Jangan Hanya Menuntut

Jangan Hanya Menuntut


KETIKA KEWAJIBAN HANYA DITUNTUT KAN PADA WANITA

*Kadang kutemui istri harus pandai menutup aurat, sementara suami tak pandai menundukkan pandangan.*

*Kadang kutemui istri harus pandai menjaga diri, sementara suami senang bermanja & bercanda ria dgn lawan jenis yg bukan mahromnya.*

*Kadang kutemui istri harus berpenampilan sunnah, sementara suami senang berpenampilan gaul.*

*Kadang kutemui istri harus mau membantu suami mencari nafkah, sementara suami enggan membantu pekerjaan rumah.*

*Kadang kutemui istri harus mau melahirkan banyak anak, sementara suami malas belajar tentang peran ayah yg memiliki banyak anak.*

*Kadang kutemui istri harus berdandan untuk suami, sementara suami malas berdandan untuk istri.*

*Kadang kutemui istri harus melayani suami dgn baik, sementara suami gengsi mendidik istri dgn lembut.*

*Kadang kutemui istri harus menjdi makmum yg taat, sementara suami enggan menjdi imam yg bijak.*

*Kadang kutemui istri harus menyiapkan keperluan suami tanpa diminta, sementara suami memberi nafkah hanya jika diminta.*

*Kadang kutemui istri harus sabar jika dimadu, sementara suami malas mendidik diri sendiri dgn sifat adil & amanah.*

*Dan sering kudengar para ibu mendidik anak perempuannya untuk pandai memasak, merawat anak, berhias, memuliakan suaminya bahkan ikut mencari nafkah, namun jarang kudengar para ibu mendidik anak laki²nya untuk pandai membatu pekerjaan istri, merawat anak & memuliakan istrinya, mereka hanya sekedar mendidik anak laki²nya untuk pandai mencari nafkah...*

*Miris, namun itulah realita, tak heran banyak wanita yg menuntut persamaan gender karna mereka terintimidasi, terutama bagi mereka yg memiliki pasangan yg tak faham AGAMA (Islam).*


*Nb : Semoga para istri yg mengalami point² di atas bisa tetap sabar & berusaha tetap taat melaksanakan kewajibannya. Semoga para suami yg melakukan point² di ats bisa bersikap dewasa & berusaha bijak memenuhi kewajibannya.*


*Wallahu 'alam*

*semoga bermanfaat*

*Demikianlah faedah yang ringkas ini semoga bisa menjadi tuntunan akhlak dan sebagai keteladanan yang bermanfaat bagi kita semua.*

آمين يارب العالمين

Aqidatul Awam [bait ke 5]

Aqidatul Awam [bait ke 5]

وَبَعْدُ فَاعْلَمْ بِوُجُوْبِ الْمَعْرِفَـهْ (5) مِنْ وَاجِـبٍ ِللهِ عِشْـرِيْنَ صِفَهْ
Dan setelahnya ketahuilah dengan yakin bahwa Allah itu mempunyai 20 sifat wajib.

Yang dimaksud sifat wajib di sini adalah sesuatu yang pasti ada atau dimiliki Allah SWT atau rasul-Nya, di mana akal tidak akan membenarkan jika sifat-sifat itu tidak ada pada Allah SWT dan rasul-Nya. Allah itu mempunyai 20 sifat wajib. Selain 20 sifat wajib itu, ada juga sifat mustahil dan sifat jaiz yang dimiliki Allah dan Rasul-nya yang dikenal dengan istilah Aqoid lima puluh


Aqoid lima puluh adalah 50 hal yang wajib ketahui dan diyakini oleh seorang yang beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

اِعْلَمْ أَنَّهُ يَجِبُ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يَعْرِفَ خَمْسِيْنَ عَقِيْدَةً وَكُلُّ عَقِيْدَةٍ يَجِبُ عَلَيْهَ أَنْ يَعْرِفَ لَهَا دَلِيْلاً اِجْمَالِيّا أَوْ تَفْصِيْلِيًّا (كفاية العوام، 3).

"Ketahuilah bahwa setiap muslim (laki-laki atau perempuan) wajib mengetahui lima puluh akidah beserta dalil-dalilnya yang bersifat global atau terperinci." (Kifayatul 'Awam, 3).

Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah terdiri dari 50 aqidah, di mana yang 50 aqidah ini dimasukkan ke dalam 2 kelompok besar, yaitu
1.      Aqidah Ilahiyyah (عقيدة الهية) dan
2.      Aqidah Nubuwwiyah (عقيدة نبوية).
Adapun Aqidah Ilahiyyah terdiri dari 41 sifat, yaitu:
a.      20 sifat yang wajib bagi Allah swt: wujud (وجود), qidam (قدم), baqa (بقاء), mukhalafah lil hawaditsi (مخالفة للحوادث), qiyamuhu bin nafsi (قيامه بالنفس), wahdaniyyat (وحدانية), qudrat (قدرة), iradat (ارادة), ilmu (علم), hayat (حياة), sama' (سمع), bashar (بصر), kalam (كلام), kaunuhu qadiran (كونه قديرا), kaunuhu muridan (كونه مريدا), kaunuhu 'aliman (كونه عليما), kaunuhu hayyan (كونه حيا), kaunuhu sami'an (كونه سميعا), kaunuhu bashiran (كونه بصيرا), dan kaunuhu mutakalliman (كونه متكلما).

b.      20 sifat yang mustahil bagi Allah swt: 'adam (tidak ada), huduts (baru), fana' (rusak), mumatsalah lil hawaditsi (menyerupai makhluk), 'adamul qiyam bin nafsi (tidak berdiri sendiri), ta'addud (berbilang), 'ajzu (lemah atau tidak mampu), karohah (terpaksa), jahlun (bodoh), maut, shamam (tuli), 'ama (buta), bukmun (gagu), kaunuhu 'ajizan, kaunuhu karihan, kaunuhu jahilan (كونه جاهلا), kaunuhu mayyitan (كونه ميتا), kaunuhu ashamma (كونه أصم), kaunuhu a'ma (كونه أعمى), dan kaunuhu abkam (كونه أبكم).
c.       1 sifat yang ja'iz bagi Allah swt.

Sedangkan, Aqidah Nubuwwiyah terdiri dari 9 sifat, yaitu:
a.      4 sifat yang wajib bagi para Nabi dan Rasul: siddiq (benar), tabligh (menyampaikan), Amanah, dan fathanah (cerdas).
b.      4 sifat yang mustahil bagi para Nabi dan Rasul: kidzib (bohong), kitman (menyembunyikan), khianat, dan baladah (bodoh).
c.       1 sifat yang ja'iz bagi para Nabi dan Rasul.
Aqidatul Awam [bait 3-4]

Aqidatul Awam [bait 3-4]


ثُمَّ الـصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ سَـرْمَدَا (3) عَلَى الـنَّـبِيِّ خَيْرِ مَنْ قَدْ وَحَّدَا

“Kemudian, semoga sholawat dan salam senantiasa tercurahkan pada Nabi sebaik-baiknya orang yang mengEsakan Allah.”

Kata solawat (الصلاة) menurut bahasa adalah berdo’a untuk kebaikan, jika kata Sholawat disandarkan pada Allah Ta’ala, maka mempunyai arti penambahan nikmat yang disertai dengan pengagungan dan penghormatan. Ada riwayat dari ibnu Abbas R.A. bahwasannya : Sholawat dari Allah berarti Rohmat, dan jika dari hamba berarti do’a dan jika dari malaikat berarti meminta ampun.

Lantas muncul pertanyaan, apa perlunya mengucapkan shalawat (do’a) kepada Nabi Muhammad SAW padahal beliau adalah orang yang mulia dan terpilih, dengan jaminan surga dari Allah SWT? Di dalam al-Qur’an disebutkan Allah SWT dan para malaikat mengucapkan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Sekaligus perintah Allah SWT kepada seluruh umat Islam untuk membaca shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW. "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (QS. al-Ahzab : 56).

oaseiman-langit-luas

Sebagian ulama menyatakan bahwa shalawat adalah mendoakan Nabi Muhammad SAW, agar pada masa yang akan datang, rahmat dan salam Allah SWT itu akan terus diberikan kepada Nabi Muhammad SAW. Sebagian ulama lain mengatakan bahwa walaupun shalawat adalah mendo’akan Nabi Muhammad SAW namun pada hakikatnya ketika seorang membaca shalawat ia sedang bertawassul dan mengharapkan barokah Allah SWT turun kepada dirinya dengan perantara shalawat tersebut. Oleh karena itulah ketika seseorang membaca shalawat, niatnya tidak untuk mendoa’kan Nabi Muhammad SAW, tetapi mengharap kepada Allah SWT agar semua keinginannya bisa terkabulkan dengan barokah shalawat yang dibaca.


وَآلِهِ وَصَـحْبِهِ وَمَـنْ تَـبِـعْ (4) سَـبِيْلَ دِيْنِ الْحَقِّ غَيْرَ مُـبْـتَدِعْ

“Dan keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti jalan agama secara benar bukan orang-orang yang berbuat bid’ah.”

Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW kemudian diiringi dengan shalawat kepada keluarga dan para sahabat Nabi Muhammad SAW, serta kepada orang-orang yang mengikuti jalan agama secara benar bukan orang-orang yang berbuat bid’ah.

Yang dimaksud dengan mereka (keluarga Nabi) yaitu dalam kedudukan do’a. Sebagaimana pengertian keluarga nabi disini adalah setiap mukmin yang bertaqwa. Berdasar hadits Nabi dari riwayat Anas bin Malik R.A. berkata : Rosululloh SAW ditanya, “Siapa keluarga Muhammad itu?” kemudian beliau menjawab : “keluarga Muhammad adalah setiap orang yang bertaqwa”. (1) Adapun dalam kedudukan zakat, Imam Malik Rahimahulloh berpendapat, mereka (keluarga Nabi) adalah bani Hasyim saja. Sedangkan Imam Syafi’i Rahimahulloh berpendapat, mereka (keluarga Nabi) adalah bani Hasyim dan Bani Mutholib.

Yang dimaksud sahabat Nabi adalah orang-orang yang pernah melihat Nabi dalam keadaan Islam dan meninggalkan dunia tetap pada keislamannya. Sahabat adalah orang-orang yang mulia, dan selalu dalam petunjuk Allah SWT, walaupun bukan berarti mereka tidak pernah berbuat salah dan dosa. Di antara mereka ada yang telah dijamin masuk surga. Mereka adalah orang-orang yang memiliki keimanan yang kokoh, rela mengorbankan harta bahka nyawa demi kejayaan agama Allah SWT. Taat beribadah kepada Allah SWT dengan sepenuh hati, bersujud demi mengabdi kepada Allah SWT.

Yang dimaksud bid’ah menurut bahsa berarti sesuatu yang baru tanpa ada contoh sebelumnya. Sedangkan menurut syara’ yaitu sesuatu yang baru yang bertentangan dengan ketentuan pembuat Syara’ (Allah).
Aqidatul Awam [bait2]

Aqidatul Awam [bait2]


 
فَالْحَـمْـدُ ِللهِ الْـقَدِيْمِ اْلأَوَّلِ (2) اَلآخِـرِ الْبَـاقـِيْ بِلاَ تَحَـوُّلِ

Maka segala puji bagi Allah Yang Maha Dahulu, Yang Maha Awal, Yang Maha Akhir, Yang Maha Tetap tanpa ada perubahan.

Dan saya (mushonnif/pengarang kitab) juga memulai mengarang Mandzumah (nadzhom2) ini dengan menambahkan hamdalah, maksdunya adalah dengan memuji dengan lisan pada Allah yang Qodim, Al Awwal, Al Akhir, Al Baqi disertai penghormatan padaNya dan meyakini bahwa setiap pujian itu tetap padaNya.

Arti الحمد menurut bahasa adalah pujian dengan lisan atas segala sesuatu yang tidak secara ikhtiar disertai rasa penghormatan baik nikmat itu diterima atau tidak, menurut syara’ adalah perbuatan yang tumbuh (keluar) dari penghormatan Sang Pemberi nikmat disebabkan bahwa Dia adalah pemberi nikmat walaupun tanpa ada orang yang memuji, baik perbuatan itu berupa dzikir dengan lisan, cinta dalam hati atau dilakukan dengan perbuatan.

Arti القديم adalah : Allah yang mewujudkan tanpa diawali dan wujudnya terus berlangsung.
Arti الاًول adalah : sebelum adanya segala sesuatu tanpa ada permulaannuya.
Arti الاخر adalah : setelah adanya sesuatu tanpa ada akhirannya.
Arti الباقي adalah : kekal yang terus berlangsung
Arti بلا تحول adalah : tanpa ada perubahan dan ini adalah bpenjelasan sifat Al Baqi.

Aqidatul Awam [bait 1]

Aqidatul Awam [bait 1]



أَبْـدَأُ بِـاسْمِ اللهِ وَالرَّحْـمَنِ (1) وَبِالرَّحِـيْـمِ دَائـِمِ اْلإِحْـسَانِ

Saya (Mushonnif / Pengarang Kitab) memulai dengan menyebut nama Allah, Dzat yang maha pengasih, dan Maha Penyayang yang senatiasa memberikan kenikmatan tiada putusnya.


Saya (Mushonnif / Pengarang Kitab), yakni Syekh Ahmad Marzuqi Al-Maliki memulai kitab ini dengan menyebut nama Allah SWT, Dzat yang Maha Pengasih (Dzat pemberi nikmat dengan seagung-agungnya nikmat, pokok-pokok nikmat seperti iman, kesehatan, rizqi, pendengaran, dsb.) dan Maha Penyayang (Dzat pemberi nikmat-nikmat yang bentuknya lembut (cabang) seperti bertambahnya iman, kesempurnaan nikmat, pendengaran, penglihatan dsb.) yang senatiasa memberikan kenikmatan tiada putusnya.