Pandanglah Kebawah, Anda akan melihat besarnya nikmat Allah

Pandanglah Kebawah, Anda akan melihat besarnya nikmat Allah

Di antara sarana yang paling bermanfaat dalam hal ini adalah menerapkan yang dibimbingkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalam hadits shahih, beliau bersabda.

“Artinya : Pandanglah orang yang lebih bawah darimu (dalam hal materi), dan jangan kamu pandang orang yang lebih atas darimu. Hal itu lebih cocok bagimu, agar kamu tidak merendahkan ni’mat Allah yang dikaruniakanNya kepadamu”.

Seorang hamba jika memusatkan perhatiannya pada ajaran nabawi yang agung ini, maka ia akan melihat dirinya mengungguli orang banyak dalam hal kesejahteraan dan rezki serta rentetan kenikmatan lain berkat kedua karunia itu, meski ia dalam kondisi apapun. Dengan itu sirnalah keguncangan, kegundahan dan keruwetannya, dan bertambahlan kegembiraan dan kesukaannya terhadap ni’mat-ni’mat Allah, yang ia dalam hal ini mengungguli orang-orang yang lain dibawahnya.

Setiap kali seorang hamba merenungi ni’mat-ni’mat Allah yang zhahir maupun yang batin, baik itu dari sisi kehidupan religi maupun duniawinya, ia akan melihat Allah Tuhannya telah mengarunianinya karunia yang banyak dan telah menangkis untuknya berbagai keburukan. Tidak diragukan, bahwa hal itu dapat menangkis kegundahan dan keruwetan, disamping membuahkan kegembiraan dan kesukacitaan.
Berhijab Tidak Harus Nunggu Hatinya dulu yang berhijab

Berhijab Tidak Harus Nunggu Hatinya dulu yang berhijab

Hijab Syari sesusai syariat
1. hijab itu adalah kewajiban yang Allah karuniakan pada Muslimah | karena selain membuat terhormat, hijab juga menjadi bagian ibadah

2. maka Muslimah apapun aktivitasnya, wajib berhijab tanpa alasan | dan karena ibadah, maka haruslah memenuhi apa yang Allah tentukan

3. karena hijab itu wajib, maka niatan bukan sebab batalnya kewajiban | walau niat sangat mempengaruhi diterimanya ibadah dan ganjaran

4. maka tidak boleh orang berucap "kalo nggak niat, nggak usah hijab" | karena niat nggak niat, ikhlas atau nggak, hukum hijab tetap wajib

5. juga salah ucapan "untuk apa hijab kalo bukan dari hati? lepas aja lah!" | yang betul, hijabnya wajib, ya pertahankan, niatnya perbaiki

6. adanya kesalahan dalam kewajiban dan ibadah yang Allah perintahkan | seharusnya bukan jadi alasan menyoalkan, bahkan meremehkan

7. kita lihat memang banyak Muslimah berhijab masih bermaksiat | tapi bukankah tak berhijab itu juga maksiat? manusia pasti maksiat?

8. maka jangan kaitkan kewajiban hijab dengan kekurangan manusia | justru kita mesti kuatkan semangat berhijabnya, hidayah lain ikut serta

9. begitu juga bagi anak yang belum baligh, betul hijab tak wajib | hanya saja kewajiban dan ibadah itu perlu dilatih dan dibiasakan

10. anak-anak dikenalkan dengan identitasnya sebagai Muslimah | mereka harus dibuat nyaman dengan hijabnya, dibuat terbiasa beribadah

11. maka penting bagi sekolah untuk tidak hanya tausiyah tentag hijab | tapi benar-benar membiasakan anak-anak Muslimah berhijab syar'i

12. perkara anak-anak itu melepas hijabnya sepulang sekolah | namanya juga latihan, maka pelan-pelan kita pahamkan dengan tausiyah

13. anak-anak belum baligh memakai hijab karena wajib di sekolah | lalu melepas sepulangnya, itu juga bukan hinaan pada agama, biasa saja

14. lha bagaimana bisa disebut menghina agama? itu Muslimah belum baligh kok | dan justru lagi pelatihan taat, melatih membiasakan yang baik

15. anak-anak yang dilatih taat sejak awal saja belum ada jaminan taat nantinya | apalagi yang tidak dibiasakan dalam taat? lebih berisiko

16. maka tugas kita ialah melatih anak-anak terbiasa dengan kewajiban | dan terus-menerus memperbaiki niat mereka dalam ibadah

17. dan ingat, membiasakan beribadah itu bukan memaksa, tapi itulah tugas pendidik | adalah kewajiban pendidik dalam membiasakan kebaikan

18. maka aturan wajibnya hijab di sekolah bagi anak-anak, itu perlu dan penting | memahamkan mereka tentang hijab itu ibadah, sama penting

19. karena pikir, rasa, tingkah anak-anak, adalah apa yang mereka dengar, lihat, lakukan

* Ustad Felix Siauw
Sikap Pertengahan Dalam Mencari Rizki

Sikap Pertengahan Dalam Mencari Rizki


Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Antara seorang hamba dan rezekinya ada pemisah. Jika dia qanaah (merasa cukup) dan jiwanya merasa ridha, rezekinya akan menghampirinya. Akan tetapi, jika dia memaksa masuk dan meruntuhkan hijab itu, dia tidak akan bisa menambah rezekinya di atas kadar yang telah ditentukan untuknya.”

Sebagian salaf berkata, “Bertawakallah, maka engkau akan dianugerahi rezeki tanpa kelelahan dan susah payah.”Al-Marwazi bertanya kepada al-Imam Ahmad tentang seseorang yang hanya duduk di rumahnya -padahal dia mampu untuk beraktifitas- dan mengatakan, “Aku akan duduk dan bersabar. Aku tidak akan mengharapkan sesuatu dari orang lain.”

Al-Imam Ahmad menjawab, “Dia keluar dari rumahnya dan berbuat sesuatu lebih aku sukai.
Kalau dia hanya duduk di rumahnya, aku khawatir, dia malah berharap akan ada orang
yang mengiriminya sesuatu.”

(diambil dari Jami’ul Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab al-Hanbali, hlm. 591-592)
Hidup Itu Indah, Jika ...???

Hidup Itu Indah, Jika ...???


HIDUP ITU INDAH.. Jika kita bisa BERSAMA...

Sungguh hidup itu terasa INDAH :
  • Jika saat kita pergi ada yang mendo'akan.
  • Jika saat kita jauh ada yang merindukan.
  • Jika saat kita sedih ada yang menentramkan .
  • Jika saat kita ketemu ada senyum dan sapa

Tapi yang terindah dari segalanya adalah .... KETIKA Allah masih berkenan Memberikan nafas untuk hidup hari ini dan berkenan Memberikan kemudahan untuk Saling Bantu dalam ber-ibadah untuk-Nya...

Baarakallahu fiikum

*Status FB Abu Fillah
Muslim Itu Jelas!

Muslim Itu Jelas!


Kata-kata "non-Muslim tapi bersih mendingan dari Muslim korupsi" | ini penyesatan tanpa dalil, harusnya berpikirnya "Muslim yang bersih"

dan itu semua tidak menghilangkan hukum wajibnya dipimpin Muslim | karena dalam Islam, kepemimpinan itu sudah disyariatkan, sudah diatur

Misal dalam shalat, Imam itu disyariatkan Muslim, harus Muslim | walau bagus bacaaannya, hafalannya, tapi non-Muslim, ya bathil

Misal saat Muslimah menikah, ya harus Muslim lakinya | walau tanggung jawab, mampu, tapi non-Muslim, ya bathil, itu syariatnya

Kalau ada yang bilang "urusan pemimpin nggak perlu dipandang agamanya" | ini jelas pandangan pribadi, bukan pandangan Islam, tak berdalil

Beda pemimpin dalam hal hukkam (penguasa) dengan pemimpin biasa | kalau pemimpin perusahaan, non-Muslim boleh, kalau penguasa wajib Muslim

Mengapa penguasa harus Muslim? karena dalilnya begitu | karena penguasa mengurus hajat orang banyak

Satu lagi yang sama pentingnya, bahkan mungkin lebih penting | penguasa itu selain Muslim harus menerap syariat Islam, Al-Qur'an dan Hadits

Karena penguasa tak mungkin adil kecuali dengan menerapkan Al-Qur'an dan Hadits | bukan malah menerapkan sistem sekuler, yang diatur manusia

Dengan menerap syariat Islam, Muslim baru bisa menunjukkan ke-Islamannya dengan sempurna | karena aturan Allah pastilah manfaat bagi kita
Selama sistem selain Islam yang diterapkan, ya akan sulit adil | sulit untuk jujur, sulit untuk bersih, walau penguasanya Muslim

Muslim, itu jelas, sangat jelas malah | karena dalam konsep Islam, adil itu adalah hasil penerapan syariat
Jadi jelas banget ya, pemimpin itu wajib Muslim, dan pemimpin itu wajib menerapkan syariat Islam | bila sekarang belum begitu, ya berjuang

dikutip dari G+ Ustad Felix Siauw
Lelaki Jangan Cengeng

Lelaki Jangan Cengeng

Lelaki itu pemimpin atas wanita, karena Allah haruskan mereka lebih.....

Lebih banyak berkorban ....
Lebih bertanggung jawab.....
Lebih banyak menuntut ilmu .....
Lebih dalam hal kesabaran ....

Bersabar menjalani proses berhijrah....

Bersabar menjalani proses berhijrah....

Jangan khawatir akan konsekuensi kebaikan, karena pastilah baik | sebab bila niat dan caranya sudah baik, pastilah beroleh kebaikan

Yang berhijrah itu meninggalkan keburukan, menjauhi larangan Allah | sudah pasti ada tantangan, sudah pasti ada yang tak suka dan marah

dan memang tak selamanya kita mampu membuat semua senang | yang kita mampu hanya memurnikan niat dan cara kita dalam kebaikan

Berubah itu ada konsekuensinya, tapi tak berubah itu lebih sulit lagi | hijrah ke kebaikan itu sangat sulit, tapi tetap buruk itu musibah

Bila sudah diniatkan karena Allah, dengan cara sesuai ajaran Nabi | melangkahlah, Allah pasti mempermudah, Allah akan menguatkan

Lihat saja, sebentar lagi, Allah kirim hamba-hamba-Nya menemani langkahmu | Allah kuatkan hatimu dan memberi rasa manis dalam ketaatan

Bersabar menjalani proses dan progres hijrah, kita bukan yang pertama | sudah banyak yang melaluinya, kita juga pasti bisa

dan berkumpullah dengan majlis-majlis ilmu, disanalah keberkahan | dan lebih lagi, disanalah keistiqamahan, saat berkumpul dalam kebaikan 


sumber Felix Siauw
Hanya Pada Allah kita meminta

Hanya Pada Allah kita meminta

Setiap dari kita tentu punya hajat, sayangnya tak semua dari kita pandai menempatkan kepada siapa kita meminta agar hajat kita dipenuhi

Ada diantara kita yang meminta dan berharap pada manusia, ada yang malah setengah memaksa dalam meminta-minta, atau yang terburuk, menyakiti dalam meminta

Padahal manusia itu lemah dan terbatas, setiap manusia juga punya keperluan, dan keperluan itu takkan habis dipenuhi, hingga ia selalu merasa kurang

Aneh, kita meminta urusan dunia pada manusia, sementara dunia ini tidak pernah menjadi milik manusia, padahal milik Allah segala yang ada di langit dan bumi

Memintalah pada Allah jangan pada manusia, berharaplah pada Allah bukan pada manusia

Dan sebaik-baik pinta pada Allah adalah ampunan dan ridha-Nya, tapi kalaupun meminta Allah soal hajat dunia, itupun tak dilarang

Bangunlah di sepertiga malam dan adukan semuanya pada Allah, memintalah kepada-Nya di saat banyak manusia tidur

Nabi saw bersabda, "Di malam hari terdapat suatu saat yang tidaklah seorang muslim memanjatkan doa pada Allah berkaitan dengan dunia dan akhiratnya bertepatan dengan saat tersebut melainkan Allah akan memberikan apa yang ia minta. Hal ini berlaku setiap malam" (HR Muslim)

Tiap malam Allah tawarkan kepada kita untuk meminta, tiap malam Allah tunggu doa kita untuk Dia kabulkan, tiap malam Allah tebarkan ampunan bagi yang meminta pada-Nya, yang perlu kita lakukan hanya berserius dan bersungguh-sungguh, istiqamah dalam meminta

Nabi saw juga mengingatkan kabar gembira, "Rabb kita tabaroka wa ta’ala turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa 1/3 malam terakhir, lalu Dia berkata: ‘Siapa yang berdoa pada-Ku, aku akan memperkenankan doanya. Siapa yang meminta pada-Ku, pasti akan Kuberi. Dan siapa yang meminta ampun pada-Ku, pasti akan Kuampuni’" (HR Bukhari Muslim)

MasyaAllah, masihkah kita sia-siakan malam-malam kita itu dengan tidur pulas semalaman? Seriuskah kita dengan apapun yang kita inginkan?


sumber : G+ Felix Siauw