT.

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

Mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus (TQS al-Bayyinah [98]: 5).

Ketiga, setiap Muslim dituntut hanya menyembah atau mengabdi (ibadah) kepada Allah SWT saja seraya menjauhi thâghût. Dalam al-Quran Allah SWT berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Sungguh Kami telah mengutus seorang rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah dan jauhilah thâghût itu.” (QS an-Nahl [16]: 36).

Ibadah tentu tidak hanya diwujudkan dalam kegiatan ritual seperti shalat, shaum, haji, membaca al-Quran, zikir atau doa semata. Ibadah juga wajib diwujudkan dalam bentuk ketaatan total pada seluruh aturan Allah SWT sebagai satu-satunya Zat yang diibadahi. Karena itu seorang Muslim tidak boleh berhukum pada selain hukum Allah SWT. Ketundukan dan ketaatan pada hukum-hukum atau aturan-aturan yang bertentangan dengan wahyu Allah SWT dianggap sebagai bentuk penyembahan (ibadah) kepada pembuat hukum-hukum atau aturan-aturan tersebut. Inilah yang ditegaskan oleh Allah SWT dalam al-Quran:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ

Mereka telah menjadikan para pendeta dan para rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah (TQS at-Taubah [9]: 31).

Ketika Rasulullah saw. membaca ayat ini dan didengar oleh Adi bin Hatim (yang saat itu masih bergama Nasrani), Adi bin Hatim berkata, “Sungguh kami tidak pernah menyembah mereka (para pendeta kami).” Rasulullah saw. menanggapi, “Bukankah mereka itu telah mengharamkan apa yang telah Allah halalkan, lalu kalian ikut mengharamkannya? Bukankah mereka itu telah menghalalkan apa yang telah Allah haramkan, lalu kalian pun ikut menghalalkannya?” Adi menjawab, “Benar!” Beliau lalu bersabda, “Itulah wujud penyembahan (ibadah) mereka (para penganut Yahudi dan Nasrani) kepada para pendeta dan para rahib mereka!” (HR at-Tirmidzi).

Keempat, setiap Muslim hanya boleh berhukum dengan hukum Allah SWT; haram berhukum dengan selain hukum-Nya. Allah SWT berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Tidakkah patut bagi Mukmin laki-laki dan tidak pula bagi Mukmin perempuan, jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Siapa saja yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata (QS al-Ahzab [33]: 36).

Allah SWT pun berfirman:

إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ

Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah (TQS Yusuf [10]: 40).

Terakhir, setiap Muslim dituntut untuk masuk Islam secara kâffah dengan menjalankan seluruh aturan dan hukumnya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara total, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagi kalian (TQS al-Baqarah [2]: 208).

Alhasil, konsekuensi tauhid adalah tunduk, patuh dan taat hanya kepada Allah SWT dengan menjalankan seluruh syariah-Nya secara total. Syariah Allah SWT hanya mungkin diterapkan secara total dalam sistem pemerintahan Islam, yakni Khilafah ‘ala minhâj an-Nubuwwah. []

---***---

Hikmah:

Allah SWT berfiman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
Sungguh Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan akan mengampuni dosa selain syrik bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Siapa saja yang menyekutukan Allah, sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata (TQS an-Nisa’ [4]: 116).

Abu Dzarr ra. menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:
إِنَّ جِبْرِيلَ أَتَانِي فَبَشَّرَنِي أَنَّهُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لَا يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ
Sesungguhnya Jibril pernah datang kepadaku. Ia lalu menyampaikan kabar gembira bahwa siapa saja yang mati di kalangan umatku dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan apapun, ia masuk surga (Al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubrâ, 10/319).

—***—

Download versi PDF
https://goo.gl/V1bdHB
Dahsyatnya Panggilan Sayang

Dahsyatnya Panggilan Sayang

Dahsyatnya panggilan SAYANG

 Bismillahirrahmanirrahim
“Hallo selamat pagi, sayang?”. Bukankah kalimat tersebut terdengar manis dan hangat di telinga Anda? Panggilan “Sayang”, menurut peneliti, memiliki efek positif signifikan di otak wanita.

Panggilan mesra tersebut efektif dalam melepas hormon oksitosin di tubuh wanita yang menghasilkan perasaan bahagia dan hangat.
Selain itu, wanita yang sering dipanggil “Sayang”, ditemukan jarang mengalami stres dan lebih ikhlas dalam menghadapi segala tantangan hidup.

Oleh karena itu, “Sayang” dianggap sebagai kata positif yang memberikan dampak baik pada wanita. Menurut paparan di Psychology Today, panggilan “Sayang” pada wanita menciptakan perasaan aman dan nyaman. Mereka pun jadi lebih percaya diri dalam beraktivitas.

“Sensasi sensual dibalik panggilan ‘Sayang’ menciptakan dopamine yang membuat kecanduan mendengar panggilan tersebut. Lalu, efek neurochemicals seperti oksitosin dan vasotosin, hormon cinta, membantu pasangan untuk membangun hubungan yang penuh cinta, kasih, dan loyalitas,” jelas laporan Psychology Today.

Berdasarkan Tech Knowledge, kata-kata positif dan negatif, memiliki efek terhadap energy tubuh, termasuk semangat dan motivasi.

Orang yang sering mendengar kata “Tidak” cenderung lebih mudah stres, ketimbang mereka yang mendengar kata “Ya” dan “Sayang”.

Sebuah laporan yang dipublikasikan oleh Harvard Law School mempelajari efek dari kata positif dan negatif.

Menurut studi, gambar-gambar indah yang disertakan kata negatif, akan memberikan pengaruh buruk pada pilihan orang yang melihatnya.

Oleh karena itu, banyak karyawan profesional yang sangat berhati-hati dalam pemilihan kata untuk materi presentasi. Mereka menghindari menggunakan kata negatif, dan menggantinya dengan kata penolakan yang lebih diplomatis.

Wallahu'alam
By. Abah Roqy
Hukum Puasa Rajab Menurut Empat Madzhab

Hukum Puasa Rajab Menurut Empat Madzhab

Kurma-OaseIman.net

Di bulan Rajab ini, bermunculan berbagai tulisan pembahasan mengenai hukum mengerjakan puasa Rajab yang tidak jarang memunculkan polemik. Dimana hal ini selalu terulang-ulang setiap tahunnya, sedangkan para fuqaha di madzhab empat sendiri sudah membahas persoalan ini. Marilah kita lihat, bagaimana duduk permasalahannya sebenarnya menurut mereka.

Madzhab Hanafi

Yang disukai dari puasa-puasa ada beberapa macam, yang pertama adalah puasa Al Muharram, kedua puasa Rajab dan ke tiga adalah puasa Sya’ban dan puasa Asyura’ (Al Fatawa Al Hindiyah, 1/202)

Posisi madzhab Hanafi cukup jelas, bahwasannya mereka menyatakan bahwa puasa di bulan Rajab secara mutlak adalah perkara yang disukai.

Sebagaimana jika seorang bernadzar untuk berpuasa penuh di bulan Rajab, maka ia wajib berpuasa sebulan penuh dengan berpatokan pada hilalnya. (Syarh Fath Al Qadir, 2/391)

Madzhab Maliki

Al Lakhmi menyatakan bahwa bulan-bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah Ramadhan adalah tiga, yakni Al Muharram, Rajab dan Sya’ban. (Al Mawahib Al Jalil, hal. 319)

Ad Dardir menyatatakan bahwasannya disunnahkan puasa bulan Al Muharram, Rajab dan Sya’ban, demikian juga di empat bulan haram yang dimana paling utama adalah Al Muharram kemudian Rajab lalu Dzulqa’dah dan Dzulhijjah. (Syarh Ad Dardir ‘ala Khalil, 1/513)

Dengan demikian, Madzhab Al Maliki berndapat mengenai kesunnahan puasa di bulan Rajab secara mutlak, meski dengan sebulan penuh.

Madzhab Syafi`i

Ulama Madzhab Asy Syafi’i mensunnahkan puasa di bulan Rajab, dimana Imam An Nawawi berkata,”Telah berkata ashabuna: Dari puasa yang disunnahkan adalah puasa di bulan-bulan haram, yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Al Muharram dan Rajab.” (Al Majmu’, 6/438)

Hal serupa disampaikan di Imam An Nawawi dalam kitab yang lain (lihat, Raudhah Ath Thalibin, 2/254).

Ibnu Hajar Al Haitami juga menyatakan,”Dan disunnahkan (puasa) di bulan-bulan haram, bahkan ia adalah seutama-utamanya bulan untuk berpuasa setelah Ramadhan, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Al Muharram dan Rajab.” (Minhaj Al Qawim dengan Hasyiyah At Tarmasi, 5/804,805)

Dengan demikian, bisa dismpulkan bahwa Madzhab Asy Syafi’i mensunnahkan puasa Rajab secara mutlak, tanpa memandang bahwa amalan itu dilakukan di sebagian bulan Rajab atau di seluruh hari-harinya.

Imam Asy Syafi’i dalam pendapat qadim menyatakan makruh menyempurnakan puasa satu bulan di selain bulan Ramadhan, agar tidak ada orang jahil yang meniru dan mengira bahwa puasa itu diwajibkan, karena yang diwajibkan hanyalah puasa Ramadhan. Namun ketika unsur itu hilang, Imam Asy Asyafi’i menyatakan,”jika ia mengerjakan maka hal itu baik.” (Fadhail Al Auqat, 28)

Madzhab Hanbali

Al Buhuti menyatakan bahwa mengkhususkan puasa di bulan Rajab hukumya makruh. Namun Al Buhuti melanjutkan,”Dan hilang kemakruhan dengan berbuka meskipun hanya sehari, atau berpuasa pada bulan lain di tahun itu.” (Kasyf Al Qina’, hal. 1003)

Hal yang sama disampaikan Ibnu Rajab Al Hanbali, bahwa kemakruhan puasa di bulan Rajab hilang dengan tidak berpuasa penuh di bulan Rajab atau berpuasa penuh dengan menambah puasa sebulan di bulan lainnya di tahun itu. Sedangkan Imam Ahmad menyatakan tidak berpuasa Rajab secara penuh kecuali bagi yang berpuasa terus-menerus. (Lathaif Al Ma’arif, hal. 230)

Dengan demikian, madzhab Hanbali hanya memandang makruh bagi yang mengkhususkan Rajab untuk berpuasa sebulan penuh, namun ketika hal itu dilakukan tidak penuh di bulan itu, atau berpuasa penuh namun dengan berpuasa sebulan di bulan lain maka hilanglah unsur kemakruhan.

Bisa disimpulkan bahwa semua madzhab di atas sepakat mengenai dibolehkannya puasa bulan Rajab secara tidak penuh. Khilaf yang terjadi adalah berpuasa penuh di bulan Rajab tanpa disertai dengan puasa lainnya. Dan khilaf yang terjadi berkisar antara hukum sunnah dengan makruh, bukan haram.

Setelah posisi para ulama madzhab empat jelas bagi kita, bahwa hal ini adalah masalah khilafiyah yang mu’tabar, dimana berlaku kaidah yang menyatakan bahwasannya masalah ikhfilaf tidak boleh diinkari. Dengan demikian, hubungan baik antara umat Islam akan terjaga.

Jika dalam tulisan kali ini dibahas mengenai pendapat para ulama madzhab empat, dalam tulisan selanjutnya akan dibahas mengenai dalil-dalil dari masing-masing pihak dalam masalah ini. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam

hidayatullah.com
Hari Keadilan Bagi Si Dzalim

Hari Keadilan Bagi Si Dzalim


Dari twitter @salimafillah, 2013

1) Ada zaman ketika Al Hajjaj ibn Yusuf yang ‘alim lagi faqih berkuasa & menindas di ‘Iraq hingga Hijjaz. Tapi nurani tak susah bersikap.

2) Al Hajjaj adalah “orang kuat”. Jabatannya Gubernur; tapi para Penguasa Bani ‘Umayyah tak berani mengambil tindakan apapun terhadapnya.

3) Ditulis Ibn Al Atsir dalam Al Kamil; jumlah yang dibunuhnya mencapai 120.000 orang; belum termasuk 80.000 yang mati di pemenjaraannya.

4) Semua karena pemaksaannya agar masyarakat tunduk pada kuasa Daulah ‘Umayyah; tak boleh ada tanya, masukan, nasehat, kritik, & oposisi.

5) Korban keganasannya yang paling masyhur: ‘Abdullah ibn Az Zubair Radhiyallahu ‘Anhuma; dalam kisah dimanjaniqnya Ka’bah hingga lantak.

6) Kali ini mohon izin bercerita tentang Sa’id ibn Jubair; si ‘alim murid kesayangan Ibn ‘Abbas yang menjadi penutup kejahatan Al Hajjaj.

7) Setelah beliau ditangkap, Al Hajjaj bertanya; “Siapa namamu?” Beliau menjawab; “Sa’id ibn Jubair (orang bahagia; putra orang jaya).”

8) “Tidak”, sergah Al Hajjaj, “Namamu Saqi ibn Kusair (orang celaka anak orang hancur)!” “Ibuku lebih tahu siapa namaku!”, timpal Sa’id.

9) Kemudian Al Hajjaj bertanya tentang Rasulullah & Khulafaur Rasyidin. Dia berharap Sa’id menjelekkan ‘Ali, tapi beliau muliakan semua.

10) Ditanya tentang siapa Khalifah Bani ‘Umayyah yang terbaik; jawabnya; “Yang paling diridhai Rabbnya!” “Siapa itu?”, kejar Al Hajjaj.

11) “Ilmu tentang itu di sisi Allah”; jawab Sa’id mengutip Quran. “Kalau tentang aku?”, tanya Al Hajjaj. “Kau lebih tahu tentang dirimu.”

12) “Aku ingin tahu pendapatmu!”, desak Al Hajjaj. “Itu akan menyedihkanmu & mengusir kegembiraanmu”, tukas Sa’id. “Katakan!”, geramnya.

13) “Kau telah menyelisihi Kitabullah. Kau lakukan hal yang kauharap berwibawa karenanya; tapi ia menghinakan & menjatuhkanmu ke neraka!”

14) “Demi Allah aku akan membunuhmu!”, kata Al Hajjaj. “Dengan itu kauhancurkan duniaku & kuhancurkan akhiratmu”, sahut Sa’id tersenyum.

15) “Dengan cara apa kau mau dibunuh?”, sergah Al Hajjaj. “Pilihlah untukmu; dengan cara yang sama kelak Allah membalasmu!”, jawab Sa’id.

16) “Apa kau mau kuampuni?”, tanya Al Hajjaj. “Sesungguhnya ampunan hanya dari Allah; kau tak punya & tak berhak atasnya!”, jawab Sa’id.

17) “Prajurit! Siapkan pedang & alas!”, perintah Al Hajjaj. Maka Sa’id mensenyumkan tawa. “Apa yang membuatmu tertawa?”, tanya Al Hajjaj.

18) “Aku takjub atas kelancanganmu kepada Allah & santun-lembutnya Allah padamu”, kata Sa’id. “Prajurit, penggal dia!”, teriak Al Hajjaj.

19) Sa’id menghadap kiblat & membaca {QS6:79}: “Kuhadapkan wajahku pada Yang Mencipta langit & bumi..” “Palingkan dia!”, ujar Al Hajjaj.

20) Sa’id pun lalu membaca {QS2:115}: “Ke manapun kamu menghadap; di sanalah wajah Allah.” “Telungkupkan dia ke tanah!”, gusar Al Hajjaj.

21) Maka Sa’id kemudian membaca {QS20:55}: “Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu..”

22) “Sembelih dia”, kata Al Hajjaj. “Sungguh tak ada orang yang lebih kuat hafalan Qurannya dari dia!” Maka Sa’id berdoa terakhir kali..

23) “Ya Allah; jangan kuasakan dia atas seorangpun sesudah diriku!” Lalu beliau dibunuh. Lima belas hari kemudian, Al Hajjaj mulai demam.

24) Sakit itu mengantarnya pada kematian. Dia terlelap sesaat lalu bangun berulang kali dalam ketakutan; “Sa’id ibn Jubair mencekikku!”

25) Punggawanya mengadu pada Hasan Al Bashri, memohonnya mendoakan sang majikan. Al Hasan berkata, "Sudah kukatakan padanya, jangan menzhalimi para 'Ulama!"

26) Jelang sakaratul maut, doa-harapnya menakjubkan; “Ya Allah, orang-orang mengira Kau takkan mengampuniku. Sungguh buruk persangkaan mereka padaMu!”

27) Al Hajjaj mati bakda 40 hari; ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz & Hasan Al Bashri sujud syukur berulang kali. Kelak ‘Umar & beberapa ‘Alim lain bermimpi.

28) Bahwa Al Hajjaj dibunuh Allah sebanyak pembunuhan yang dia lakukan; kecuali atas Sa’id ibn Jubair; Allah membalasnya dengan 70 kali.

29) Benar; sungguh benar; “Hari keadilan bagi si zhalim; lebih berat daripada hari kezhaliman bagi mereka yang teraniaya.” Wallahu A’lam

Ebook Ruqyah Syar'iyyah
Buku ini, mengajak anda berfikir dan meracik senjata sendiri untuk meluluhlantakkan sihir yang mencuri kebahagiaan keluarga dan kehidupan Anda..
Download Disini
Ruqyah Syar'iyyah
Terapi Gangguan Jin
Terapi Gangguan Sihir
Thibbun Nabawi
Pengobatan Sunnah
Islam Diatas Pancasila

Islam Diatas Pancasila


Saya terusik saat ada yang berpendapat seolah-olah siapapun yang memperjuangkan Islam berarti bertentangan dengan Pancasila, seolah Pancasila dijadikan legitimasi perilaku ngawur

Terutama liberalis, seringkali berlindung dibalik Pancasila untuk menyebarkan ide-ide sesat, pemikiran anti-Islam. Alasannya konsensus bersama itu Pancasila, bukan Islam

Padahal hal seperti itu jelas ahistoris. Para ulama kita sudah menjelaskan Pancasila adalah derivat dari syariat. Pancasila adalah seperangkat nilai luhur yang diambil dari ajaran Islam

Karena itu Pancasila tidak mungkin bertentangan dan dipertentangkan dengan Islam, sebab Islam diatas Pancasila. Islam dan kaum Muslim yang berada dibalik lahirnta Pancasila

Maka adalah sesuatu yang sangat memaksa, bila dikatakan sikap ummat Islam yang mematuhi syariat Islam, lalu menolak pemimpin kafir dan sistem kufur, adalah perilaku yang anti-Pancasila

Karena Islam adalah dasarnya Pancasila, mengambil Pancasila sebagai dasar negara berarti harus mengakui Islam dan syariatnya sebagai dasarnya dasar negara, itu sejarah bangsa ini

Maka menaati Allah dan Rasul-Nya, adalah sikap yang sesuai Pancasila, menolak pemimpin kafir, juga bagian yang dijamin dalam Pancasila, dan juga Konstitusi

Justru, perilaku orang-orang yang membolehkan pemimpin kafir dan sistem kufur inilah yang bertentangan dengan semangat kemerdekaan, dan bertentangan dengan semangat Pancasila

Sebab dulu ulama-ulama kitalah yang memerdekakan negeri ini, mereka melawan penjajah sebab melindungi aqidah Islam dan kaum Muslim, juga tanah tempat Musim beribadah

Tapi sekarang, kita saksikan, atas nama Pancasila, justru pengkhianat-pengkhianat aqidah menginjak agamanya sendiri, lalu memberikan jengkal-jengkal tanah ini pada penjajah-penjajah baru

Maka kita katakan dengan tegas, Islam diatas segalanya. Islam diatas Pancasila, Konstitusi, UUD45, dan apapun buatan manusia, pada Islam semuanya harus berhukum, bukan sebaliknya

Sebab Allah yang paling mengetahui manusia, karenanya hanya Allah yang berhak menentukan hukum bagi manusia, menentukan panduan dan tuntunan hidup di dunia

*ustad Felix Siauw
Tawassul, Berdoa Melalui Perantara

Tawassul, Berdoa Melalui Perantara

Tawassul
Tawassul adalah berdoa kepada Allah melalui suatu perantara, baik perantara tersebut berupa amal baik kita ataupun melalui orang sholeh yang kita anggap mempunyai posisi lebih dekat kepada Allah.

أَلْوَسِيْلَةُ وَهِيَ مَا يُتَقَرَّبُ اِلَى الشَّيْئِ وَتَوَسَّلَ اِلَى رَبِّهِ بِوَسِيْلَةِ تَقَرُّبٍ اِلَيْهِ بِعَمَلِهِ

Artinya: “Wasilah adalah sesuatau yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada sesuatu yang lain. seseorang bertawassul kepada Tuhannya melalui wasilah (media) Taqorrub dengan amal ibadahnya.” (Kamus Al Misbah Al Munir)

اَلتَّوَسُّلُ بِأَحْبَابِ اللهِ هُوَ جَعَلَهُمْ وَاسِطَةً إِلَى اللهِ تَعَالَى فِى قَضَاءِ الْحَوَائِجِ لِمَا ثَبَتَ لَهُمْ عِنْدَهُ تَعَالَى مِنَ الْقَدْرِ وَالْجَاهِ مَعَ الْعِلْمِ بِأَنَّهُمْ عَبِيْدٌ وَمَخْلُوْقُوْنَ وَلَكِنَّ اللهَ جَعَلَهُمْ مَظَاهِرُ لِكُلِّ خَيْرٍ وَبَرَكَةٍ وَمَفَاتِيْحُ لِكُلِّ رَحْمَةٍ

Artinya: “Tawassul adalah memohon kepada Allah swt melalui perantara orang-orang yang dicintai-Nya, seperti para Nabi dan Wali. Dikarenakan mereka adalah orang-orang yang telah diridhoi dan telah diberi derajat yang tinggi di sisi Allah swt.”
(al-Ajwibah al-Ghaliyah fi Aqidah al-Firqoh an-Najiyah dalam Fiqh Tradisionalis)

Landasan tawassul adalah firman Allah swt berikut ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اِتَّقُوْا اللهَ وَاْبَتُغْوا إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِي سَبِيْلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah swt dan carilah jalan (tawassul) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan”. (QS. Al-Maidah : 35)

Pengertian ayat “وَابْتَغُوْا اِلَيْهِ اْلوَسِيْلَة” ialah mendekatkan kepada Allah dengan mentaatiNya dan melakukan sesuatau yang di ridloi olehNya. (Tafsir Ibnu Katsir)

Tawassul dibagi menjadi dua:

1. Tawassul dengan amal saleh.
Dalilnya adalah sebuah hadits yang mengisahkan tiga orang yang terperangkap di dalam gua. Lalu, ketiganya bertawassul dengan amal kebaikan yang pernah mereka lakukan.
Orang pertama bertawasul dengan amal baiknya terhadap kedua orang tua. Orang kedua bertawasul dengan takutnya kepada Allah swt sehingga menggagalkan perbuatan keji yang hendak ia lakukan.
Orang ketiga bertawassul dengan amal baik yang telah ia lakukan kepada pegawainya. Pegawai tersebut bekerja tanpa mau diberi gaji. Namun setelah gaji tersebut disimpan sang majikan lalu digunakan untuk membeli hewan ternak dan berkembang biak, sang pegawai meminta gajinya. Akhirnya seluruh hewan ternak diberikan kepadanya. Berkat amal-amal tersebut, Allah swt membukakan pintu gua sehingga ketiganya dapat keluar. (HR. Bukhori, Muslim dan Ahmad)

2. Tawassul dengan orang-orang yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah swtseperti para nabi, wali dan syuhada’. Dalam sebuah hadits disebutkan,

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ عُمَرَ اْبنَ اْلخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ اِذَا قُحِطُوْا اِسْتَسْقَىْ بِالْعَبَّاسِ اْبنِ عَبْدِالْمُطَلِّبْ فقال أَللَّهُمَّ كُنَّا نَتَوَسَّلُ اِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِيْنَا وَأَنَا نَتَوَسَّلُ اِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَأَسْقِنَا فَيُسْقُوْنَ

Artinya: “Dari Anas bin Malik, bahwasanya Sahabat Umar bin Khottob ketika mengalami kemarau, maka beliau meminta hujan dan bertawassul dengan Abbas bin Abdul Muthollib, beliau berkata “Ya Allah bahwasanya kami telah bertawassul kepada Engkau dengan Nabi kami, maka Engkau turunkan hujan dan sekarang kami bertawassul kepada Engkau dengan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan itu.” (HR. Bukhori)

Mengambil kesimpulan dari hadits diatas bahwa :
– Sahabat Umar bin Khotob pernah berdoa bertawssul dengan Nabi untuk meminta diturunkan hujan.
– Sabahat Umar bin Khotob bukan bertawassul dengan Nabi saja, melainkan dengan paman Nabi juga, yaitu Sayyidina Abbas bin Abdul Muthollib.

Selain hadits di atas ada hadits lain yang menceritakan kisah seorang sahabat yang menderita sakit mata. Sahabat tersebut meminta doa kepada Rosululloh saw agar diberi kesembuhan, namun Rosululloh tidak berkenan mendoakannya, akan tetapi beliau mengajarkan doa tawassul agar dibacanya sendiri.

أَللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدِ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ إِنِّى تَوَجَّهْتُ بِكَ إِلَى رَبِّكَ فِى حَاجَتِىْ هَذِهِ لِتَقْضِى لِى فَشَفَّعْتَ فِيَّ

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon dan berdoa kepada-Mu dengan (bertawassul melalui) Nabi-Mu Muhammad, Nabi yang penuh kasih sayang. (Wahai Nabi), sesungguhnya aku telah bertawajjuh kepada tuhanku dengan (bertawasul melalui) Engkau agar hajatku ini terkabul. Ya Allah, terimalah syafa’at beliau untukku”. (HR. Tirmidzi, an-Nasa’i, al-Baihaqi dalam Dalil-dalil Nahdliyyah)

Sedangkan salah satu dasar bertawassul melalui orang yang telah mati adalah sebuah hadits:

عَنْ سَيِّدِنَا عَلِى كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْه وَسَلَّمَ لَمَّا دُفِنَ فَاطِمَةُ بِنْتِ أَسَدٍ أُمِّ سَيِّدِنَا عَلِى رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ اَلَّلهُمَّ بِحَقِّىْ وَحَقِّ الْاَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِى أَغْفِرُ لِاُمِّىْ بَعْدَ أُمِّىْ

Artinya: “Dari sayyidina ‘Ali Karromallohu Wajhah: Sesungguhnya Nabi Muhammad saw tatkala Fatimah binti Asad (ibu sayyidina ‘Ali) dimakamkan, beliau berdo’a, “Ya Alloh, dengan (perantara) hakku, dan hak para Nabi sebelumku, ampunilah ibu setelah ibuku. (Fatimah binti Asad).” (HR. Thabari, Abu Nu’aim dan Ibnu Hajar al-Haitami)

Dalam hadits ini ternyata Rosululloh saw bertawassul dengan para nabi sebelum beliau. Jelas, para nabi sebelum masa beliau sudah meninggal.

Tata Cara Tawassul :
Tawasul dapat dilakukan dengan berbagai cara, namun yang lazim adalah sebagai berikut :

Membaca ayat Al Quran, tahlil dll. Kemudian pahalanya dihadiahkan kepada para nabi, wali dll (orang yang akan dijadikan perantara).
Lalu berdoa untuk ahli kubur yang diziarahi, misalnya dengan doa: Allohummaghfir lahum warhamhum wa’afihim wa’fu ’anhum.

Kemudian berdoa kepada Allah swt dengan doa yang dikehendaki.
Setelah selesai berdoa baru bertawasul memohon pada Allah swt agar berkenan mengabulkan pemintaannya dengan lantaran tokoh yang diziarahi.
Kudeta Atas Raja Najasyi Pun Gagal, Para Sahabat Nabi Bergembira

Kudeta Atas Raja Najasyi Pun Gagal, Para Sahabat Nabi Bergembira

DAN KUDETA ATAS NAJASYI PUN GAGAL

Judul: Kesedihan para sahabat atas upaya kudeta terhadap Najasyi Raja Habasyah serta kegembiraan mereka atas pertolongan Allah bagi beliau atas para pengkhianat.

Sumber: "Al Lu'lu' Al Maknun fi Sirah An Nabi Al Ma'mun".
Penulis: Musa Al 'Azimi.

Ummu Salamah radhiallahu anha berkata: "...demi Allah, kami atas demikian (sangat sedih) saat terjadi pada Najasyi gerakan yang ingin kudeta dirinya dari kekuasaan. Demi Allah, sedikit pun kami tidak pernah merasa sedih yang mendalam melebihi kesedihan kami terhadap peristiwa itu. Sungguh, kami khawatir jangan sampai berjaya laki-laki pengkudeta atas Najasyi, lalu memimpin seorang yang tidak mengetahui hak kami sebagaimana yang diketahui Najasyi...".

Saat kedua (pasukan, Najasyi dan Pemberontak) berhadapan di pinggir sungai nil, maka para sahabat Rasulullah SAW berkata: "Siapa yang bersedia keluar dan melihat pertempuran kaum itu dan datang membawakan kabar kepada kami?".

Al Zubair bin Awwam ra berkata: "Saya siap". Saat itu beliau yang paling muda umurnya.

Orang-orang lalu meniupkan tempat air (terbuat dari kulit) untuknya dan meletakkan di dadanya. Setelah bertasbih, Al Zubair keluar hingga mencapai pinggir sungai, tempat bertemunya pasukan.

Ummu Salamah melanjutkan: "Maka kami pun berdo'a kepada Allah Ta'ala agar Najasyi menang atas musuhnya serta mengokohkan posisinya di dalam negeri".

Ummu Salamah berkata lagi: "Kemudian Az Zubair datang bergegas mengangkat pakaiannya seraya berseru: "Bergembiralah! Sungguh Najasyi telah menang, Allah membinasakan musuhnya, serta menegakkan posisinya di dalam negeri".

Ummu Salamah mengakhiri: "Demi Allah, kami tidak tahu sedikit pun kegembiraan yang paling besar seperti kegembiraan saat itu". (Rappung Samuddin)

***

[PROLOG & EPILOG NAJASYI]

Pada saat yang sama -dengan naiknya An-Najasyi menjadi raja menduduki tahta di Habasyah (Afrika, Ethiopia)- di tempat lain -di Jazirah Arab- Allah mengutus nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membawa agama yang penuh hidayah, petunjuk dan kebenaran, satu-persatu para sahabat pertama memeluk agama ini.

Orang-orang Quraisy mulai mengganggu dan menganiaya mereka. Ketika Mekah sudah terasa sesak bagi kaum muslimin karena gencarnya tekanan-tekanan musyrikin Quraisy, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan mereka hijrah ke Habasyah.

"Sesungguhnya di Habasyah ada seorang raja yang tidak suka berlaku zalim terhadap sesama. Pergilah kalian kesana dan berlindunglah di dalam pemerintahannya sampai Allah subhanahu wa ta'ala memberikan jalan keluar dan membebaskan kalian dari kesulitan ini."

Maka, pada bulan Rajab tahun ke-5 kenabian (Tahun 615 M), 12 orang laki-laki dan empat orang wanita yang dipimpin Utsman bin Affan bertolak ke negeri Habasyah. Rombongan muhajirin pertama dalam Islam. Disusul rombongan kedua terdiri 83 laki-laki dan 18 wanita yang dipimpin Ja'afar ibn Abi Thalib. Di negeri baru itu, mereka mendapat ketenangan dan rasa aman. Mereka bebas menikmati manisnya takwa dan ibadah tanpa gangguan.

Akan tetapi pihak Quraisy tidak tinggal diam. Mereka mendatangi Habasyah, menyuap para pembesar dan pendeta, menebarkan opini bahwa Kaum Muslimin yang hijrah ke Habasyah adalah para pengacau, pemecah persatuan, membawa ajaran baru dan merendahkan nenek moyang.

Namun Raja Najasyi bersikukuh.

"Kalian (kuam muslimin) boleh tinggal dengan aman di negeri ini. Barang siapa yang berani mengganggu kalian maka aku akan menindaknya secara tegas. Aku tidak sudi untuk disuap, sekalipun dengan segunung emas untuk mengganggu seorang pun di antara kalian," kata An-Najasyi tegas.

Negeri Habasyah bergoncang. Para pendeta yang sudah diberi hadiah (suap) oleh Qurays tidak terima dengan keputusan An-Najasyi. Mereka melakukan berbagai makar dan isu-isu miring. Mereka menyatakan bahwa An-Najasyi telah keluar dari agamanya dan mengikuti agama baru. Mereka juga memprovokasi para rakyat untuk melakukan kudeta, menggulingkan rajanya.

Keadaan genting oleh upaya kudeta, Raja Najasyi lantas segera mengirim seorang utusan kepada kaum muslimin untuk memberitahu mereka keadaan yang sedang terjadi. Ia juga menyediakan sebuah kapal buat mereka untuk siap-siap meninggalkan Habasyah seandainya kudeta berhasil.

"Naiklah ke kapal itu. Persiapkanlah diri kalian. Jika aku kalah, maka pergilah kemana saja kalian suka. Dan jika aku menang, kalian boleh kembali ke dalam perlindunganku seperti semula," pesan An-Najasyi kepada mereka.

Pada akhirnya Najasyi masuk Islam.

Saat Raja Najasyi meninggal dunia, dimana Umat Islam sudah kokoh di Madinah, Rasulullah SAW dan para sahabat melakukan sholat jenazah ghoib.

Abu Hurairah meriwayatkan:

Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang ketika itu sedang berada di Madinah) mengumumkan berita kematian an-Nasjasyi (raja Habasyah) kepada orang-orang pada hari kematiannya.

Beliau bersabda: "Sesungguhnya saudara kalian telah meninggal dunia –dan dalam sebuah riwayat disebutkan: Pada hari ini, hamba Allah yang shalih telah meninggal dunia, di luar daerah kalian, karenanya, hendaklah kalian menshalatinya."

Mereka berkata: “Siapakah dia itu?” Beliau menjawab: “an-Najasyi”

Beliau juga bersabda: “Mohonkanlah ampunan untuk saudara kalian ini”.

Perawi hadits ini pun bercerita: Maka beliau berangkat ke tempat shalat (dan dalam sebuah riwayat disebutkan ke kuburan Baqi). Setelah itu, beliau maju dan mereka pun berbaris di belakang beliau (dua barisan). Perawi bercerita: “Maka kami pun membentuk shaff di belakang beliau sebagaimana shaff untuk shalat jenazah dan kami pun menshalatkannya sebagaimana shalat yang dikerjakan atas seorang jenazah."

[Diriwayatkan oleh al Bukhari (III/90,145,155 dan 157), Muslim (III/54), dll]