Tawassul

Tawassul

Istilah tawassul itu artinya menggunakan atau memakai wasilah (perantara). Maksudnya adalah berdoa KEPADA ALLAH dengan cara menyertakan penyebutan wasilah/perantara tertentu di dalam redaksi doa, yg dengannya diyakini atau diharapkan doa akan lebih mustajab/terkabul.

Dan bertawassul di dalam doa itu, secara umum, ada 4 macam, dimana 3 macam darinya disepakati dan yang keempat bersifat khilafiyah (diperselisihkan) diantara para ulama, sebagai berikut:

Pertama, bertawassul dg Asmaul Husna dan Sifat2 Allah Yang Tertinggi (QS. Al A'raf: 180). Seperti misalnya lafal doa: Ya Allah, dengan/melalui wasilah/perantaraan Asma-Mu dan Sifat2-Mu, kabulkanlah doa, munajat dan permohonanku..

Kedua, bertawassul dengan ibadah dan amal saleh tertentu, seperti shalat, puasa, tilawah, dzikir, infak, sedekah, bakti pada orang tua, dll. Baik itu amal ibadah yg telah usai dilakukan, kapanpun waktunya, maupun yang sedang dijalankan. 

Contoh terkenalnya adalah kisah dalam hadits muttafaq 'alaih ttg 3 orang sahabat yg terjebak di dalam sebuah goa yg tertutup oleh bongkahan batu besar, dan yg akhirnya berhasil keluar darinya, dg izin Allah, setelah masing2 berdoa dg cara bertawassul dg satu jenis amal andalan yg pernah diamalkannya di masa lalu.

Ketiga, bertawassul melali doa orang lain yang masih hidup. Atau dengan kata lain, meminta doa orang lain yg dianggap atau diharap doanya lebih mustajab. Seperti minta didoakan oleh ulama, kyai, ustadz, orang yang pergi haji/umrah atau musafir secara umum, atau minta doa kepada orang lain siapapun dia, termasuk orang biasa2 saja.

Ketiga macam tawassul diatas itu disepakati oleh seluruh ulama, tidak hanya ttg kebolehannya, tapi bahkan sepakat disunnahkan dan sangat dianjurkan.

Lalu yg keempat dan yg sifatnya khilafiyah (diperselisihkan) adalah bertawassul dengan menyertakan penyebutan orang2 saleh (khususnya yg telah wafat), baik itu nabi, sahabat, wali, ulama maupun orang2 saleh lainnya.

Nah tawassul macam keempat ini, seperti yang telah disebutkan, bersifat khilafiyah atau diperselisihkan diantara para ulama lintas madzhab.

Dimana sebagian ulama, seperti Imam Ahmad misalnya, membolehkan bertawassul dengan Nabi SAW saja. Sementara yang lain, seperti Imam Asy Syaukani dan banyak ulama lain dari berbagai madzhab, membolehkan tawassul dg Nabi SAW dan dengan seluruh ulama serta orang2 saleh pada umumnya, tanpa kecuali.

Sementara itu ada juga sejumlah ulama lain yg tidak membolehkan tawassul jenis ini dengan siapapun, baik dengan Nabi SAW ataupun apalagi dengan yang lain.

Contohnya seperti doa: "Ya Rabbi bilmushthofa balligh maqashidana.." (Ya Rabbi, dengan perantaraan Al Mushthofa/Nabi Muhammad SAW, sampaikanlah kami kepada tujuan2/harapan2/cita2 kami..).

Contoh lain misalnya seperti doa dalam shalawat badar:.. bi ahli Badrin ya Allah (dengan wasilah/perantaraan para sahabat peserta perang Badar, ya Allah..).

Dan yg terpenting ditegaskan bahwa, khilafiyah dalam masalah tawassul yg keempat ini bukankankah khilafiyah akidah, melainkan khilafiyah fiqih. 

Sehingga cara menyikapinyapun seperti cara menyikapi masalah2 khilafiyah fiqih pada umumnya, seperti khilafiyah masalah ushalli atau tidak, qunut subuh atau tidak, shalawat dg sayyidina atau tidak, tarawih 11 atau 23 rakaat, adzan Jum'at sekali atau 2 kali, dst. 

Dimana setiap muslim leluasa memilih dan mengikuti madzhab ulama manapun tentangnya, tapi disaat yg sama dia juga wajib memaklumi dan menghargai serta bertoleransi terhadap pilihan madzhab orang lain. Persis seperti dia yg tentu juga ingin bila pilihan madzhabnya dimaklumi, dihargai dan disikapi dg sikap penuh toleransi.

Oleh karenanya, maka tidak dibenarkan ada sikap penghakiman dari siapapun terhadap siapapun, dalam masalah2 khilafiyah fiqih seperti ini, misalnya dg saling membid'ahkan atau apalagi sampai saling mensyirikkan dll! 

Sumber : https://www.facebook.com/groups/KajianUstadzMudzoffar/?ref=share

Karya Di Usia Senja

Karya Di Usia Senja

 Oleh : Ahmad Syahrin Thoriq 

Jika usia pensiun menghalangi kita dari memulai melakukan hal-hal besar, ingatlah bahwa dalam sejarah sebagian orang besar justru ada yang baru memulai karyanya di usia tuanya.

Dahulu Rasulullah, Abu Bakar, Ustman dan banyak lagi sahabat yang turut dalam perang tabuk dengan menempuh jarak 600 km pada usia rata-rata di atas 60 tahun.


Umar Mukhtar tetap memimpin jihad di Libya dari usia 60 an hingga usia di atas 70 tahun. Yusuf bin Tashifin memimpin pertempuran Zalaqah di usia 74 tahun. Musa bin Nusair membuka Andalusia di usia 80 tahun. Dan Abbas bin Firnas menerbangkan pesawat pada usia 70 tahun. 

Di dunia ilmu, sang guru dari Umar bin Abdul Aziz, Shalih bin Kaisan memulai belajarnya di usia senja setelah lepas dari perbudakan, yakni 70 tahun. Dan baru berpikrah mengajar di usia 100 tahun.

Begitu juga riwayat dari ulama besar dari negeri Barat, yang menjadi salah satu bintangnya ulama madzhab Maliki, Abu Walid al Baji rahimahullah belajar agama usia 40 tahun dan baru menjadi ulama setelah berusia 70 an tahun.

Maka, jika hari ini usia senja membuat seseorang hanya berpangku tangan dari berjuang untuk agama, namun sebaliknya semakin rakus dalam memburu dunia, penyebabnya bukan karena udzur umur, tapi karena gelapnya hati oleh lumpur dosa dan jauhnya dia dari cahaya ilmu agama.

Doa Luar Biasa

Doa Luar Biasa


Suatu kali seorang anak sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Hari itu suasana sungguh meriah karena itu adalah babak final dan hanya 5 orang yang masih bertahan, termasuk Kevin. Sebelum pertandingan dimulai (sebut saja namanya) Kevin menundukkan kepala, melipat tangan dan berkomat kamit memanjatkan doa. Pertandingan dimulai, ternyata mobil balap Kevin yang pertama kali mencapai garis finish. Tentu Kevin girang sekali menjadi juara.

Saat pembagian hadiah, ketua panitia bertanya, “Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Alloh agar kamu menang bukan?” Kevin menjawab, “Bukan pak, rasanya tidak adil meminta pada Alloh untuk menolong mengalahkan orang lain. Aku hanya minta pada Alloh, supaya aku tidak menangis kalau aku kalah.” Semua hadirin terdiam mendengar itu.

Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk tangan yang memenuhi ruangan.

Permohonan Kevin ini merupakan doa yang luar biasa. Dia tidak meminta Alloh mengabulkan semua harapannya, namun ia berdoa agar diberikan kekuatan untuk menghadapi apapun yang terjadi dengan batin yang teguh.

Seringkali kita berdoa pada Alloh untuk mengabulkan setiap permintaan kita. Kita ingin Alloh menjadikan kita nomor satu, menjadikan yang terbaik dalam setiap kesempatan. Kita meminta agar Alloh menghalau setiap halangan dan cobaan yang ada di depan mata. Tidak salah memang, namun bukankah semestinya yang kita butuhkan adalah bimbingan-Nya dan rencana-Nya yang paling sempurna dalam hidup kita?

Seharusnya kita berdoa minta kekuatan untuk bisa menerima kehendak Alloh yang sempurna sebagai yang terbaik dalam hidup kita.

Jadi,selalu berdoalah agar kita selalu di beri kekuatan untuk menghadapi segala cobaan dan ujian yg di berikan Alloh kepada kita,ketika ujian dan cobaan telah kita lewati,niscaya kita akan menjadi manusia yg lebih baik

Semoga Alloh selalu memberikan segala kemudahan dan kekuatan dalam menghadapi segala urusan dunia & akhirat bagi kita smua 

--------Slmt Pagi & Slmt Beraktifitas

NASIB MANUSIA SIAPA YANG TAHU

NASIB MANUSIA SIAPA YANG TAHU

Pelajaran Tauhid yg Sangat Bernilai.

Dahulu Kala, ada Seorang Petani Miskin memiliki Seekor Kuda Putih yg Sangat Cantik dan Gagah..

Suatu hari, Seorang Saudagar Kaya ingin membeli Kuda itu & Menawarnya dg Harga yg sangat tinggi....!!

Tapi Sayang Si Petani Miskin itu Tidak mau Menjualnya..!!

Lalu Teman-temannya Menyayangkan dan mengejek karena dia tidak menjual Kudanya..



Keesokan Harinya, Kuda itu Hilang dari Kandangnya..

Maka Teman-temannya Berkata :

"Sungguh Jelek Nasibmu, Padahal Kalau Kemarin Kamu Jual, Kamu Pasti Kaya, Sekarang Kudamu Sudah Hilang.."_

Tapi Si Petani Miskin hanya Diam saja Tanpa Komentar...


Namun Beberapa Hari Kemudian, Kuda si petani kembali , bersama 5 Ekor Kuda liar lainnya..

Lalu Teman-temannya Berkata :

"Wah..! Beruntung Sekali Nasibmu, Ternyata Perginya Kudamu Membawa keberuntungan.."_

Si Petani Tetap Hanya diam saja..

Beberapa hari kemudian, Anak si Petani yg Sedang Melatih Kuda-kuda Baru mereka Terjatuh dan Kakinya Patah..

Lalu Teman-temannya berkata :

"Rupanya Kuda-kuda itu Membawa Sial, lihat sekarang Anakmu Kakinya Patah.."

Si Petani itu tetap Diam tanpa komentar..

Seminggu Kemudian terjadi peperangan di wilayah itu, semua Anak Muda di desa dipaksa untuk Berperang, Kecuali Si Anak Petani itu karena tidak Bisa Berjalan..!!

Teman-temannya Mendatangi Si Petani sambil Menangis :

"Beruntung Sekali Nasibmu Karena anakmu tidak ikut Berperang, Kami harus Kehilangan Anak-anak kami.."

Barulah Si Petani Kemudian Berkomentar :

"Janganlah Terlalu Cepat membuat Kesimpulan dg Mengatakan Nasib Baik atau Jeleknya..!!

Semuanya ini adalah Suatu Rangkaian Proses yg Belum Selesai...

Syukuri & Terima Keadaan yg Terjadi Saat ini..!!

• Apa yg Kelihatan Baik Hari ini belum Tentu baik Untuk Hari Esok..??

• Apa yg Buruk Hari ini Belum Tentu buruk untuk hari Esok.??

Tetapi yg Pasti, ALLAH Paling Tahu yg terbaik Buat Kita..!!

Bagian kita Adalah, Mengucapkan syukur dalam Segala hal, Sebab itulah yg dikehendaki ALLAH di dalam hidup kita ini..

Jalan yg dibentangkan ALLAH belum tentu yg tercepat, bukan pula yg termudah.. Tapi Sudah pasti yang Terbaik...


Semoga bermanfa'at.Aamiin yarobbal alamin


Ajakan Untuk Bersaudara Kepada Sesama Muslim.

Ajakan Untuk Bersaudara Kepada Sesama Muslim.

Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَبَاغَضُوا, وَلَا تَحَاسَدُوا, وَلَا تَدَابَرُوا. وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا. وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثٍ.


"Janganlah (sesama muslim) saling marah, saling dengki, dan saling membelakangi (tidak bertegur sapa). Tetapi jadilah kalian hamba Alloh yang bersaudara. Tidak halal bagi seorang muslim (alias haram), untuk mendiamkan saudaranya sesama muslim (dengan tidak bertegur sapa) lebih dari tiga hari." (HR. Muslim no. 4641).


•• Penjelasan Singkat:

Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam bersada:

"Janganlah (sesama muslim) saling marah, saling dengki, dan saling membelakangi (tidak bertegur sapa)."

Dalam hadits diatas Baginda Nabi melarang untuk saling marah, saling dengki (yaitu hati tidak suka jika saudara muslim mendapatkan nikmat Alloh), dan saling membelakangi (yaitu singkur-singkuran tidak mau menyapa). Nabi melarang dari ketiga hal yang disebut diatas untuk sesama muslim.

Kemudian Nabi bersabda:

"Tetapi jadilah kalian hamba Alloh yang bersaudara."

Bersaudara bukan berarti membenarkan kesalahan yang ada pada saudara muslim, bersaudara itu tetap dianjurkan untuk saling menegur dan meluruskan kesalahan saudara muslim.


Dan juga bukan berarti bolehnya menuntut 'ilmu kepada saudara muslim yang keliru dalam faham ber-islamnya. Karena umat islam telah dikabarkan oleh Nabi akan terpecah belah menjadi 73 golongan (yaitu dalam masalah pemahaman, bukan jumlah golongan), 72 golongan masuk neraka karena keliru dalam pemahaman terhadap islam (alias sesat), dan dibatasi oleh Nabi hanya 1 golongan saja yang akan masuk surga, yaitu yang benar pemahamannya terhadap agama, mereka adalah al jama'ah.


Al jama'ah adalah:

Setiap orang yang memiliki dua sifat dan karakter, yaitu:

(1) Mengikuti kebenaran. (Kebenaran yang dimaksud adalah al qur_an dan hadits shohih).

(2) Bersatu dan berkumpul dengan mereka-mereka yang berpegang dengan kebenaran tersebut. (Bukan asal bersatu dan berkumpul, yang mana disana ada pengagung kuburan dan suka meminta kepadanya, pelaku kebid'ahan dan berdakwah kepada bid'ah, ini keliru).


Maka dari itu, walaupun dia saudara muslim, jika pemahaman terhadap agama ini keliru, maka kita tidak boleh mendengarkan pengajiannya (baik di dunia maya semisal youtobe maupun di dunia nyata semisal di masjid). Karena dikhawatirkan pemahaman dia masuk kepada 72 golongan yang di ancam masuk neraka. (Penjelasan masalah ini sangat panjang dalam pembahasan manhaj).


Dan walaupun ada kekeliruan pada saudara muslim, tetap kita mengikat persaudaraan dengan mereka. Kita mencintai mereka sesuai kadar iman, tauhid, dan konsistennya terhadap sunnah. Tentu bagi yang benar keimanannya, tauhidnya, dan besar konsistennya terhadap sunnah porsinya lebih besar lagi untuk kita cintai.

Kemudian Nabi bersabda:

"Tidak halal bagi seorang muslim (alias haram), untuk mendiamkan saudaranya sesama muslim (dengan tidak bertegur sapa) lebih dari tiga hari."


Melalui hadits di atas haram hukumnya seorang muslim tidak bertegur sapa kepada muslim lainnya karena permasalahan pribadi dan permasalahan yang semisalnya dari perkara duniawi.


Namun jika tidak bertegur sapa karena permasalahan agama maka tidak mengapa lebih dari tiga hari, semisal dia mencela manhaj salaf, atau mencela 'Ulama' pembawa sunnah, dan semisalnya. Tujuannya adalah agar dia jera, bukan hanya melampiaskan kemarahan pribadi.



Tragedi Masa Lalu yang Terasa Lucu di Kemudian Hari

Tragedi Masa Lalu yang Terasa Lucu di Kemudian Hari

Oleh: Ita Nurita 

“Hidup yang dipandang tragedi dahulu, bisa jadi sekarang menjadi komedi.” (Charly Caplin) Qoute ini saya dapatkan dari webinar yang diselenggrakan komunitas Kovid Psikologi. 

Bahasannya seputar psikologi dan tips agar bisa tetap mengaktualisasi diri meski di era pandemi dan krisis yang tidak pasti kapan berakhirnya. Ada banyak kata kunci yang saya catat. Tapi kali ini, saya tertarik menulis tentang qoute Charly C

aplin di atas. Apa maknanya menurut Anda? Apa maknanya menurut saya? Bisa jadi jawabannya berbeda, tergantung pengalaman dan perasaan masing-masing. 

 Pernah mengalami tragedi di masa lalu adalah pengalaman pahit kebanyakan orang. Tapi tak semua mengakui bahwa sebuah tragedi itu selalu pahit, berat, dan penuh luka. Meski namanya tragedi, konotasinya memang sebuah kepahitan. Tragedi masa lalu bisa berhubungan dengan banyak orang atau lingkungan. Seperti permusuhan antar sahabat, perpisahan antar pasangan, perseteruan antar saudara, dan banyak lagi kasus lainnya. 

 Dulu, situasi semacam ini bisa membuat kita terpuruk, down, jatuh atau bahkan mengalami kesedihan yang dalam. Sejak usia 12 tahun, saya sudah menjadi yatim. Akibatnya saya tidak bisa kuliah sebagaimana teman-teman lainnya. Sementara menganggur, saya diajak ke Samarinda oleh om dan tante dari jalur ibu. 

Tinggal menumpang pada orang lain bukan sesuatu yang saya senangi. Saya merasa tidak merdeka Saya merasa tidak bebas untuk menentukan masa depan, termasuk urusan jodoh. Saya menolak tawaran jodoh dari keluarga besar om. 

Sayangnya, keputusan ini mendatangkan fitnah. Saya dianggap membangkang. Padahal waktu itu, saya hanya ingin pasangan yang lebih baik dari saya. Apalagi saat itu saya begitu semangat setelah ngaji pada seorang ustadzah yang kami sebut murobbiyah. Rupanya penolakan tersebut membuat keluarga besar menjadi kecewa. 

Apalagi Om yang menunjukkan perhatian lebih pada saya dengan niat mengasuh anak yatim dan membuat anak-anak beliau cemburu pada saya. Tak ayal, anak-anak Om pun terkesan memusuhi saya. Tragedi inilah yang membuat saya, pada waktu itu, benar-benar sedih. Saking sedihnya, saya harus menenangkan diri di rumah teman ngaji selama berhari-hari. 

Tak terasa, 25 tahun berlalu. Cerita itu jadi kenangan. Saya merasa, cerita masa lalu itu kadang terasa lucu kalau diingat-ingat. Begitu pula cerita kita dengan sahabat, saudara, dan lainnya. 

Pada saat itu kemarahan, kebencian, dan sakit diekspresikan dengan berbagai cara. Andai bisa ditulis seperti saat ini, tentu akan menjadi cerita lucu di kemudian hari. Tidak hanya kelucuan tragedinya, tapi juga kelucuan cara menulisnya. Jadi, biarkan cerita itu terjadi hari ini. 

Kelak kita saling menertawakan diri sendiri. Kalau ini terjadi saat kumpul-kumpul di dunia, bagaimana nanti kisah keadaan kita di akhirat ya? 

Semoga Allah karuniakan kita untuk bisa reuni akbar di surga dengan berbagai cerita lucu tragedi semasa di dunia.

 

sumber : orangramai

Keberkahan Waktu

Keberkahan Waktu

Rasulullah SAW menyebutkan bahwa salah satu tanda-tanda kecil dekatnya hari kiamat adalah waktu yang terasa semakin singkat.

“Tidak akan tiba hari kiamat hingga waktu semakin singkat. Satu tahun bagaikan satu bulan, satu bulan bagaikan satu minggu, satu minggu bagaikan satu hari, satu hari bagaikan satu jam. Dan satu jam bagaikan api yang membakar daun kurma” (HR. Ahmad-Tirmidzi).
Hilangnya Keberkahan Waktu

Para ulama hadits seperti Qadhi ‘Iyadh, Al-Nawawi, Ibn Abi Jamrah dan lain-lain menafsirkan singkatnya waktu ini dengan hilangnya keberkahan. Mereka berkata, “Maksud dari singkatnya waktu adalah hilangnya keberkahan dalam waktu tersebut. Sehingga satu hari misalnya tidak mampu dimanfaatkan melainkan seperti satu jam saja.”

Apa yang dimaksud keberkahan? Secara bahasa, kata “berkah” (barakah) bermakna bertambah (al-ziyadah) dan berkembang (al-nama). Kata ini lalu digunakan untuk menunjukkan “kebaikan yang banyak.”





Keberkahan yang paling penting adalah keberkahan di dalam waktu kita. Sebab, kita diciptakan untuk sebuah tugas maha penting, dan waktu adalah modal yang paling utama agar dapat menunaikan tugas tersebut dengan baik. Tanpa keberkahan dan manajemen waktu yang baik, seseorang tidak akan dapat menunaikan tugas itu dengan sempurna.
Waktu Lebih Berharga Daripada Uang dan Harta

Oleh karena itu, bagi hamba-hamba Allah yang sejati, waktu jauh lebih mahal dan lebih berharga daripada uang dan harta benda apapun di dunia ini. Keberkahan dalam waktu menjadi dambaan mereka melebihi yang lainnya.

Imam Abu Bakar bin ‘Ayyasy berkata, “Andai seseorang kehilangan sekeping emas, ia akan menyesal dan memikirkannya sepanjang hari. Ia mengeluh: Inna lillah, emas saya hilang. Namun belum pernah seseorang mengeluhkan: satu hari telah berlalu, apa yang telah aku lakukan dengannya?”

Seorang ahli hadits kenamaan Abu Bakar Al-Khatib Al-Baghdadi sering kali terlihat sedang membaca sambil berjalan sebab ia tidak ingin membuang waktunya percuma. Imam Ibn Rusyd, ahli fiqih dan filsafat terkenal, juga diceritakan tidak pernah meninggalkan membaca buku dan mengajar sepanjang hidupnya kecuali dua malam saja: yaitu ketika ia menikah dan ketika bapaknya meninggal dunia.

Imam Abdul Wahab Al-Sya’rani bercerita tentang gurunya Syeikh Zakaria Al-Anshari, “Selama dua puluh tahun aku melayaninya, belum pernah aku melihat beliau dalam kelalaian atau melakukan sesuatu yang tak berguna, baik siang ataupun malam hari. Jika seorang tamu berbicara terlalu panjang kepadanya, beliau segera berkata dengan tegas: ‘Kau telah membuang-buang waktuku.’
Dari Mana Kita Bisa Melihat Keberkahan Waktu?

Keberkahan waktu dapat kita lihat di sejarah hidup tokoh-tokoh Islam sejak masa sahabat. Mereka berhasil melahirkan prestasi besar hanya dalam masa yang sangat singkat sehingga agak sukar diterima logika “zaman hilang-berkah” seperti saat ini.

Zaid bin Tsabit, misalnya, berhasil melaksanakan perintah Nabi Saw untuk menguasai bahasa Yahudi (Suryaniah) –percakapan dan tulisan- hanya dalam 17 hari saja. Padahal pada saat itu belum ada alat bantu modern audio visual seperti sekarang ini. Bandingkan dengan diri kita yang memerlukan masa bertahun-tahun untuk mempelajari bahasa Arab atau Inggris tanpa memperoleh hasil yang membanggakan.

Para penulis biografi menceritakan bahwa Al Hafiz Ibn Syahin (seorang ulama hadits kenamaan) menulis 330 judul buku, salah satunya kitab tafsir Al Qur’an setebal seribu jilid. Di akhir hayatnya, ia meminta tukang tinta untuk menghitung berapa banyak tinta yang telah digunakannya untuk menulis. Ternyata jumlahnya mencapai 1800 liter tinta.

Sebagian ulama meriwayatkan bahwa Syeikh Abdul Ghaffar Al Qushi menulis sebuah kitab fiqih dalam mazhab Syafii setebal seribu jilid di kota Akhmim. Belum lagi Imam Al-Ghazali yang hanya hidup 55 tahun, dan Al-Nawawi yang hidup hanya 45 tahun, namun berhasil menulis banyak buku berharga berjilid-jilid. Juga Imam Ibn Al-Jauzi yang dikatakan Imam Al-Dzahabi, “Aku tidak mengetahui seorang ulama yang menulis sebanyak tulisan orang ini.

Mereka memiliki waktu yang sama dengan kita: satu bulan terdiri dari empat minggu, satu minggu terdiri dari tujuh hari, dan satu hari terdiri dari 24 jam. Namun keberkahan dalam waktu memungkinkan mereka berkarya dan membuahkan prestasi lebih banyak dari kita. Keberkahan waktu benar-benar telah hilang pada masa kini, sehingga sering kali waktu terlewat tanpa produktivitas amal yang berarti.

Oleh: Satria Hadi Lubis

Fenomena Kajian Akhir Zaman

Fenomena Kajian Akhir Zaman

Belakangan ini, kajian tentang fenomena akhir zaman amat laris manis. Masjid membludak dipadati jamaah yang penasaran dengan cerita-cerita tentang Dajjal, Nabi Isa as dan Imam Mahdi.

Saya senang dengan realitas ini. Sayangnya, sejumlah muballigh sering kebablasan. Karena ini adalah perkara ghaib, maka seyogianya, pembahasannya mesti dicukupkan pada uraian periwayatan yang shahih, atau seminimalnya hasan.

Jika ada tafsiran ulama, harus disebutkan menurut pendapat siapa. Sehingga umat tahu bahwa pendapat tersebut bukanlah absolut atau ijma’ yang wajib diikuti.

Sementara bila ada tambahan yang berasal dari hadits-hadits yang dhaif, maka harus ada keterangan penjelasnya. Apalagi jika dibumbui dari kisah israiliyat, bahkan cerita anonim yang lebih tepat disebut mitos.


Yang paling mengerikan bagi saya, adalah memastikan peristiwa tertentu di masa kini dengan nubuwwat Nabi SAW.



Misalnya ada sebagian pegiat kajian akhir zaman yang menyebut bahwa Imam Mahdi telah bersama Ashhabu Rayatis Suud yang kemudian dipastikan pasukan tersebut adalah Thaliban di Afghanistan.
Ada pula Ustadz Abu Fatiah Al-Adnani yang pernah menulis buku “Dajjal Telah Muncul dari Khurasan”.

Intinya, ada seseorang yang dituduh sebagai Dajjal bernama Sai Baba karena dianggap memiliki banyak kesaktian. Eh, ternyata Sai Baba ini meninggal dunia pada tahun 2011. Gugurlah semua spekulasi selama ini. Rupanya, si terduga hanyalah sesosok guru spiritual belaka.

Sebenarnya, bisa dibilang URB terjerumus di lubang yang sama. Beliau mencampuradukkan dalil syar’i dengan dongeng, sehingga kebenaran justru semakin samar.

Misalnya, beliau mengatakan bahwa Tembok Raksasa Cina dibangun oleh raja Mesir yang beriman Dzulqarnain untuk menghalangi Ya’juj dan Ma’juj.

Begitupun Piramida di Giza, klaimnya, juga di-arsiteki oleh Dzulqarnain. Warganet lalu dengan genit bertanya, “Katanya Dzulqarnain orang beriman, kok bikin bangunan berbentuk simbol kafir (segitiga)?” Hehe. Siapa yang tidak bingung dengan kontradiksi ini.

Dalam ceramahnya, URB berulang kali menyebut nama Syaikh Hamdi bin Hamzah Abu Zaid sebagai sumbernya. Diketahui Syaikh Hamdi adalah penulis buku “Fakk Asrar Fii Dzi Al-Qarnain Wa Ya’juj Wa Ma’juj”.

Di mana, terbit pertama kali 1425 H, dan diterjemahkan di Indonesia oleh Penerbit Almahira dengan judul Munculnya Ya’juj & Ma’juj di Asia, Misteri Perjalanan Dzulqarnain ke Cina.

Merujuk buku itu, URB juga meyakini bahwa etnis Cina merupakan keturunan Ya’juj dan Ma’juj.
Yang paling lucu adalah saat URB dalam unggahan akun instagram resminya menyebut bahwa Samiri berganti-ganti nama.

Di zaman Nabi Isa, ia bernama Yudas Iskariot. Setelah dia selamat dari penyaliban, dia berganti nama menjadi Rasul Paulus yang katanya berciri mirip Dajjal.

Setelah diusir Barnabas, ia mengembara ke Segitiga Bermuda. Masih menurut URB, julukan Paman Sam bagi Amerika Serikat berasal dari nama Samiri, sang pembuat patung sapi.
Jeratan Hoaks

Benarkah demikian? Setidaknya laman wikipedia melansir bahwa Paman Sam adalah sebuah istilah yang diciptakan di AS pada masa perang pada tahun 1812 untuk melambangkan Amerika Serikat.
Nama istilah ini berasal dari nama seorang penyuplai daging bernama Samuel Wilson yang menyediakan daging-daging kepada para tentara, dalam tong-tong bertuliskan “U.S.” (singkatan dari United States): Amerika Serikat; tetapi oleh para tentara dijadikan singkatan dari Uncle Sam: (Paman Sam).

Selanjutnya, salah satu syubhat pemikiran URB adalah pernyataannya bahwa Segitiga Bermuda yaitu kawasan perairan laut antara Florida, Puerto Rico dan Bermuda merupakan tempat azazil (iblis) membangun istana. Itulah sebabnya banyak kapal dan pesawat terbang hilang di sana.


Menurutnya, Azazil membangun istana-istana dari kristal cahaya. Demikianlah sebabnya mengapa kapal itu tampak menghilang.

“Sebetulnya tidak hilang. Ada, tapi tertutup kristal cahaya,” tegas Pembina One Ummah Movement ini.

Selain itu, URB menyebut bahwa kristal cahaya itu pula yang menjadi trik pesulap David Copperfield menghilangkan patung Liberty. Entah dari mana sumbernya.

Tapi dalam forum bersama RK di Pusdai, URB menukil buku “Dajjal Akan Muncul dari Segitiga Bermuda” karya Muhammad Isa Dawud.

Si penulis itu jelas bukan ulama. Ia hanyalah jurnalis Mesir yang sebelumnya ngetop, gara-gara buku kontroversialnya penuh syubhat akidah, “Dialog dengan Jin Muslim”.

Jika kita punya ketelitian memverifikasi, kita dengan mudah bisa menemukan bahwa sang muballigh telah termakan hoaks lawas yang sudah bertahun-tahun diklarifikasi. Tapi saban tahun, kerap muncul lagi dan dipercaya orang.

Misalnya, URB mengatakan bahwa ketika Utsman bin ‘Affan menyusun mushaf, beliau mencari kertas ke Cina dan bertemu ulama Uyghur namanya Wong Fei Hung.

Padahal, Wong Fei Hung lahir 9 Juli 1847, meninggal 17 April 1925. Bagaimana logikanya bisa bertemu dengan Sayyidina ‘Utsman? Praktisi ilmu beladiri Hung Ga ini lahir di Foshan, sebelah timur Tiongkok.

Kenapa tiba-tiba jadi ulama Uyghur yang berbasis di Xinjiang, sebelah barat negeri Tirai Bambu tersebut? Ini jelas hoaks lawas yang sudah terbantah.

Di potongan video yang viral, URB menyebut Unidentifyed Flying Object (UFO) adalah kendaraan pengintai dajjal untuk mengintai kekuatan dunia.

Ia juga menyebut crop circle sebagai kode konspirasi dunia. Seperti crop circle yang muncul di Jogja beberapa waktu lalu.

Duh, sedihnya mendengarkan itu. Karena faktanya, pada tahun 2011, seorang mahasiswa sains mengaku membuat “jejak UFO” tersebut di areal persawahan Jogotirto, Berbah, Sleman, Jogjakarta.
Masih di video yang sama, URB mengatakan bahwa UFO mendarat di Area 51 Nevada, Amerika Serikat.

“Di sana take over, landing-nya UFO. Di sana UFO dibuat,” ujarnya.
Artikel Tony Firman di Tirto.id pada 17 Juli 2019 kemarin, telah memaparkan bagaimana sederet teori konspirasi lahir dari gurun Nevada.

Di instalasi militer rahasia AS yang letaknya 129 km di sebelah barat laut Las Vegas tersebut, hanyalah fasilitas pengujian pesawat terbang, helikopter, pesawat tanpa awak dan aneka teknologi militer.

Tidak ada hubungannya dengan UFO. Satu-satunya yang bikin isu UFO di sana heboh adalah pengakuan George Knapp pada tahun 1989 bahwa ia menyaksikan foto-foto otopsi alien dan pemeriksaan UFO, saat ia bekerja di sana.

Ah, sudahlah. URB sudah pasti tak suka dituduh bahwa konten ceramahnya adalah cocoklogi. Namun, lihat bagaimana ia menyebut Y2K dalam presentasinya sebagai singkatan dari Year of Yehuda Kingdom? Ini jelas ngawur.

Sebab Y2K aslinya adalah kependekan dari Year 2000 untuk merujuk pada problem akibat kesalahan pengitungan komputer, terkait sistem penyimpanan tanggal yang cuma menyediakan dua digit untuk tahun. Tak ada yang lain.

Tak hanya itu, sang ustadz menjelaskan materi utak-atik gathuk tentang pesawat yang menabrak gedung kembar WTC.

Beliau menerangkan kode penerbangan pesawat penabrak adalah Q33NY yang jika dibuka dalam aplikasi Microsot Word dan font-nya diganti menjadi Wingdings maka akan berubah menjadi simbol pesawat, note kembar, tengkorak dan bintang David (lambang bendera Israel).

Benarkah ini?
Ya jelas keliru. Aslinya dua pesawat penabrak WTC adalah AAL11 dengan nomor registrasi pesawat N334AA, dan UA175 dengan nomor registrasi pesawat N612UA.
Sudah Tabayyun Belum?

Jadi sudah paham dengan argumen saya kan? Tapi tak semua bisa mencernanya. Seorang kawan menegur saya via Whatsapp, “Antum sudah tabayyun dengan beliau belum?”

Saya jawab apa adanya. Ketemu saja belum, bagaimana saya mau tabayyun. Beragam pertanyaan dan kritik warganet di youtube dan instagram saja tak ada yang digubris beliau.

Lagi pula, sebagian kekeliruan telah nyata sebagai kabar bohong. Tak perlu lagi klarifikasi.
Pasti akan ada yang menuduh saya sombong. Toh saya bukan ulama juga. Ya, saya memang bukan ahli agama. Saya tidak punya kapasitas berfatwa.

Tapi saya adalah seorang manusia yang mencoba memverifikasi setiap kabar yang saya terima dan tidak lekas-lekas menyebarnya.

Saya ingat betul petuah Baginda yang mulia SAW, “Cukuplah seorang Muslim disebut pendusta, jika ia mengatakan semua yang ia dengar”.

Lantas, ada beberapa teman yang menyarankan saya hadir saja di kajian URB, agar bisa bertanya secara langsung dan mendesak beliau agar menyebutkan maraji’ alias referensi atas pernyataan-pernyataannya yang sensasional itu.

Terima kasih atas masukannya. Nanti akan saya pertimbangkan matang-matang. Saya hanya khawatir, ketika ditanya secara tajam, URB hanya menjawab seperti ketika ditanya oleh penyidik kepolisian saat dijadikan tersangka hoaks petugas KPPS tewas diracun:
“Tentang apa yang diberitakan kalau saya menyebarkan berita bohong terkait dengan anggota KPPS yang meninggal dunia, itu saya hanya mengutip saja dari pemberitaan yang sudah viral di media sosial”.


Bagaimana? Coba disimak baik-baik sindiran pengarang Malaysia ini, “Orang-orang di zaman akan datang, akan gemar sekali bercakap-cakap pada perkara-perkara yang mereka tidak tahu, merendahkan mutu orang lain: menghina dan mencela dengan tidak usul, periksa lebih dahulu dan dengan tidak bersebab apa-apa,” (Ishak Haji Muhammad, Anak Mat Lela Gila).
Wallahu a’lam bish-shawab.


Oleh : Anugrah Roby Syahputra
Kamu Dulu Bukan Siapa Siapa Tanpa Kami, Benarkah?

Kamu Dulu Bukan Siapa Siapa Tanpa Kami, Benarkah?

Kamu Dulu Bukan Siapa Siapa Tanpa Kami, Benarkah?

Saat Imam Syafi’i memilih berbeda dan Gurunya, Imam Malik, maka itu kebaikan. Bukan tidak berterima kasih pada Gurunya

Saat Imam Ahmad berbeda dengan Imam Syafii maka itu bukan tidak hormat, tetapi pilihan atas pemahaman.

Perbedaan pilihan itu bukan futur, bukan gugur dijalan dakwah.

Dulu kita belajar di pondok Nahdhiyin lalu seiring waktu belajar di Muhammadiyah dan menjadi pengurus Muhammadiyah. Apakah ini futur dan gugur di Jalan dakwah? Bukan, dia tetap dijalan Alloh. Hanya pilihan berbeda.


 Dulu aktif di Muhammadiyah, lalu aktif di Al Irsyad, apakah ini gugur dijalan dakwah?

Tidak, dia istiqomah dan ahlu sunnah, namun dia hanya memilih sebuah keputusan yang berbeda.

Dulu di ikut salafi lalu ngaji di Tarbiyah, apakah akan disebut mendapat hidayah? Hasbunalloh, bukan, dia sedang berpindah dari fikroh ahlu sunnah ke fikroh ahlu sunnah yang lain.

Dulu belajar di Tarbiyah lalu jadi Salafi, apakah akan antm sebut berguguran di jalan dakwah?

Hasbunalloh, bukan. Dia sedang berpindah kamar tetapi masih dalam satu rumah.

Yang menyedihkan adalah saat dia berpindah lalu engkau sebut gugur dari jalan dakwah.

Yang menyedihkan adalah saat makna dakwah menjadi milik satu kelompok.

Islam sampai di dada kita, karena jasa kedua orang tua kita, yang pernah belajar dari orang tuanya, dari guru ngajinya, dari ustadnya dari kyai-nya dan terus ke atas sanad itu bersambung.

Semua punya jasa atas diri kita hari ini, dari manapun

Ada yang menganggap bahwa jamaahnya paling berkah dan jamaahnya lah sang pemilik dakwah

Beristighfarlah, karena Islam sampai dirumah kita karena perjuangan para sesepuh, kyai kyai yang ikhlas mengajari kedua orang tua kita.

Tegakah kita mengatakan mereka tidak dijalan dakwah?

Jadi, doakanlah mereka yang memilih jalan berbeda, sebagaimana Imam Ahmad senantiasa mendoakan Imam Syafi’i dalam sholatnya, 40 tahun lamanya.

Para imam itu saling menghormati dan saling memuji. Tidak ada diantara mereka merasa paling berjasa atas yang lain.

Merasa berjasa adalah penyakit hati yang merusak amal.

يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا قُل لّا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلامَكُم بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلإِيمَانِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

“Mereka merasa telah berjasa kepadamu dengan keIslaman mereka. Katakanlah, “Janganlah kamu merasa berjasa kepadaku dengan keIslamanmu, sebenarnya Allah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang yang jujur.” ( Al-Hujurat: 17)

At-Thabari rahimahullah berkata,

وذُكر أن هؤلاء الأعراب من بني أسد, امتنوا على رسول الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم, فقالوا: آمنا من غير قتال, ولم نقاتلك كما قاتلك غيرنا, فأنـزل الله فيهم

“Disebutkan bahwa mereka adalah Arab badui dari bani Asad yang menyebut-nyebut (jasa) kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam , mereka berkata, kami masuk Islam tanpa peperangan, kami tidak memerangimu sebagimana orang yang lain. Maka Allah menurunkan Ayat ini (Tafsir Ath Thabari)

Merasa telah berjasa adalah buah dari kekhilafan ruhani, dan keringnya keikhlasan.

Ibnu Katsir menjelaskan

{قُلْ لَا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلامَكُمْ}

Katakanlah, "Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu.” (Al-Hujurat: 17)

karena sesungguhnya hal itu manfaatnya kembali kepada dirimu sendiri, Allah-lah yang sebenarnya memberi nikmat kepada kalian karena Dialah yang menunjukkan kalian kepada Islam.

Sesungguhnya Alloh lah yang telah memberikan hidayah pada siapapun yang dikehendakiNYA.

Hidayah itu Alloh turunkan dari sebab yang banyak.

Kewajiban bagi yang mendapatkan hidayah adalah bersyukur pada Alloh dan berterima kasih pada orang yang menjadi sebab datangnya hidayah.

Kewajiban bagi para dai yang telah menyeru adalah mengkhilaskan diri, dan tidak merasa berjasa atas hidayah. Karena Alloh lah yang memiliki hidayah.

Jangan pula merasa telah membesarkan dan memberi rizki. Astaghfirulloh

Karena Alloh lah yang menciptakan dan DIA pula yang menjamin rizki hambaNYA.

DIA pula yang mengangkat dan merendahkan derajat seseorang.

Mari berhenti merasa berjasa, agar amal tidak sirna bersama usia.

Wallohua’lam

*Ust M Nadhif Khalyani Founder RLC*
Firaunpun Membuat Hoax

Firaunpun Membuat Hoax

FIR'AUN PUN MEMBUAT HOAX

By M. Nadhif Khalyani


Nabi Musa dan Nabi Harun mendapat titah untuk mendatangi Fir'aun di istananya. Dakwah harus disampaikan. Setelah dari Madyan, Nabi Musa bergegas menuju Mesir, bergerak bersama saudaranya, Harun as.

 Nabi Musa membawa risalah, mengajak pada Tauhid, mengingatkan tentang siksa dan azab NYA, serta *bukti valid* berupa Mu'jizat, tongkat yang berubah menjadi Ular dan tangan yang bercahaya. Dua "bukti valid" Mu'jizat ini Alloh berikan untuk memperteguh Musa. (Qashashul Anbiya' : 501)

Terjadilah dialog logika antara Fir'aun dan Musa.

Perdebatan panjang ini dimenangkan oleh Nabi Musa dan Nabi Harun. Semua logika, argumen Fir'aun bisa dikalahkan dengan hujjah dan akal sehat Nabi Musa.

Ibnu Katsir menyebutkan tema tema perdebatan tersebut di buku beliau Qashashul anbiya, diantaranya tentang Rabb, ummat terdahulu, hingga Fir'aun menantang Musa untuk menunjukkan bukti bahwa beliau adalah utusan Alloh. Semua perdebatan dimenangkan Nabi Musa dengan argumen yang sulit dibantah.


Maka disepakatilah waktu untuk membuktikan kebenaran Musa. Nabi Musa hendak menunjukkan *"bukti valid"*.

Allah SWT berfirman:

قَا لَ مَوْعِدُكُمْ يَوْمُ الزِّيْنَةِ وَاَ نْ يُّحْشَرَ النَّاسُ ضُحًى
"Dia (Musa) berkata, (Perjanjian) waktu (untuk pertemuan kami dengan kamu itu) ialah pada hari raya dan hendaklah orang-orang dikumpulkan pada pagi hari (duha)."
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 59)

Yaitu hari raya mereka dan hari libur mereka, dimaksudkan agar semua orang dapat menyaksikan kekuasaan Allah atas apa yang dikehendaki­Nya melalui mukjizat nabi, dan kalahnya ilmu sihir menghadapi mukjizat nabi. (Tafsir Ibnu Katsir Surah Thaha : 59).

Maka hari tersebut disepakati menjadi *"event resmi"* yang akan membuktikan benar dan salah. Event resmi tersebut menjadi ajang "pertarungan" 2 kubu, yakni Nabi Musa dan Para Penyihir Fir'aun

Singkat cerita, pada event pertarungan resmi tersebut para penyihir Fir'aun kalah. Fir'aun terpojok karena event tersebut disaksikan oleh rakyat.

Fir'aun pun berulah.....

Dia berusaha memutarbalikkan fakta...

Ibnu Katsir mengatakan Fir'aun mengucapkan kata-kata yang ia sendiri, para ahli sihir, dan semua orang mengetahui bahwa ia dusta karena dikalahkan.

إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ

Sesungguhnya dia adalah pemimpin kalian yang mengajarkan sihir kepada kamu sekalian. (Thaha: 71)

Yaitu kalian telah belajar ilmu sihir dari Musa dan kalian telah sepakat dengannya untuk melawanku —juga rakyatku— agar kalian menampak­kan kemenangan kalian terhadapku. (Tafsir Ibnu Katsir Surah Thaha 71)

Tidak hanya sampai disitu, firaun mengatakan....

Sesungguhnya (perbuatan) ini adalah suatu muslihat yang telah kalian rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduknya darinya. (Al-A'raf: 123)

Sesungguhnya kemenangan Musa atas kalian di hari kalian ini hanyalah sandiwara saja dan berdasarkan kerelaan kalian sendiri.

Nabi Musa mengetahui dan semua orang yang mempunyai pemikiran yang sehat mengetahui bahwa apa yang dikatakan oleh Fir'aun adalah suatu kebatilan yang parah, karena sesungguhnya Nabi Musa 'alaihissalam begitu datang dari Madyan langsung menyeru Fir'aun untuk menyembah Allah.

Lalu Musa menampakkan beberapa mukjizat yang jelas dan hujah-hujah yang mematahkan untuk membuktikan kebenaran dari apa yang disampaikannya. Tetapi saat itulah Fir'aun mengirimkan beberapa utusannya ke pelbagai kota yang berada di bawah kekuasaannya untuk mengundang semua ahli sihir.

Kemudian Fir'aun mengumpulkan semua ahli sihir dari berbagai negeri yang tunduk pada kekuasaannya di Mesir, mereka adalah ahli sihir pilihan hasil seleksi para pemimpin dari kaum Fir'aun.

Lalu semuanya dihadapkan kepada Fir'aun, dan Fir'aun menjanjikan akan memberikan harta yang berlimpah kepada mereka. Karena itulah para ahli sihir terdorong untuk memenangkan pertandingan tersebut di hadapan Raja Fir'aun.

Nabi Musa 'alaihissalam sama sekali tidak mengenal seorang pun dari mereka, tidak pernah pula melihatnya, dan sama sekali tidak pernah bersua dengan mereka.

Fir'aun sendiri mengetahui hal tersebut. Maka sesungguhnya apa yang dikatakan oleh Fir'aun setelah semua jagonya kalah hanyalah semata-mata menutupi kekalahannya di mata rakyatnya dan orang-orang yang tidak mengerti dari kalangan kaumnya. (Tafsir Ibnu Katsir Surah Al A'raf 123)

Fir'aun secara de facto kalah dalam event terbuka yang disaksikan rakyatnya sendiri.

Namun kesombongan dan kekufurannya telah membutakan mata hatinya.

Pasca kekalahan dalam event terbuka tersebut, sikap Fir'aun tidak berubah, bahkan semakin memusuhi Nabi Musa dan Bani Israil.

Fir'aun mendengarkan hasutan para pembesar pembesar nya untuk menyiksa Musa dan bertindak semakin brutal. (Qashashul Anbiya : 521)

Alloh turunkan bencana dan hukuman pada Fir'aun dan para pendukungnya berupa kekeringan, packlik, topan, serangan belalang, katak hingga darah (minuman berubah menjadi darah).

Namun Fir'aun tetap dalam kekafirannya dan justru membuat fitnah baru, yakni

{يَطَّيَّرُوا بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ}

mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang bersamanya. (Al-A'raf: 131)

Maksudnya, hal tersebut terjadi karena ulah Musa dan para pengikutnya serta apa yang dibawa oleh mereka. (Tafsir Ibnu Katsir Surah Al A'raf 131)

Rupanya sudah menjadi tabiat penguasa dholim ini, kekalahan tidak membuatnya mau menyadari. Bencana juga tidak membuatnya mau bertobat. Bahkan dengan ringan membuat fitnah dan memutarbalikkan fakta.

Para pembesar di negeri itu berkata kepada Fir'aun.

{أَتَذَرُ مُوسَى وَقَوْمَهُ}

Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya. (Al-A'raf: 127)

Artinya, apakah engkau biarkan mereka menimbulkan kerusakan di bumi, yakni merusak rakyatmu dan menyeru mereka untuk menyembah Tuhan mereka, bukan menyembah kepadamu? Alangkah meng­herankannya, mengapa mereka merasa khawatir Musa dan kaumnya akan menimbulkan kerusakan.

Bukankah sebenarnya Fir'aun dan kaumnyalah orang-orang yang membuat kerusakan itu, tetapi Fir'aun dan kaumnya tidak merasa, bahwa diri mereka sebenarnya adalah para perusak?
(Tafsir Ibnu Katsir Surah Al A'raf 127)

Demikianlah hoax dan pemutarbalikan fakta yang dilakukan Fir'aun dan para pendukungnya.

Mereka terlalu kuat, dan Nabi Musa beserta kaumnya adalah kelompok yang lemah.

Puncak dari semua kondisi ini adalah eskalasi penindasan semakin meningkat, Nabi Musa dan kaumnya memutuskan _"turun ke jalan"_, melarikan diri, meninggalkan Mesir.

Rupanya keputusan ini membuat Fir'aun semakin kalap, dia kerahkan 1.600.000 tentara untuk memburu Nabi Musa dan kaumnya.

Pertarungan dalam _*event resmi*_tidak membuat Fir'aun beriman dan mengakui , maka jalanan menjadi takdir yang mengubah jalan cerita Nabi Musa.

Hingga dipuncak ketidakberdayaannya di jalan "buntu" itu, Alloh turunkan Mu'jizat yang tidak pernah disangka siapapun.

Laut terbelah, dan Firaun musnah

Cerita Nabi Musa penuh dengan hikmah yang menyuburkan jiwa.

Namun mendebarkan dan mencekam jika harus terulang dan menjadi nyata.

_Hasbunallohu wa ni'mal wakil_

_Nashrun minalloh wa fat-hun qariib_