Amal amal  Sholeh Pada 10 Hari Dzulhijjah

Amal amal Sholeh Pada 10 Hari Dzulhijjah

 

Ilustrasi Qurban
foto : riaumag.com

Amal-amal saleh pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah terbagi menjadi dua kelompok: 


Pertama: Amal-amal saleh dengan anjuran khusus pada hari-hari ini, berdasarkan hadits-hadits sahih: 

1. Haji mabrur baik fardhu maupun sunnah.

2. Memperbanyak kumandang tahlil, takbir, tahmid dan lain-lain.

3. Mengumandangkan takbir baik yang bersifat muthlaq (bebas dan umum sepanjang waktu sejak awal Dzulhijjah sampai hari terakhir dari hari-hari tasyriq, yakni tanggal 13 Dzulhijjah), maupun yang bersifat muqayyad (terikat dan khusus pada seusai tiap shalat fardhu sampai shalat asar pada hari tasyriq terakhir).

4. Tidak memotong dan menggunting atau mencukur rambut dan bulu, khusus bagi pequrban, sejak malam 1 Dzulhijjah sampai hewan qurbannya disembelih.

5. Puasa pada hari Arafah bagi selain jamaah haji.

6. Menyembelih hewan qurban, dan yang paling utama dilakukan tepat pada hari raya 'iedul adha agar masih termasuk dalam cakupan 10 hari termulia dari bulan Dzulhijjah (meskipun waktu penyembelihan tentu masih boleh dan sah sampai akhir hari tasyriq). 

Kedua: Amal-amal saleh yang bersifat umum, baik pada 10 hari bulan Dzulhijjah ini maupun pada hari-hari dan bulan-bulan lain: 

1. Yang paling utama tentu adalah menunaikan kewajiban-kewajiban, yang sangat banyak sekali, dan yang terpenting misalnya: selalu menjaga kemurnian tauhid, menjalankan shalat-shalat fardhu, mengeluarkan zakat jika telah tiba waktu wajibnya, berpuasa wajib seperti puasa nadzar, puasa kaffarat, dan puasa hutang, birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua), menyambung tali silaturrahim, menuntut ilmu, melakukan amar bilma'ruf dan nahi 'anil munkar, dan lain-lain. 

2. Amal-amal sunnah secara umum, utamanya amal-amal ibadah sunnah dari jenis amal ibadah wajib, dan juga yang ada dalil sahih tentang kelebihan fadhilah nya secara khusus dibanding yang lain; seperti shalat sunnah rawatib, qiyamullail (shalat malam), puasa, umrah, shalawat atas Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, dzikir, memberi bantuan, infak dan sedekah, dan lain-lain. 

Di dalam hadits sahih dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda (yang artinya): "Tiada hari-hari dimana amal saleh padanya, lebih dicintai oleh Allah kecuali hari-hari ini", yakni 10 hari pertama Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: ya Rasulallah, termasuk tidak juga jihad fi sabilillah (bisa menandingi derajat amal saleh pada 10 hari ini)? Beliau bersabda: "Ya, tidak juga jihad fi sabilillah (bisa menandingi), kecuali hanya seseorang yang keluar (ke medan jihad) dengan jiwa dan hartanya sendiri, lalu tidak ada yang kembali lagi (artinya gugur sebagai syahid)". (HR. Al Bukhari).


sumber : KUM 

Kirim Doa Untuk Orang Yang Sudah Meninggal, Sampaikah?

Kirim Doa Untuk Orang Yang Sudah Meninggal, Sampaikah?

I
Ilustrasi ( Foto: Freepik)


Pertanyaan :

Assalamu'alaikum mau tanya kalau kiriman ngaji yasin al-fatihah dll, akan sampaikah ke orang yang sudah meninggal? Terus kalau sedekah atas nama orang yang sudah meninggal bisa tidak? 


Jawaban : 


Wa'alaikumussalam wr.wb.

Tentang masalah "kirim" atau menghadiahkan pahala bacaan Al-Qur'an kepada mayit seperti bacaan Al Fatihah, ayat Al Kursi, surah Yasin dan lain-lain, hukumnya khilafiyah (diperselisihkan) diantara para ulama. Sebagian membolehkan dan menyatakan "kiriman"/penghadiahan akan sampai kepada mayit, dan sebagian yang lain menyatakan tidak sampai.

Diantara ulama yang membolehkan karena berpendapat bahwa, "kiriman"/penghadiahan tersebuat sampai adalah Imam Ahmad bin Hambal, Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnul Qayyim, rahimahumullah. Sedangkan diantara ulama yang paling terkenal bermadzhab tidak sampai adalah Imam Syafi'i rahimahullah.

Tapi yang unik dan menarik disini adalah fakta bahwa, jumhur ulama dan pengikut madzhab Syafi'i adalah penganut dan pengamal pendapat yang membolehkan dan bahwa "kiriman"/penghadiahan itu sampai kepada si mayit. Yang berarti mereka dalam hal ini justru mengikuti Imam Ahmad bin Hambal, bukan Imam Syafi'i. Dan sebaliknya mayoritas ulama dan penganut madzhab Hambali adalah termasuk yang tidak setuju dan menilai bahwa, "kiriman"/penghadiahan tersebut tidak sampai, yang berarti mereka mengikuti pendapat Imam Syafi'i bukan Imam Ahmad, Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnul Qayyim!

Lalu bagaimanakah sikap kita? Ya seperti umumnya sikap yang harus kita ambil terhadap setiap masalah khilafiyah pada umumnya. Dimana semua pendapat yang adalah adalah pilihan-pilihan opsional. Sehingga ditolerir dan dibenarkan seseorang dari kita memilih dan mengikuti salah satunya, disertai sikap pengakuan dan penghormatan terhadap pendapat atau madzhab yang lain!

Adapun tentang masalah sedekah untuk atau atas nama orang yang sudah meninggal khususnya orang tua dan juga yang lain-lain, maka telah disepakati kebolehannya oleh semua ulama dan madzhab.


HADITS-HADITS TENTANG SEDEKAH ATAS NAMA ORANG TUA YANG TELAH TIADA 


عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِرَسُولِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ أُمَّهُ تُوُفِّيَتْ، أَيَنْفَعُهَا إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَإِنَّ لِي مِخْرَافًا وَأُشْهِدُكَ أَنِّي قَدْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا. [رواه البخاري]. 


Artinya: “Diriwayatkan dari Ibn Abbas r.a.: Bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah saw: Sesungguhnya ibuku telah wafat, apakah bermanfaat baginya jika saya bersedekah atas namanya? Jawab beliau: “Ya”. Orang itu berkata: Sesungguhnya saya mempunyai kebun yang berbuah, maka saya mempersaksikan Engkau bahwa saya telah menyedekahkannya atas namanya.” [HR. al-Bukhari]. 

Dan sabda beliau: 

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ أُمِّي افْتَلَتَتْ نَفْسُهَا، وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ، فَهَلْ لَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ. [رواه البخاري ومسلم واللفظ للبخاري]. 

Artinya: “Dari Aisyah r.a.: Bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi saw: Sesungguhnya ibuku meninggal secara mendadak, dan saya menduga jika dia sempat berkata pasti dia bersedekah, maka apakah dia mendapat pahala jika saya bersedekah atas namanya? Jawab beliau: “Ya”.” [HR. al-Bukhari dan Muslim, lafadz al-Bukhari]. 

Dan sabda beliau lagi: 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ أَبِي مَاتَ وَتَرَكَ مَالاً وَلَمْ يُوْصِ، فَهَلْ يُكَفِّرُ عَنْهُ إِنْ أَتَصَدَّقُ عَنْهُ؟ قَالَ: نَعَمْ. [رواه مسلم]. 

Artinya: “Dari Abu Hurairah r.a.: Bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi saw: Sesungguhnya ayahku wafat dan meninggalkan harta akan tetapi beliau tidak berwasiat apa-apa. Maka apakah dia dihapuskan (dosanya) jika saya bersedekah atas namanya? Jawab beliau: “Ya”.” [HR. Muslim]. 


Hadits-hadits sahih riwayat al-Bukhari dan atau Muslim ini menunjukkan dengan jelas bahwa sedekah yang kita lakukan dengan mengatasnamakan orang tua kita itu pahalanya sampai kepada mereka. Disamping tentu kita juga mendapatkan pahala sempurna atas bentuk bakti kita tersebut sebagai anak.


Catatan tambahan: tentang sampai dan manfaatnya sedekah atas nama orang yang sudah meninggal, tidak terbatas hanya untuk orang tua saja. Tapi berlaku umum untuk siapa saja, khususnya kerabat dekat seperti untuk suami, istri, anak, saudara, kakek, nenek, paman, bibi dst.


Sumber : kajian Ustad Mudzoffar

Jangan Hanya Menuntut

Jangan Hanya Menuntut


KETIKA KEWAJIBAN HANYA DITUNTUT KAN PADA WANITA

*Kadang kutemui istri harus pandai menutup aurat, sementara suami tak pandai menundukkan pandangan.*

*Kadang kutemui istri harus pandai menjaga diri, sementara suami senang bermanja & bercanda ria dgn lawan jenis yg bukan mahromnya.*

*Kadang kutemui istri harus berpenampilan sunnah, sementara suami senang berpenampilan gaul.*

*Kadang kutemui istri harus mau membantu suami mencari nafkah, sementara suami enggan membantu pekerjaan rumah.*

*Kadang kutemui istri harus mau melahirkan banyak anak, sementara suami malas belajar tentang peran ayah yg memiliki banyak anak.*

*Kadang kutemui istri harus berdandan untuk suami, sementara suami malas berdandan untuk istri.*

*Kadang kutemui istri harus melayani suami dgn baik, sementara suami gengsi mendidik istri dgn lembut.*

*Kadang kutemui istri harus menjdi makmum yg taat, sementara suami enggan menjdi imam yg bijak.*

*Kadang kutemui istri harus menyiapkan keperluan suami tanpa diminta, sementara suami memberi nafkah hanya jika diminta.*

*Kadang kutemui istri harus sabar jika dimadu, sementara suami malas mendidik diri sendiri dgn sifat adil & amanah.*

*Dan sering kudengar para ibu mendidik anak perempuannya untuk pandai memasak, merawat anak, berhias, memuliakan suaminya bahkan ikut mencari nafkah, namun jarang kudengar para ibu mendidik anak laki²nya untuk pandai membatu pekerjaan istri, merawat anak & memuliakan istrinya, mereka hanya sekedar mendidik anak laki²nya untuk pandai mencari nafkah...*

*Miris, namun itulah realita, tak heran banyak wanita yg menuntut persamaan gender karna mereka terintimidasi, terutama bagi mereka yg memiliki pasangan yg tak faham AGAMA (Islam).*


*Nb : Semoga para istri yg mengalami point² di atas bisa tetap sabar & berusaha tetap taat melaksanakan kewajibannya. Semoga para suami yg melakukan point² di ats bisa bersikap dewasa & berusaha bijak memenuhi kewajibannya.*


*Wallahu 'alam*

*semoga bermanfaat*

*Demikianlah faedah yang ringkas ini semoga bisa menjadi tuntunan akhlak dan sebagai keteladanan yang bermanfaat bagi kita semua.*

آمين يارب العالمين

Tawassul

Tawassul

Istilah tawassul itu artinya menggunakan atau memakai wasilah (perantara). Maksudnya adalah berdoa KEPADA ALLAH dengan cara menyertakan penyebutan wasilah/perantara tertentu di dalam redaksi doa, yg dengannya diyakini atau diharapkan doa akan lebih mustajab/terkabul.

Dan bertawassul di dalam doa itu, secara umum, ada 4 macam, dimana 3 macam darinya disepakati dan yang keempat bersifat khilafiyah (diperselisihkan) diantara para ulama, sebagai berikut:

Pertama, bertawassul dg Asmaul Husna dan Sifat2 Allah Yang Tertinggi (QS. Al A'raf: 180). Seperti misalnya lafal doa: Ya Allah, dengan/melalui wasilah/perantaraan Asma-Mu dan Sifat2-Mu, kabulkanlah doa, munajat dan permohonanku..

Kedua, bertawassul dengan ibadah dan amal saleh tertentu, seperti shalat, puasa, tilawah, dzikir, infak, sedekah, bakti pada orang tua, dll. Baik itu amal ibadah yg telah usai dilakukan, kapanpun waktunya, maupun yang sedang dijalankan. 

Contoh terkenalnya adalah kisah dalam hadits muttafaq 'alaih ttg 3 orang sahabat yg terjebak di dalam sebuah goa yg tertutup oleh bongkahan batu besar, dan yg akhirnya berhasil keluar darinya, dg izin Allah, setelah masing2 berdoa dg cara bertawassul dg satu jenis amal andalan yg pernah diamalkannya di masa lalu.

Ketiga, bertawassul melali doa orang lain yang masih hidup. Atau dengan kata lain, meminta doa orang lain yg dianggap atau diharap doanya lebih mustajab. Seperti minta didoakan oleh ulama, kyai, ustadz, orang yang pergi haji/umrah atau musafir secara umum, atau minta doa kepada orang lain siapapun dia, termasuk orang biasa2 saja.

Ketiga macam tawassul diatas itu disepakati oleh seluruh ulama, tidak hanya ttg kebolehannya, tapi bahkan sepakat disunnahkan dan sangat dianjurkan.

Lalu yg keempat dan yg sifatnya khilafiyah (diperselisihkan) adalah bertawassul dengan menyertakan penyebutan orang2 saleh (khususnya yg telah wafat), baik itu nabi, sahabat, wali, ulama maupun orang2 saleh lainnya.

Nah tawassul macam keempat ini, seperti yang telah disebutkan, bersifat khilafiyah atau diperselisihkan diantara para ulama lintas madzhab.

Dimana sebagian ulama, seperti Imam Ahmad misalnya, membolehkan bertawassul dengan Nabi SAW saja. Sementara yang lain, seperti Imam Asy Syaukani dan banyak ulama lain dari berbagai madzhab, membolehkan tawassul dg Nabi SAW dan dengan seluruh ulama serta orang2 saleh pada umumnya, tanpa kecuali.

Sementara itu ada juga sejumlah ulama lain yg tidak membolehkan tawassul jenis ini dengan siapapun, baik dengan Nabi SAW ataupun apalagi dengan yang lain.

Contohnya seperti doa: "Ya Rabbi bilmushthofa balligh maqashidana.." (Ya Rabbi, dengan perantaraan Al Mushthofa/Nabi Muhammad SAW, sampaikanlah kami kepada tujuan2/harapan2/cita2 kami..).

Contoh lain misalnya seperti doa dalam shalawat badar:.. bi ahli Badrin ya Allah (dengan wasilah/perantaraan para sahabat peserta perang Badar, ya Allah..).

Dan yg terpenting ditegaskan bahwa, khilafiyah dalam masalah tawassul yg keempat ini bukankankah khilafiyah akidah, melainkan khilafiyah fiqih. 

Sehingga cara menyikapinyapun seperti cara menyikapi masalah2 khilafiyah fiqih pada umumnya, seperti khilafiyah masalah ushalli atau tidak, qunut subuh atau tidak, shalawat dg sayyidina atau tidak, tarawih 11 atau 23 rakaat, adzan Jum'at sekali atau 2 kali, dst. 

Dimana setiap muslim leluasa memilih dan mengikuti madzhab ulama manapun tentangnya, tapi disaat yg sama dia juga wajib memaklumi dan menghargai serta bertoleransi terhadap pilihan madzhab orang lain. Persis seperti dia yg tentu juga ingin bila pilihan madzhabnya dimaklumi, dihargai dan disikapi dg sikap penuh toleransi.

Oleh karenanya, maka tidak dibenarkan ada sikap penghakiman dari siapapun terhadap siapapun, dalam masalah2 khilafiyah fiqih seperti ini, misalnya dg saling membid'ahkan atau apalagi sampai saling mensyirikkan dll! 

Sumber : https://www.facebook.com/groups/KajianUstadzMudzoffar/?ref=share

Karya Di Usia Senja

Karya Di Usia Senja

 Oleh : Ahmad Syahrin Thoriq 

Jika usia pensiun menghalangi kita dari memulai melakukan hal-hal besar, ingatlah bahwa dalam sejarah sebagian orang besar justru ada yang baru memulai karyanya di usia tuanya.

Dahulu Rasulullah, Abu Bakar, Ustman dan banyak lagi sahabat yang turut dalam perang tabuk dengan menempuh jarak 600 km pada usia rata-rata di atas 60 tahun.


Umar Mukhtar tetap memimpin jihad di Libya dari usia 60 an hingga usia di atas 70 tahun. Yusuf bin Tashifin memimpin pertempuran Zalaqah di usia 74 tahun. Musa bin Nusair membuka Andalusia di usia 80 tahun. Dan Abbas bin Firnas menerbangkan pesawat pada usia 70 tahun. 

Di dunia ilmu, sang guru dari Umar bin Abdul Aziz, Shalih bin Kaisan memulai belajarnya di usia senja setelah lepas dari perbudakan, yakni 70 tahun. Dan baru berpikrah mengajar di usia 100 tahun.

Begitu juga riwayat dari ulama besar dari negeri Barat, yang menjadi salah satu bintangnya ulama madzhab Maliki, Abu Walid al Baji rahimahullah belajar agama usia 40 tahun dan baru menjadi ulama setelah berusia 70 an tahun.

Maka, jika hari ini usia senja membuat seseorang hanya berpangku tangan dari berjuang untuk agama, namun sebaliknya semakin rakus dalam memburu dunia, penyebabnya bukan karena udzur umur, tapi karena gelapnya hati oleh lumpur dosa dan jauhnya dia dari cahaya ilmu agama.

17 Kisah Penuh Hikmah

17 Kisah Penuh Hikmah

Kisah, merupakan sebuah media pembelajaran bagi siapapun yang mengalami ataupun mengetahuinya. Ia mempunyai kekuatan yang sangat besar untuk men-sugesti orang untuk berubah sesuai dengan kisah atau cerita yang dialaminya (red : dibaca).

Kekuatan Men-sugesti yang saya maksud, antara lain :

  • Membuat orang terpengaruh tanpa sadar telah dipengaruhi,
  • Membuat orang mengerti tanpa merasa digurui,
  • Membuat orang belajar tanpa merasakan adanya paksaan.

Atas dasar itulah kami bermaksud untuk berbagi kisah-kisah penuh hikmah, dengan harapan kita dapat belajar dan mengambil hikmahnya.


silakan di download eBooknya DISINI 

Semoga bermanfaat 

Amalan Warga Nahdliyin (eBook)

Amalan Warga Nahdliyin (eBook)

Dalam eBook ini dibahas beberapa amalan (amaliah ) warga nahdliyin diantaranya : 

  • Makna ”KULLU BID’AH DHOLALAH” 
  • Mengenal Makna Bidah
  • Pertanyaan dan jawaban seputar bidah  
  • Bid’ah sebuah kata sejuta makna  
  • Contoh-contoh bid’ah yang diamalkan para sahabat  
  • Qadha (penggantian) Sholat yang ketinggalan dan dalil-dalil yang berkaitan dengannya 
  • Dalil Sholat sunnah Qabliyah (sebelum) sholat Jum’at  
  • Dalil mengangkat tangan waktu berdo’a  
  • Menyebut nama Rasulullah saw. dengan awalan kata sayyidina atau maulana 
  • Penggunaan Tasbih bukanlah bid’ah sesat  
  • Bagaimana hukum menyuguhkan makanan baik kepada para jamaah yang datang membacakan tahlil bagi si mayit maupun bagi para pentakziah? 
  • dan lain lain ..


ebook ini gratis, tidak boleh dijual belikan!

silakan download DISINI 
Doa Luar Biasa

Doa Luar Biasa


Suatu kali seorang anak sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Hari itu suasana sungguh meriah karena itu adalah babak final dan hanya 5 orang yang masih bertahan, termasuk Kevin. Sebelum pertandingan dimulai (sebut saja namanya) Kevin menundukkan kepala, melipat tangan dan berkomat kamit memanjatkan doa. Pertandingan dimulai, ternyata mobil balap Kevin yang pertama kali mencapai garis finish. Tentu Kevin girang sekali menjadi juara.

Saat pembagian hadiah, ketua panitia bertanya, “Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Alloh agar kamu menang bukan?” Kevin menjawab, “Bukan pak, rasanya tidak adil meminta pada Alloh untuk menolong mengalahkan orang lain. Aku hanya minta pada Alloh, supaya aku tidak menangis kalau aku kalah.” Semua hadirin terdiam mendengar itu.

Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk tangan yang memenuhi ruangan.

Permohonan Kevin ini merupakan doa yang luar biasa. Dia tidak meminta Alloh mengabulkan semua harapannya, namun ia berdoa agar diberikan kekuatan untuk menghadapi apapun yang terjadi dengan batin yang teguh.

Seringkali kita berdoa pada Alloh untuk mengabulkan setiap permintaan kita. Kita ingin Alloh menjadikan kita nomor satu, menjadikan yang terbaik dalam setiap kesempatan. Kita meminta agar Alloh menghalau setiap halangan dan cobaan yang ada di depan mata. Tidak salah memang, namun bukankah semestinya yang kita butuhkan adalah bimbingan-Nya dan rencana-Nya yang paling sempurna dalam hidup kita?

Seharusnya kita berdoa minta kekuatan untuk bisa menerima kehendak Alloh yang sempurna sebagai yang terbaik dalam hidup kita.

Jadi,selalu berdoalah agar kita selalu di beri kekuatan untuk menghadapi segala cobaan dan ujian yg di berikan Alloh kepada kita,ketika ujian dan cobaan telah kita lewati,niscaya kita akan menjadi manusia yg lebih baik

Semoga Alloh selalu memberikan segala kemudahan dan kekuatan dalam menghadapi segala urusan dunia & akhirat bagi kita smua 

--------Slmt Pagi & Slmt Beraktifitas

The Octagon Lesson Learned

The Octagon Lesson Learned



Bagi penggemar MMA (Mix Martial Art) pasti mengenal sosok muslim tangguh tak terkalahkan dalam kejuaraan tarung di Ultimate Fighting Champion (UFC), namun sangat humble, rajin beribadah, menjunjung adab dan respect yaitu Khabib Nurmagomedov. 

Ciri khas Khabib setiap memenangkan pertandingan adalah Sujud Syukur dan menunjuk ke langit lalu menunjuk dadanya lalu menggerakkan telapak tangannya dengan makna "bukan", itu seolah mengatakan "bukan saya, tetapi Allah"

Octagon adalah segi delapan, tempat paling keras dalam pertarungan, dimana para fighter bertarung, merupakan tempat paling berdarah darah, tempat menunjukkan siapa juara sejati, bukan hanya dalam teknik dan strategi bertarung, namun juga respek pada segala hal. 

Ya respek, di tempat yang kita membayangkan pasti "no respect, no mercy", tetapi Khabib menunjukkan selalu respeknya, kecuali ketika berhadapan dengan si mulut besar "Conor McGregor" yang selalu menghina Ayahnya Khabib, Negaranya juga Kepatuhannya pada agama. Setelah mengalahkannya, Khabib meloncati Octagon dan menghajar teamnya yang selalu menghina selama pertandingan di luar octagon.

Hari Khabib memenangkan pertarungannya melawan Justin Gaethje pada UFC 254, sejak awal Khabib sangat respek dan mengingat kebaikan Gaethje yang pernah membantunya waktu cidera. Tidak sepatah katapun yang merendahkan Gaethje bahkan waktu tatap muka, mereka saling memuji kehebatan lawan, malah berjabat tangan.

Selesai pertandingan, Khabib bersujud sambil menangis. Gaethje  yang baru siuman dari pingsan akibat triangle lock, lalu mgenhampiri Khabib dan menguatkan perasaan Khabib yang sangat emosional karena kesedihan dan keharuan luar biasa, inilah kemenangan ke 29 tanpa kekalahan, namun kali ini tanpa Ayahnya, sang pelatihnya. Ayahnya Abdul Manap Nurmagomedov wafat beberapa pekan sebelum pertandingan karena terkena Covid 19.

Dalam Octagon yang keras seperti itu, sesungguhnya bisa banyak respek yang dihadirkan walau tetap professional sebagai fighter. Begitulah para champion luar dan dalam, baik fisik, moral maupun spiritual. 

Namun sayangnya di dunia nyata, di kehidupan hari ini, nampaknya banyak pecundang luar dan dalam, kinerja buruk namun amat sulit bermoral dan respek pada pada team, pada guru dstnya. Yang ada adalah kebutuhan eksistensi yang dipenuhi dengan ego diri, ego kelompok dstnya. 

Khabib seorang Muslim yang petarung, menunjukkan bahwa begitulah seharusnya seorang Muslim, di bidang manapun ia berjuang, harus menjadi "the good man", orang yang ihsan baik dalam kinerja profesi, keindahan adab/moral dan kekuatan spiritual, maupun dalam kehidupan keluarga dan sosial.

Berikut ucapan Khabib Nurmagomedov, setelah kemenangannya,

Hari ini saya mau mengatakan bahwa ini adalah pertarungan terakhir saya," kata @khabib_nurmagomedov

"Tidak mungkin saya bisa berada di sini tanpa ayah saya.

Keputusan pensiun yang diambil Khabib tak lepas dari kepergian sang ayah, Abdulmanap, pada 3 Juli 2020.

Khabib mengaku tak bisa terus bertarung tanpa kehadiran sang ayah.

Ketika UFC memberi tahu saya soal pertarungan dengan Gaethje, saya bicara dengan ibu, tiga hari setelah ayah berpulang," ucapnya.

"Ibu tidak ingin saya bertarung tanpa ayah, tetapi saya berjanji pada ibu bahwa ini adalah yang terakhir. Ketika saya sudah berjanji, saya harus menepatinya," kata Khabib.

.

Khabib memutuskan untuk pensiun dari seni bela diri campuran (MMA). 


Keputusan itu diumumkannya usai bertarung melawan Justin Gaethje pada UFC 254, Minggu (25/10/2020) dini hari WIB.

Pertarungan tersebut dimenangi Khabib Nurmagomedov pada ronde kedua melalui submission. Dengan begini, ia berhasil mempertahankan sabuk juara kelas ringan (lightwight) UFC. Undefeated selama berkarir di UFC dengan score 29:0

Semoga banyak Champion Muslim lahir dalam berbagai bidang kehidupan, dengan Adab yang mulia dan memiliki Ghiroh untuk menunjukkan keindahan Islam 

Semoga Allah karuniakan keberkahan kepada ayahanda Khabib Nurmagomedov, yaitu almarhum Abdul Manap Nurmagomedov, seorang Ayah sekaligus Coach yang melahirkan Champion yang membanggakan Ummat Islam, sekaligus pendidik yang berhasil membangun adab mulia pada anak anaknya, baik adab kepada Allah, kepada AyahIbu, kepada Guru, kepada Team, kepada Ummat dstnya.

Juga semoga dilimpakan kepada Ibunda Khabib Nurmagomedov. Seorang champion tak terkalahkan yang dipuji puji dunia, bagai Elang buas di dalam Octagon, namun hatinya selembut sutra kepada ibunya. Siapa yang bisa melembutkan hati seorang pejuang tangguh daripada Ibu yang maaf dan cintanya seluas lautan.

Allahumma aamiin

Sumber : FB Pak Harry Santosa

NABI SAW dan Muslimin Indonesia

NABI SAW dan Muslimin Indonesia

Mau haji tapi harus antri 20 tahun adalah kejadian unik di akhir zaman. Mungkin sama sekali tidak terbayang akan terjadi seperti ini di masa kenabian dulu.

Lomba banyak-banyakan umat rupanya dimenangkan oleh Nabi Muhammad SAW. Dulu  Beliau SAW pernah bersabda :

Fainni mukatsirun bikumul umama yaumal qiyamah.

Dua sampai tiga juta manusia rutin ngumpul di Mekkah selama durasi kurang lebih 2-3 bulan, setiap tahun dan rutin tanpa henti.

Biar semua kebagian tempat, digilir dan diberi jatah. Satu negara hanya boleh kirim 1 orang dari setiap 1000 orang penduduk muslim. Itu kesepakatan hasil konferensi negara OKI. 

Dan Indonesia keluar sebagai juara pertama, sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, mengalahkan Saudi, India, Pakistan, Mesir, Iran dan lainnya.

Jatah kuota haji buat Indonesia paling besar dibandingkan semua negara lain. Tapi dengan kuota terbesar pun, kita tetap antri hingga 20 tahun? 

Betapa banyaknya umat Nabi Muhammad SAW di negeri ini. Alangkah bergembiranya Rasulullah SAW kalau tahu bahwa di ujung dunia yang teramat jauh dari tempat kelahiran Beliau, ada ratusan juta kaum muslimin yang setiap hari menyenandungkan shalawat atas Beliau.

Allahumma Shalli ala Muhammad . . .

Dan perkenan kaum muslimin Indonesia untuk berbahagia menyambut peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Sumber : FB Ustad Ahmad Sarwat 

NASIB MANUSIA SIAPA YANG TAHU

NASIB MANUSIA SIAPA YANG TAHU

Pelajaran Tauhid yg Sangat Bernilai.

Dahulu Kala, ada Seorang Petani Miskin memiliki Seekor Kuda Putih yg Sangat Cantik dan Gagah..

Suatu hari, Seorang Saudagar Kaya ingin membeli Kuda itu & Menawarnya dg Harga yg sangat tinggi....!!

Tapi Sayang Si Petani Miskin itu Tidak mau Menjualnya..!!

Lalu Teman-temannya Menyayangkan dan mengejek karena dia tidak menjual Kudanya..



Keesokan Harinya, Kuda itu Hilang dari Kandangnya..

Maka Teman-temannya Berkata :

"Sungguh Jelek Nasibmu, Padahal Kalau Kemarin Kamu Jual, Kamu Pasti Kaya, Sekarang Kudamu Sudah Hilang.."_

Tapi Si Petani Miskin hanya Diam saja Tanpa Komentar...


Namun Beberapa Hari Kemudian, Kuda si petani kembali , bersama 5 Ekor Kuda liar lainnya..

Lalu Teman-temannya Berkata :

"Wah..! Beruntung Sekali Nasibmu, Ternyata Perginya Kudamu Membawa keberuntungan.."_

Si Petani Tetap Hanya diam saja..

Beberapa hari kemudian, Anak si Petani yg Sedang Melatih Kuda-kuda Baru mereka Terjatuh dan Kakinya Patah..

Lalu Teman-temannya berkata :

"Rupanya Kuda-kuda itu Membawa Sial, lihat sekarang Anakmu Kakinya Patah.."

Si Petani itu tetap Diam tanpa komentar..

Seminggu Kemudian terjadi peperangan di wilayah itu, semua Anak Muda di desa dipaksa untuk Berperang, Kecuali Si Anak Petani itu karena tidak Bisa Berjalan..!!

Teman-temannya Mendatangi Si Petani sambil Menangis :

"Beruntung Sekali Nasibmu Karena anakmu tidak ikut Berperang, Kami harus Kehilangan Anak-anak kami.."

Barulah Si Petani Kemudian Berkomentar :

"Janganlah Terlalu Cepat membuat Kesimpulan dg Mengatakan Nasib Baik atau Jeleknya..!!

Semuanya ini adalah Suatu Rangkaian Proses yg Belum Selesai...

Syukuri & Terima Keadaan yg Terjadi Saat ini..!!

• Apa yg Kelihatan Baik Hari ini belum Tentu baik Untuk Hari Esok..??

• Apa yg Buruk Hari ini Belum Tentu buruk untuk hari Esok.??

Tetapi yg Pasti, ALLAH Paling Tahu yg terbaik Buat Kita..!!

Bagian kita Adalah, Mengucapkan syukur dalam Segala hal, Sebab itulah yg dikehendaki ALLAH di dalam hidup kita ini..

Jalan yg dibentangkan ALLAH belum tentu yg tercepat, bukan pula yg termudah.. Tapi Sudah pasti yang Terbaik...


Semoga bermanfa'at.Aamiin yarobbal alamin


Ajakan Untuk Bersaudara Kepada Sesama Muslim.

Ajakan Untuk Bersaudara Kepada Sesama Muslim.

Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَبَاغَضُوا, وَلَا تَحَاسَدُوا, وَلَا تَدَابَرُوا. وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا. وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثٍ.


"Janganlah (sesama muslim) saling marah, saling dengki, dan saling membelakangi (tidak bertegur sapa). Tetapi jadilah kalian hamba Alloh yang bersaudara. Tidak halal bagi seorang muslim (alias haram), untuk mendiamkan saudaranya sesama muslim (dengan tidak bertegur sapa) lebih dari tiga hari." (HR. Muslim no. 4641).


•• Penjelasan Singkat:

Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam bersada:

"Janganlah (sesama muslim) saling marah, saling dengki, dan saling membelakangi (tidak bertegur sapa)."

Dalam hadits diatas Baginda Nabi melarang untuk saling marah, saling dengki (yaitu hati tidak suka jika saudara muslim mendapatkan nikmat Alloh), dan saling membelakangi (yaitu singkur-singkuran tidak mau menyapa). Nabi melarang dari ketiga hal yang disebut diatas untuk sesama muslim.

Kemudian Nabi bersabda:

"Tetapi jadilah kalian hamba Alloh yang bersaudara."

Bersaudara bukan berarti membenarkan kesalahan yang ada pada saudara muslim, bersaudara itu tetap dianjurkan untuk saling menegur dan meluruskan kesalahan saudara muslim.


Dan juga bukan berarti bolehnya menuntut 'ilmu kepada saudara muslim yang keliru dalam faham ber-islamnya. Karena umat islam telah dikabarkan oleh Nabi akan terpecah belah menjadi 73 golongan (yaitu dalam masalah pemahaman, bukan jumlah golongan), 72 golongan masuk neraka karena keliru dalam pemahaman terhadap islam (alias sesat), dan dibatasi oleh Nabi hanya 1 golongan saja yang akan masuk surga, yaitu yang benar pemahamannya terhadap agama, mereka adalah al jama'ah.


Al jama'ah adalah:

Setiap orang yang memiliki dua sifat dan karakter, yaitu:

(1) Mengikuti kebenaran. (Kebenaran yang dimaksud adalah al qur_an dan hadits shohih).

(2) Bersatu dan berkumpul dengan mereka-mereka yang berpegang dengan kebenaran tersebut. (Bukan asal bersatu dan berkumpul, yang mana disana ada pengagung kuburan dan suka meminta kepadanya, pelaku kebid'ahan dan berdakwah kepada bid'ah, ini keliru).


Maka dari itu, walaupun dia saudara muslim, jika pemahaman terhadap agama ini keliru, maka kita tidak boleh mendengarkan pengajiannya (baik di dunia maya semisal youtobe maupun di dunia nyata semisal di masjid). Karena dikhawatirkan pemahaman dia masuk kepada 72 golongan yang di ancam masuk neraka. (Penjelasan masalah ini sangat panjang dalam pembahasan manhaj).


Dan walaupun ada kekeliruan pada saudara muslim, tetap kita mengikat persaudaraan dengan mereka. Kita mencintai mereka sesuai kadar iman, tauhid, dan konsistennya terhadap sunnah. Tentu bagi yang benar keimanannya, tauhidnya, dan besar konsistennya terhadap sunnah porsinya lebih besar lagi untuk kita cintai.

Kemudian Nabi bersabda:

"Tidak halal bagi seorang muslim (alias haram), untuk mendiamkan saudaranya sesama muslim (dengan tidak bertegur sapa) lebih dari tiga hari."


Melalui hadits di atas haram hukumnya seorang muslim tidak bertegur sapa kepada muslim lainnya karena permasalahan pribadi dan permasalahan yang semisalnya dari perkara duniawi.


Namun jika tidak bertegur sapa karena permasalahan agama maka tidak mengapa lebih dari tiga hari, semisal dia mencela manhaj salaf, atau mencela 'Ulama' pembawa sunnah, dan semisalnya. Tujuannya adalah agar dia jera, bukan hanya melampiaskan kemarahan pribadi.



Tragedi Masa Lalu yang Terasa Lucu di Kemudian Hari

Tragedi Masa Lalu yang Terasa Lucu di Kemudian Hari

Oleh: Ita Nurita 

“Hidup yang dipandang tragedi dahulu, bisa jadi sekarang menjadi komedi.” (Charly Caplin) Qoute ini saya dapatkan dari webinar yang diselenggrakan komunitas Kovid Psikologi. 

Bahasannya seputar psikologi dan tips agar bisa tetap mengaktualisasi diri meski di era pandemi dan krisis yang tidak pasti kapan berakhirnya. Ada banyak kata kunci yang saya catat. Tapi kali ini, saya tertarik menulis tentang qoute Charly C

aplin di atas. Apa maknanya menurut Anda? Apa maknanya menurut saya? Bisa jadi jawabannya berbeda, tergantung pengalaman dan perasaan masing-masing. 

 Pernah mengalami tragedi di masa lalu adalah pengalaman pahit kebanyakan orang. Tapi tak semua mengakui bahwa sebuah tragedi itu selalu pahit, berat, dan penuh luka. Meski namanya tragedi, konotasinya memang sebuah kepahitan. Tragedi masa lalu bisa berhubungan dengan banyak orang atau lingkungan. Seperti permusuhan antar sahabat, perpisahan antar pasangan, perseteruan antar saudara, dan banyak lagi kasus lainnya. 

 Dulu, situasi semacam ini bisa membuat kita terpuruk, down, jatuh atau bahkan mengalami kesedihan yang dalam. Sejak usia 12 tahun, saya sudah menjadi yatim. Akibatnya saya tidak bisa kuliah sebagaimana teman-teman lainnya. Sementara menganggur, saya diajak ke Samarinda oleh om dan tante dari jalur ibu. 

Tinggal menumpang pada orang lain bukan sesuatu yang saya senangi. Saya merasa tidak merdeka Saya merasa tidak bebas untuk menentukan masa depan, termasuk urusan jodoh. Saya menolak tawaran jodoh dari keluarga besar om. 

Sayangnya, keputusan ini mendatangkan fitnah. Saya dianggap membangkang. Padahal waktu itu, saya hanya ingin pasangan yang lebih baik dari saya. Apalagi saat itu saya begitu semangat setelah ngaji pada seorang ustadzah yang kami sebut murobbiyah. Rupanya penolakan tersebut membuat keluarga besar menjadi kecewa. 

Apalagi Om yang menunjukkan perhatian lebih pada saya dengan niat mengasuh anak yatim dan membuat anak-anak beliau cemburu pada saya. Tak ayal, anak-anak Om pun terkesan memusuhi saya. Tragedi inilah yang membuat saya, pada waktu itu, benar-benar sedih. Saking sedihnya, saya harus menenangkan diri di rumah teman ngaji selama berhari-hari. 

Tak terasa, 25 tahun berlalu. Cerita itu jadi kenangan. Saya merasa, cerita masa lalu itu kadang terasa lucu kalau diingat-ingat. Begitu pula cerita kita dengan sahabat, saudara, dan lainnya. 

Pada saat itu kemarahan, kebencian, dan sakit diekspresikan dengan berbagai cara. Andai bisa ditulis seperti saat ini, tentu akan menjadi cerita lucu di kemudian hari. Tidak hanya kelucuan tragedinya, tapi juga kelucuan cara menulisnya. Jadi, biarkan cerita itu terjadi hari ini. 

Kelak kita saling menertawakan diri sendiri. Kalau ini terjadi saat kumpul-kumpul di dunia, bagaimana nanti kisah keadaan kita di akhirat ya? 

Semoga Allah karuniakan kita untuk bisa reuni akbar di surga dengan berbagai cerita lucu tragedi semasa di dunia.

 

sumber : orangramai

Indahnya Munajat

Indahnya Munajat


Mereka terjebak dalam salah satu kesulitan dunia....
Mereka 'menyampaikan' hajatnya dengan menyebut amal kebaikannya....
Mereka memohon dengan amal terbaik yang mereka miliki....
Amal terbaik mampu menyelamatkan urusan dunia dan akhirat....
Amal terbaik....meski hanya 1, maka ia adalah harta paling berharga...harta yang menyelamatkan......

Dari Abu ‘Abdir Rahman, yaitu Abdullah bin Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhuma, katanya: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انْطَلَقَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى أَوَوُا الْمَبِيتَ إِلَى غَارٍ فَدَخَلُوهُ ، فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ الْجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهِمُ الْغَارَ فَقَالُوا إِنَّهُ لاَ يُنْجِيكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ إِلاَّ أَنْ تَدْعُوا اللَّهَ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ
“Ada tiga orang dari orang-orang sebelum kalian berangkat bepergian. Suatu saat mereka terpaksa mereka mampir bermalam di suatu goa kemudian mereka pun memasukinya. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung lalu menutup gua itu dan mereka di dalamnya.
Mereka berkata bahwasanya tidak ada yang dapat menyelamatkan mereka semua dari batu besar tersebut kecuali jika mereka semua berdoa kepada Allah Ta’ala dengan menyebutkan amalan baik mereka.”
فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمُ اللَّهُمَّ كَانَ لِى أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيرَانِ ، وَكُنْتُ لاَ أَغْبِقُ قَبْلَهُمَا أَهْلاً وَلاَ مَالاً ، فَنَأَى بِى فِى طَلَبِ شَىْءٍ يَوْمًا ، فَلَمْ أُرِحْ عَلَيْهِمَا حَتَّى نَامَا ، فَحَلَبْتُ لَهُمَا غَبُوقَهُمَا فَوَجَدْتُهُمَا نَائِمَيْنِ وَكَرِهْتُ أَنْ أَغْبِقَ قَبْلَهُمَا أَهْلاً أَوْ مَالاً ، فَلَبِثْتُ وَالْقَدَحُ عَلَى يَدَىَّ أَنْتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُمَا حَتَّى بَرَقَ الْفَجْرُ ، فَاسْتَيْقَظَا فَشَرِبَا غَبُوقَهُمَا ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ ، فَانْفَرَجَتْ شَيْئًا لاَ يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَ
Salah seorang dari mereka berkata,
“Ya Allah, aku mempunyai dua orang tua yang sudah sepuh dan lanjut usia. Dan aku tidak pernah memberi minum susu (di malam hari) kepada siapa pun sebelum memberi minum kepada keduanya. Aku lebih mendahulukan mereka berdua daripada keluarga dan budakku (hartaku). Kemudian pada suatu hari, aku mencari kayu di tempat yang jauh. Ketika aku pulang ternyata mereka berdua telah terlelap tidur. Aku pun memerah susu dan aku dapati mereka sudah tertidur pulas. Aku pun enggan memberikan minuman tersebut kepada keluarga atau pun budakku.
Seterusnya aku menunggu hingga mereka bangun dan ternyata mereka barulah bangun ketika Shubuh, dan gelas minuman itu masih terus di tanganku. Selanjutnya setelah keduanya bangun lalu mereka meminum minuman tersebut.
Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar  mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini.”
Batu besar itu tiba-tiba terbuka sedikit, namun mereka masih belum dapat keluar dari goa.
قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « وَقَالَ الآخَرُ اللَّهُمَّ كَانَتْ لِى بِنْتُ عَمٍّ كَانَتْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَىَّ ، فَأَرَدْتُهَا عَنْ نَفْسِهَا ، فَامْتَنَعَتْ مِنِّى حَتَّى أَلَمَّتْ بِهَا سَنَةٌ مِنَ السِّنِينَ ، فَجَاءَتْنِى فَأَعْطَيْتُهَا عِشْرِينَ وَمِائَةَ دِينَارٍ عَلَى أَنْ تُخَلِّىَ بَيْنِى وَبَيْنَ نَفْسِهَا ، فَفَعَلَتْ حَتَّى إِذَا قَدَرْتُ عَلَيْهَا قَالَتْ لاَ أُحِلُّ لَكَ أَنْ تَفُضَّ الْخَاتَمَ إِلاَّ بِحَقِّهِ . فَتَحَرَّجْتُ مِنَ الْوُقُوعِ عَلَيْهَا ، فَانْصَرَفْتُ عَنْهَا وَهْىَ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَىَّ وَتَرَكْتُ الذَّهَبَ الَّذِى أَعْطَيْتُهَا ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ . فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ ، غَيْرَ أَنَّهُمْ لاَ يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَ مِنْهَا
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, lantas orang yang lain pun berdo’a,
“Ya Allah, dahulu ada puteri pamanku yang aku sangat menyukainya. Aku pun sangat menginginkannya. Namun ia menolak cintaku. Hingga berlalu beberapa tahun, ia mendatangiku (karena sedang butuh uang). Aku pun memberinya 120 dinar. Namun pemberian itu dengan syarat ia mau tidur denganku (alias: berzina).
Ia pun mau. Sampai ketika aku ingin menyetubuhinya, keluarlah dari lisannya, “Tidak halal bagimu membuka cincin kecuali dengan cara yang benar (maksudnya: barulah halal dengan nikah, bukan zina).” Aku pun langsung tercengang kaget dan pergi meninggalkannya padahal dialah yang paling kucintai. Aku pun meninggalkan emas (dinar) yang telah kuberikan untuknya.
Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini".
Batu besar itu tiba-tiba terbuka lagi, namun mereka masih belum dapat keluar dari goa.
قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – وَقَالَ الثَّالِثُ اللَّهُمَّ إِنِّى اسْتَأْجَرْتُ أُجَرَاءَ فَأَعْطَيْتُهُمْ أَجْرَهُمْ ، غَيْرَ رَجُلٍ وَاحِدٍ تَرَكَ الَّذِى لَهُ وَذَهَبَ فَثَمَّرْتُ أَجْرَهُ حَتَّى كَثُرَتْ مِنْهُ الأَمْوَالُ ، فَجَاءَنِى بَعْدَ حِينٍ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ أَدِّ إِلَىَّ أَجْرِى . فَقُلْتُ لَهُ كُلُّ مَا تَرَى مِنْ أَجْرِكَ مِنَ الإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ وَالرَّقِيقِ . فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ لاَ تَسْتَهْزِئْ بِى . فَقُلْتُ إِنِّى لاَ أَسْتَهْزِئُ بِكَ . فَأَخَذَهُ كُلَّهُ فَاسْتَاقَهُ فَلَمْ يَتْرُكْ مِنْهُ شَيْئًا ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ . فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ فَخَرَجُوا يَمْشُونَ »
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, lantas orang ketiga berdo’a,
“Ya Allah, aku dahulu pernah mempekerjakan beberapa pegawai lantas aku memberikan gaji pada mereka. Namun ada satu yang tertinggal yang tidak aku beri. Malah uangnya aku kembangkan hingga menjadi harta melimpah. Suatu saat ia pun mendatangiku.
Ia pun berkata padaku, “Wahai hamba Allah, bagaimana dengan upahku yang dulu?” Aku pun berkata padanya bahwa setiap yang ia lihat itulah hasil upahnya dahulu (yang telah dikembangkan), yaitu ada unta, sapi, kambing dan budak.
Ia pun berkata, “Wahai hamba Allah, janganlah engkau bercanda.” Aku pun menjawab bahwa aku tidak sedang bercanda padanya. Aku lantas mengambil semua harta tersebut dan menyerahkan padanya tanpa tersisa sedikit pun.
Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini”
Lantas goa yang tertutup sebelumnya pun terbuka, mereka keluar dan berjalan. (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 2272 dan Muslim no. 2743)

By. M. Nadhif Khalyani
15 ALASAN MERINDUKAN RAMADHAN

15 ALASAN MERINDUKAN RAMADHAN

Seperti seorang kekasih, selalu diharap-harap kedatangannya. Rasanya tak ingin berpisah sekalipun cuma sedetik. Begitulah Ramadhan seperti digambarkan sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, "Andaikan tiap hamba mengetahui apa yang ada dalam Ramadhan, maka ia bakal berharap satu tahun itu puasa terus." Sesungguhnya, ada apanya di dalam Ramadhan itu, ikutilah berikut ini:


1. Gelar taqwa
Taqwa adalah gelar tertinggi yang dapat diraih manusia sebagai hamba Allah. Tidak ada gelar yang lebih mulia
dan tinggi dari itu. Maka setiap hamba yang telah mampu meraih gelar taqwa, ia dijamin hidupnya di surga dan diberi kemudahan-kemudahan di dunia. Dan puasa adalah sarana untuk mendapatkan gelar taqwa itu.
"Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa." (QS al-Baqarah: 183)
Kemudahan-kemudahan yang diberikan Allah kepada hambanya yang taqwa, antara lain:

a. Jalan keluar dari semua masalah
Kemampuan manusia amat terbatas, sementara persoalan yang dihadapi begitu banyak. Mulai dari masalah dirinya, anak, istri, saudara, orang tua, kantor dan sebagainya. Tapi bila orang itu taqwa, Allah akan menunjukkan jalan berbagai persoalan itu. Bagi Allah tidak ada yang sulit, karena Dialah pemilik kehidupan ini.

"..Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar." (QS. Ath Thalaaq: 2)
"..Dan barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya." (QS. Ath Thalaaq: 4)

b. Dicukupi kebutuhannya
"Dan memberinya rezeki dari arah yang tak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya...."(QS. Ath Thalaaq: 3)

c. Ketenangan jiwa, tidak khawatir dan sedih hati
Bagaimana bisa bersedih hati, bila di dalam dadanya tersimpan Allah. Ia telah menggantungkan segala hidupnya kepada Pemilik kehidupan itu sendiri. Maka orang yang selalu mengingat-ingat Allah, ia bakal memperoleh ketenangan.

"Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-KU, maka barangsiapa bertaqwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (QS. al-A'raaf: 35)

2. Bulan pengampunan
Tidak ada manusia tanpa dosa, sebaik apapun dia. Sebaik-baik manusia bukanlah yang tanpa dosa, sebab itu tidak mungkin. Manusia yang baik adalah yang paling sedikit dosanya, lalu bertobat dan bernjanji tidak mengulangi perbuatan dosa itu lagi. Karena dosa manusia itu setumpuk, maka Allah telah menyediakan alat penghapus yang canggih. Itulah puasa pada bulan Ramadhan. Beberapa hadis menyatakan demikian, salah satunya diriwayatkan Bukhari Muslim dan Abu Dawud, "Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan karena keimanannya dan karena mengharap ridha Allah, maka dosa-dosa sebelumnya diampuni."

3. Pahalanya dilipatgandakan
Tidak hanya pengampunan dosa, Allah juga telah menyediakan bonus pahala berlipat-lipat kepada siapapun yang berbuat baik pada bulan mulia ini. Rasulullah bersabda, "Setiap amal anak keturunan Adam dilipatgandakan. Tiap
satu kebaikan sepuluh lipad gandanya hingga tujuh ratus lipat gandanya." (HR. Bukhari Muslim).
Bahkan amalan-amalan sunnah yang dikerjakan pada Ramadhan, pahalanya dianggap sama dengan mengerjakana amalan wajib (HR. Bahaiqi dan Ibnu Khuzaimah). Maka perbanyaklah amal dan ibadah, mumpung Allah menggelar obral pahala.

4. Pintu surga dibuka dan neraka ditutup
"Kalau datang bulan Ramadhan terbuka pintu surga, tertutup pintu neraka, dan setan-setan terbelenggu."(HR Muslim) Kenapa pintu surga terbuka? Karena sedikit saja amal perbuatan yang dilakuka n, bisa mengantar seseorang ke surga. Boleh diibaratkan, bulan puasa itu bulan obral. Orang yang tidak membeli akan merugi. Amal sedikit saja dilipatgandakan ganjarannya sedemikian banyak. Obral ganjaran itu untuk mendorong orang melakukan amal-amal kebaikan di bulan Ramadhan. Dengan demikian otomatis pintu neraka tertutup dan tidak ada lagi kesempatan buat setan menggoda manusia.

5. Ibadah istimewa
Keistimewaan puasa ini dikatakan Allah lewat hadis qudsinya, "Setiap amalan anak Adam itu untuk dirinya, kecuali puasa. Itu milik-Ku dan Aku yang membalasnya karena ia (orang yang berpuasa) meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku." (HR Bukhari Muslim) Menurut Quraish Shihab, ahli tafsir kondang dari IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, puasa dikatakan untuk Allah dalam arti untuk meneladani sifat-sifat Allah. Itulah subtansi puasa.

Misalnya, dalam bidang jasmani, kita tahu Tuhan tidak beristri. Jadi ketika berpuasa dia tidak boleh melakukan hubungan seks. Allah tidak makan, tapi memberi makan. Itu diteladani, maka ketika berpuasa kita tidak makan, tapi kita memberi makan. Kita dianjurkan untuk mengajak orang berbuka puasa. Ini tahap dasar meneladani Allah.

Masih ada tahap lain yang lebih tinggi dari sekedar itu. Maha Pemurah adalah salah satu sifat Tuhan yang seharusnya juga kita teladani. Maka dalam berpuasa, kita dianjurkan banyak bersedekah dan berbuat kebaikan.  Tuhan Maha Mengetahui. Maka dalam berpuasa, kita harus banyak belajar. Belajar bisa lewat membaca al-Qur'an, membaca kitab-kitab yang bermanfaat, meningkatkan pengetahuan ilmiah.

Allah swt setiap saat sibuk mengurus makhluk-Nya. Dia bukan hanya mengurus manusia. Dia juga mengurus binatang. Dia mengurus semut. Dia mengurus rumput-rumput yang bergoyang. Manusia yang berpuasa meneladani Tuhan dalam sifat-sifat ini, sehingga dia harus selalu dalam kesibukan.

Perlu ditekankan meneladani Tuhan itu sesuai dengan kemampuan kita sebagai manusia. Kita tidak mampu untuk tidak tidur sepanjang malam, tidurlah secukupnya. Kita tidak mampu untuk terus-menerus tidak makan dan tidak minum. Kalau begitu, tidak makan dan tidak minum cukup sejak terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari saja.

6. Dicintai Allah
Nah, sesesorang yang meneladani Allah sehingga dia dekat kepada-Nya. Bila sudah dekat, minta apa saja akan mudah dikabulkan. Bila Allah telah mencintai hambanya, dilukiskan dalam satu hadis Qudsi, "Kalau Aku telah mencintai seseorang, Aku menjadi pendengaran untuk telinganya, menjadi penglihatan untuk matanya, menjadi pegangan untuk tangannya, menjadi langkah untuk kakinya." (HR Bukhari)

7. Do'a dikabulkan
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, katakanlah bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang berdo'a apabila dia berdo'a, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku." (QS. al-Baqarah: 186)
Memperhatikan redaksi kalimat ayat di atas, berarti ada orang berdo'a tapi sebenarnya tidak berdo'a. Yaitu do'anya orang-orang yang tidak memenuhi syarat. Apa syaratnya? "maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku."

Benar, berdo'a pada Ramadhan punya tempat khusus, seperti dikatakan Nabi saw, "Tiga do'a yang tidak ditolak; orang berpuasa hingga berbuka puasa, pemimpin yang adil dan do'anya orang teraniaya. Allah mengangkat do'anya ke awan dan membukakan pintu-pintu langit. 'Demi kebesaranKu, engkau pasti Aku tolong meski tidak sekarang." (HR Ahmad dan Tirmidzi)

Namun harus diingat bahwa segala makanan yang kita makan, kecucian pakaian, kesucian tempat, itu punya hubungan yang erat dengan pengabulan do'a. Nabi pernah bersabda, ada seorang yang sudah kumuh pakaiannya, kusut rambutnya berdo'a kepada Tuhan. Sebenarnya keadaannya yang kumuh itu bisa mengantarkan  do'anya dia diterima. Tapi kalau makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya yang dipakainya terambil dari barang yang haram, bagaimana bisa dikabulkan doa'nya?

Jadi do'a itu berkaitan erat dengan kesucian jiwa, pakaian dan makanan. Di bulan Ramadhan jiwa kita diasah hingga bersih. Semakin bersih jiwa kita, semakin tulus kita, semakin bersih tempat, pakaian dan makanan, semakin besar kemungkinan untuk dikabulkan do'a.

8. Turunnya Lailatul Qodar
Pada bulan Ramadhan Allah menurunkan satu malam yang sangat mulia. Saking mulianya Allah menggambarkan malam itu nilainya lebih dari seribu bulan (QS. al-Qadr). Dikatakan mulia, pertama lantaran malam itulah awal al-Qur'an diturunkan. Kedua, begitu banyak anugerah Allah dijatuhkan pada malam itu.
Beberapa hadits shahih meriwayatkan malam laulatul qodar itu jatuh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Seperti dirawikan Imam Ahmad, "Lailatul qadar adalah di akhir bulan Ramadhan tepatnya di sepuluhb terakhir, malam keduapuluh satu atau duapuluh tiga atau duapuluh lima atau duapuluh tujuh atau duapuluh sembilan atau akhir malam Ramadhan. Barangsiapa mengerjakan qiyamullail (shalat malam) pada malam tersebut karena mengharap ridha-Ku, maka diampuni dosanya yang lampau atau yang akan datang."

Mengapa ditaruh diakhir Ramadhan, bukan pada awal Ramadhan? Rupanya karena dua puluh malam sebelumnya kita mengasah dan mengasuh jiwa kita. Itu adalah suatu persiapan untuk menyambut lailatul qodar.

Ada dua tanda lailatul qadar. Al Qur'an menyatakan, "Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat JIbril dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan/kedamaian sampai terbit fajar. (QS al-Qadr: 4-5)

Malaikat bersifat gaib, kecuali bila berubah bentuk menjadi manusia. Tapi kehadiran malaikat dapat dirasakan. Syekh Muhammad Abduh menggambarkan, "Kalau Anda menemukan sesuatu yang sangat berharga, di dalam hati Anda akan tercetus suatu bisikan, 'Ambil barang itu!' Ada bisikan lain berkata, 'Jangan ambil, itu bukan milikmu!' Bisikan pertama adalah bisikan setan. Bisikan kedua adalah bisikan malaikat." Dengan demikian, bisikan malaikat selalu mendorong seseorang untuk melakukan hal-hal positif. Jadi kalau ada seseorang yang dari hari demi hari sisi kebajikan dan positifnya terus bertambah, maka yakinlah bahwa ia telah bertemu dengan lailatul qodar.

9. Meningkatkan kesehatan
Sudah banyak terbukti bahwa puasa dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya, dengan puasa maka organ-organ pencernaan dapat istirahat. Pada hari biasa alat-alat pencernaan di dalam tubuh bekerja keras. Setiap makanan yang masuk ke dalam tubuh memerlukan proses pencernaan kurang lebih delapan jam. Empat jam diproses di dalam lambung dan empat jam di usus kecil (ileum). Jika malam sahur dilakukan pada pukul 04.00 pagi, berarti pukul 12 siang alat pencernaan selesai bekerja. Dari pukul 12 siang sampai waktu berbuka, kurang lebih selama enam jam, alat pencernaan mengalami istirahat total.

Meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Berdasarkan penelitian yang dilakukan para ahli kesehatan, ternyata dengan berpuasa sel darah putih meningkat dengan pesat sekali. Penambahan jumlah sel darah putih secara otomatis akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Menghambat perkembangan atau pertumbuhan bakteri, virus dan sel kanker. Dalam tubuh manusia terdapat parasit-parasit yang menumpang makan dan minum. Dengan menghentikan pemasukan makanan, maka kuman-kuman penyakit seperti bakteri-bakteri dan sel-sel kanker tidak akan bisa bertahan hidup. Mereka akan keluar melalui cairan tubuh bersama sel-sel yang telah mati dan toksin.

Manfaat puasa yang lain adalah membersihkan tubuh dari racun kotoran dan ampas, mempercepat regenasi kulit, menciptakan keseimbangan elektrolit di dalam lambung, memperbaiki fungsi hormon, meningkatkan fungsi organ reproduksi, meremajakan atau mempercepat regenerasi sel-sel tubuh, meningkatkan fungsi fisiologis organ tubuh, dan meningkatkan fungsi susunan syaraf.

10. Penuh harapan
Saat berpuasa, ada sesuatu yang diharap-harap. Harapan itu kian besar menjelang sore. Sehari penuh menahan lapar dan minum, lalu datang waktu buka, wah... rasanya lega sekali. Alhamdulillah. Itulah harapan yang terkabul. Apalagi harapan bertemu Tuhan, masya' Allah, menjadikan hidup lebih bermakna. "Setiap orang berpuasa selalu mendapat dua kegembiraan, yaitu tatkala berbuka puasa dan saat bertemu dengan Tuhannya." (HR. Bukhari).

11. Masuk surga melalui pintu khusus, Rayyaan
"Sesungguhnya di surga itu ada sebuah pintu yang disebut rayyan yang akan dilewati oleh orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat nanti, tidak diperbolehkan seseorang melewatinya selain mereka. Ketika mereka dipanggil, mereka akan segera bangkit dan masuk semuanya kemudian ditutup." (HR. Bukhari)

12. Minum air telaganya Rasulullah saw
"Barangsiapa pada bulan Ramadhan memberi makan kepada orang yang berbuka puasa, maka itu menjadi ampunan bagi dosa-dosanya, dan mendapat pahala yang sama tanpa sedikit pun mengurangi pahala orang lain. Mereka (para sahabat) berkata, 'Wahai Rasulullah, tidak setiap kami mempunyai makanan untuk diberikan kepada orang yang berbuka puasa.' Beliau berkata, 'Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi buka puasa meski dengan sebutir kurma, seteguk air, atau sesisip susu...Barangsiapa memberi minum orang yang berpuasa maka Allah akan memberinya minum seteguk dari telagak dimana ia tidak akan haus hingga masuk surga." (HR. Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi)

13. Berkumpul dengan sanak keluarga
Pada tanggal 1 Syawal ummat Islam merayakan Hari Raya Idhul Fitri. Inilah hari kemenangan setelah berperang melawan hawa nafsu dan syetan selama bulan Ramadhan. Di Indonesia punya tradisi khusus untuk merayakan hari bahagia itu yang disebut Lebaran. Saat itu orang ramai melakukan silahtuhrahim dan saling memaafkan satu dengan yang lain. Termasuk kerabat-kerabat jauh datang berkumpul. Orang-orang yang bekerja di kota-kota pulang untuk merayakan lebaran di kampung bersama kedua orang tuanya. Maka setiap hari Raya selalu terjadi pemandangan khas, yaitu orang berduyun-duyun dan berjubel-jubel naik kendaraan mudik ke kampung halaman. Silahturahim dan saling memaafkan itu menurut ajaran Islam bisa berlangsung kapan saja. Tidak mesti pada Hari Raya. Tetapi itu juga tidak dilarang. Justru itu momentum bagus. Mungkin, pada hari biasa kita sibuk dengan urusan masing-masing, sehingga tidak sempat lagi menjalin hubungan dengan tetangga dan saudara yang lain. Padahal silahturahim itu dianjurkan Islam, sebagaimana dinyatakan hadis, "Siapa yang ingin rezekinya dibanyakkan dan umurnya dipanjangkan, hendaklah ia menghubungkan tali silaturahmi!" (HR. Bukhari)


14. Qaulan tsaqiilaa
Pada malam Ramadhan ditekankan (disunnahkan) untuk melakukan shalat malam dan tadarus al-Qur'an. Waktu paling baik menunaikan shalat malam sesungguhnya seperdua atau sepertiga malam terakhir (QS Al Muzzammil: 3). Tetapi demi kesemarakan syiar Islam pada Ramadhan ulama membolehkan melakukan terawih pada awal malam setelah shalat isya' dengan berjamaah di masjid. Shalat ini populer disebut shalat tarawih. Shalat malam itu merupakan peneguhan jiwa, setelah siangnya sang jiwa dibersihkan dari nafsu-nafsu kotor lainnya. Ditekankan pula usai shalat malam untuk membaca Kitab Suci al-Qur'an secara tartil (memahami maknanya). Dengan membaca Kitab Suci itu seseorang bakal mendapat wawasan-wawasan yang luas dan mendalam, karena al-Qur'an memang sumber pengetahuan dan ilham.

Dengan keteguhan jiwa dan wawasan yang luas itulah Allah kemudian mengaruniai qaulan tsaqiilaa (perkataan yang berat). Perkataan-perkataan yang berbobot dan berwibawa. Ucapan-ucapannya selalu berisi kebenaran. Maka orang-orang yang suka melakukan shalat malam wajahnya bakal memancarkan kewibawaan.

15. Hartanya tersucikan
Setiap Muslim yang mampu pada setiap Ramadhan diwajibkan mengeluarkan zakat. Ada dua zakat, yaitu fitrah dan maal. Zakat fitrah besarnya 2,5 kilogram per orang berupa bahan-bahan makanan pokok. Sedangkan zakat maal besarnya 2,5 persen dari seluruh kekayaannya bila sudah mencapai batas nisab dan waktunya. Zakat disamping dimaksudkan untuk menolong fakir miskin, juga guna mensucikan hartanya. Harta yang telah disucikan bakal mendatangkan barakah dan menghindarkan pemiliknya dari siksa api neraka. Harta yang barakah akan mendatangkan ketenangan, kedamaian dan kesejahteraan. Sebaliknya, harta yang tidak barakah akan mengundang kekhawatiran dan ketidaksejahteraan.


Hari - Hari Penantian

Hari - Hari Penantian

Bagi seorang gadis, ada masa penantian yang acapkali menimbulkan suasana rawan, menanti jodoh. Padahal jodoh, maut dan rezeki adalah wewenang Allah semata. Tak ada sedikitpun hak manusia untuk mengklaim wewenang tersebut. Tapi, watak manusia terkadang lupa dengan janji Allah. Apalagi bila lingkungan sekitarnya terus menerus memburu'nya untuk menikah, sementara jodoh yang dinantikan tak kunjung tiba. Dalam keadaan demikian, kerap muncul bermacam efek yang dapat membahayakan dirinya.


Seorang wanita akan dianggap dewasa bila ia telah mengalami menstruasi. Islam mencatat masa ini sebagai masa awal mukallafnya seorang wanita. Yang perlu diketahui, wanita sekarang menjadi akil baligh jauh lebih cepat dibanding masa dahulu. Dua puluh tahun yang lampau, wanita paling cepat mengalami menstruasi pada usia 15 tahun. Namun pada masa ini, tak jarang wanita mulai mens pada usia 11 tahun. Akibatnya, kedewasaan wanita terhadap masalah-masalah perkawinan akan meningkat secara cepat.

Keresahan mulai melanda tatkala usia sudah merangkak naik, tapi calon suami tak kunjung datang. Tanpa disadari, ada perilaku-perilaku yang mestinya tak layak dilakukan oleh seseorang yang sudah dianggap sebagai teladan dilingkungannya. Ada muslimah-muslimah yang menjadi sangat sensitif terhadap acara-acara walimah ataupun wacana-wacana seputar jodoh dan pernikahan. Ada juga yang bersikap seolah tak ingin segera menikah dengan berbagai alasan seperti karir, studi maupun ingin terlebih dulu membahagiakan orang tua. Padahal, hal itu cuma sebagai pelampiasan perasaan lelah menanti jodoh.

Sebaliknya, ada juga muslimah yang cenderung bersikap over acting. Terlebih bila sedang menghadiri acara-acara yang juga dihadiri lawan jenisnya. Ia akan melakukan berbagai hal agar "terlihat", berkomentar hal-hal yang nggak perlu yang gunanya cuma untuk menarik perhatian, atau aktif berselidik jika mendengar ada laki-laki (ikhwan) yang siap menikah. Seperti halnya wanita dimata laki-laki, kajian dengan tema "ikhwan" pun menjadi satu wacana favorit yang tak kunjung usai dibicarakan dalam komunitas muslimah.

Data yang terlihat dibeberapa biro jodoh juga menambah daftar panjang fenomena yang menggambarkan betapa kaum Hawwa sangat dihantui masalah-masalah rawan yang membuat kita berpikir panjang dan harus segera dicarikan jalan keluarnya.

Tentang hal diatas, Al qur'an dengan apik mengisahkan ketidakberdayaan seorang wanita menghadapi masa penantian. "Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali ..." (QS. An Nahl:92).
Pernikahan memang bukan fardhu. Tidak ada dosa atas seseorang yang tidak menikah selama ia memang tidak menentang sunnah Rasul ini. Jadi, sekarang atau nanti kita menikah, bukanlah problem utama. Yang terpenting adalah bagaimana mengisi masa-masa penantian ini dengan hal-hal yang positif ataupun aktifitas yang berkenaan dengan persiapan pra nikah.

Persiapan berawal dari hati. Kebersihan hati akan membuat seseorang tenang dalam melangkah. Istilah "perawan tua" tidak akan menggetarkan perjalanannya dan membuat dia berpaling dari jalan dakwah. Kalaupun tak berjodoh di dunia, bukankah Allah akan menggantikannya di akhirat kelak sesuai dengan tingkatan amalnya?

Kebersihan hati juga akan sangat menentukan sikap qona'ah (ikhlas menerima dan merasa cukup) terhadap pemberian Allah. Sehingga ia dengan senang hati menerima, jika sekiranya Allah memberinya jodoh seseorang yang secara fisik (selain agama) tidak sesuai harapannya, agar tidak kaget melihat standar kebahagiaan yang diluar bayangannya.
Orang tua dan keluarga juga perlu dikondisikan, agar mereka tidak menyalahkan Islam. Banyak orang tua yang beranggapan bahwa jilbab adalah yang selama ini menjadi penghalang anaknya tidak mendapatkan pasangan.

Selain itu, bersabar dan berdo'a nampaknya merupakan kunci mutlak untuk menstabilkan moral (akhlaq). Dengan kesabaran, ada pintu-pintu yang terbuka yang barangkali tak terlihat ketika kita sedang sempit dada. Dengan do'a, ada jalinan mesra dengan Sang Pemilik. Mungkin tidak saat itu juga do'a-do'a kita akan segera dikabulkan, tetapi bukankah do'a adalah ibadah? Jadi, semakin banyak do'a terucap, semakin banyak pula ibadah dilakukan.

Buat para muslimah yang baru saja menikmati keindahan meneguk bahtera rumah tangga, tampaknya ada sikap yang harus dilakukan untuk menjaga perasaan muslimah yang belum menikah. Istri-istri baru itu, biasanya senang "mengompori". Sebenarnya sikap ini sah-sah saja, agar tampak bukti bahwa menikah tanpa pacaran, menikah dalam rangka dakwah adalah "pengorbanan" yang menyejukkan. Tapi jika hanya sekedar memanasi tanpa solusi, sebaiknya sikap seperti itu ditahan. Apalagi jika si muslimah  itu tidak siap dengan cerita-cerita seputar nikah itu, bisa jadi akan memedihkan perasaannya.

Namun demikian, lain halnya dengan muslimah-muslimah yang 'bandel', yang dengan berbagai alasan kerap menolak untuk menikah meski seharusnya sudah siap. Baik tuntutan dakwah maupun tuntutan lainnya.

Menikah adalah ibadah. Tapi, ia bukan satu-satunya ibadah. Masih banyak alternatif ibadah yang bisa dilakukan. Alangkah naifnya bila kita malah banyak membuang waktu untuk memikirkan masalah pernikahan yang tak kunjung juga teralami. Masih banyak pekerjaan dan hal lain yang membutuhkan penyaluran potensi kita. Mumpung masih gadis, optimalkanlah potensi diri. Karena kelak, jika kesibukan menjadi istri dan ibu menghampiri kita, waktu untuk menuntut ilmu, menghapal ayat Qur'an dan hadits, bahkan untuk bertemu Allah di sepertiga malam, tentu saja akan berkurang. Nah, kenapa tidak kita optimalkan sejak sekarang?
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar" (QS 3:142)

Burung, Hikmah Bagi Orang Yang Berfikir

Burung, Hikmah Bagi Orang Yang Berfikir

Jika kita perhatikan alam ciptaan Ilahi ini, berbagai-bagai pengajaran dapat diteladani dari kejadian alam. Antara makhluk ciptaan Allah yang kita dapat perhatikan adalah burung.

Burung jika diperhatikan dari kawasan yang bermusim dingin akan sentiasa berhijrah ke kawasan yang lebih panas. Memang sudah menjadi lumrah alam penghijrahan tersebut dilakukan secara berkumpulan. Dan dalam setiap perkumpulan tersebut pasti ada seorang ketua yang sentiasa berada di hadapan. Selain memiliki ketua, sekumpulan burung ini turut berhijrah mengikut formasi tertentu iaitu formasi berbentuk V. Secara saintifiknya formasi ini menghasilkan satu bentuk aero-dinamik yang membahagikan rintangan angin kepada setiap ahli burung yang sekaligus memudahkan penghijrahan jika dibandingkan dengan penghijrahan berseorangan. Maka untuk membentuk formasi tersebut amatlah penting akan wujudnya komponen perpaduan dan kerjasama di kalangan burung tersebut. Subhanallah, bertapa tingginya hikmah penciptaan burung itu.

Marilah kita melihat realita hari ini. Keadaan umat Islam hari ini jelas sekali terumbang-ambing. Kita seolah-olah menjadi ‘pak turut’ terhadap segala apa ideologi yang dilaungkan oleh musuh-musuh kita. Sehinggakan isu-isu besar yang menyentuh soal agama sekalipun tidak diendahkan. Tiada lagi sensitiviti terhadap isu yang menimpa saudara-saudara sendiri sepertimana yang menimpa tanah Palestina. Tiada lagi kesepaduan di kalangan kita sepertimana yang ditonjolkan oleh sekumpulan burung tadi. Masing-masing mahu hidup ‘nafsi-nafsi, lu punya suka, gua punya suka’. Masing-masing tak mengendahkan apa yang menimpa orang lain asalkan hidup sendiri bahagia.

Menyingkap kembali zaman kegemilangan Islam di kala dahulu, seluruh umat Islam di seluruh dunia disatukan di bawah satu pemerintahan dan ketaatan setiap rakyat ditujukan kepada satu khalifah. Kesepaduan di saat itu amatlah jelas kukuh dan semua umat Islam bagaikan anggota-anggota badan manusia. Jika tangan terluka seluruh tubuh merasai kesakitannya. Jika kaki dijangkiti kuman seluruh tubuh berkerjasama untuk menyembuhkannya. Alangkah indahnya saudara-saudara sekalian. Sifat seperti inilah yang difirmankan oleh Allah dalam kalam-Nya; Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya…(33:4). Dalam satu badan manusia hanya ada satu hati dan dalam satu umat juga hanya ada satu hati.

Ayuh semua. Di sini diri ini menyeru kepada diri sendiri dan kalian semua untuk bersama-sama kita membina kekuatan ukhuwwah di antara kita. Ukhuwwah yang didasarkan atas aqidah hanya kepada Allah Taala semata-mata. Sadarlah bahawa perselisihanlah yang menyebabkan kita berpecah-belah. Ingatlah perintah Allah dalam surah al-Hujuraat ayat 10: Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. InsyaAllah Islam pastikan tertegak kelak.
7 Indikator Kebahagiaan Dunia

7 Indikator Kebahagiaan Dunia


Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid. Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi'in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia.

Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :

Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.
Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona'ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah.

Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu :
"Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita". Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap "bandel" dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi.
Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!

Kedua. Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh.
Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang sholeh.

Ketiga, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.
Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : "Kenapa pundakmu itu ?" Jawab anak muda itu : "Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya". Lalu anak muda itu bertanya: " Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ?"
Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: "Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu". Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh.

Keempat, albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.
Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah.

Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya.

Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.
Kelima, al malul halal, atau harta yang halal.
Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya.

Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. "Kamu berdoa sudah bagus", kata Nabi SAW, "Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan". Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.

Keenam, Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama.
Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya.

Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya.
Semangat memahami agama akan meng "hidup" kan hatinya, hati yang "hidup" adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.

Ketujuh, yaitu umur yang barokah.
Umur yang barokah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat "hidup" orang-orang yang barokah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya barokah.

Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia.
Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator kebahagiaan dunia tersebut ? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan se-khusyu' mungkin membaca doa `sapu jagat' , yaitu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW. Dimana baris pertama doa tersebut "Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanaw" (yang artinya "Ya Allah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia "), mempunyai makna bahwa kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra, yaitu hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang soleh, anak yang soleh, teman-teman atau lingkungan yang soleh, harta yang halal, semangat untuk memahami ajaran agama, dan umur yang barokah.
Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri.


Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu "wa fil aakhirati hasanaw" (yang artinya "dan juga kebahagiaan akhirat"), untuk memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah.

Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah.
Kata Nabi SAW, "Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga". Lalu para sahabat bertanya: "Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?". Jawab Rasulullah SAW : "Amal soleh saya pun juga tidak cukup". Lalu para sahabat kembali bertanya : "Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?". Nabi SAW kembali menjawab : "Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata".

Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah (Insya Allah, Amiin).
ABDULLAH BIN HUDZAFAH AS—SAHMY

ABDULLAH BIN HUDZAFAH AS—SAHMY

“Sepantasnyalah setiap kaum muslimin mencium kepala ‘Abdullah bin Hudzafah.
Nah Aku yang memulai !“ (‘Umar bin Khatbthab).
Pahlawan yang kita kisahkan ini, sahabat Rasulullah saw. bernama: ‘ABDULLAH BIN HUDZAFAH AS—SAHMY.
Sebelumnya sejarah melewatkannya begitu saja, seperti milyunan orang-orang ‘Arab lainnya. Tetapi Islamlah yang kemudian menugaskan ‘Abdullah bin Hudzhafah menemui dua orang raja besar dunia pada zamannya, yaitu Kisra, Maharaja Persia, dan Kaisar Agung, Maharaja Romawi. Pertemuan ‘Abdullah dengan kedua raja dunia itu abadi dalam sejarah, dan mewarnai perjalanan sejarah itu sèndiri.

Pertemuan ‘Abdullah bin Hudzafah dengan Kisra, Maharaja Persia, terjadi pada tahun keenam Hijriyah, yaitu ketika Rasulullah saw. mulai mengembangkan Da’wah Islam ke seluruh pelosok dunia. Ketika itu beliau berda’wah melalui surat kepada raja-raja ‘Ajam (non Arab), mengajak mereka masuk Islam.


Rasullulah saw. telah memperhitungkan resiko yang mungkin timbul dalam pekerjaan penting ini. Para utusan akan diberangkatkan ke negeri-negeri. asing yang belum mereka kenal selama ini. Mereka tidak paham bahasa negeri-negeri yang mereka tuju, belum mengenal seluk-beluk pemerintahan, sosial, dan budayanya. Tetapi mereka harus pergi ke sana mengajak raja-raja asing itu meninggalkan agama mereka semula dan agar mereka menanggalkan kemegahan dan kekuasaaan mereka, untuk tunduk kepada agama Islam yang dianut oleh suatu bangsa yang kemaren menjadi rakyat taklukan mereka.
Memang suatu tugas yang berat dan berbahaya. Pergi ke sana berarti hilang. Kalau toh bisa kembali, berarti suatu kelahiran baru. Karena itu Rasulullah saw. mengum pulkan para sahabat, kemudian beliau berpidato dihadapan mereka.

Seperti biasa, mula-mula Rasulullah saw. memuji Allah swt. dan membaca tasyahhud. Sesudah itu beliau berkata:
“Sesungguhnya aku telah merencanakan hendak mengirim beberapa orang di antara kalian kepada raja raja ‘Ajam. Karena itu janganlah kalian menolak gagasan ku, seperti Bani Israil menolak gagasan Isa bin Maryam.”
Jawab para sahabat, “Kami senantiasa siap melaksanakan segala perintah Rasulullah. Kami bersedia dikirim ke. mana saja dihendaki Rasulullah.”
Rasulullah menunjuk enam orang sahabat untuk menyampaikan surat beliau kepada raja-raja ‘Arab dan ‘Ajam. Salah seorang di antara mereka ialah ‘Abdullah bin Hudzafah As-Sahmy, dipilih beliau untuk menyampaikan surat kepada Kisra Abrawiz, Maharaja Persia.

‘Abdullah bin Hudzafah telah menyiapkan kendaraannya untuk berangkat. Anak-anak dan keluarganya dititipkannya kepada para sahabat. Kemudian dia berangkat ke tujuan, mengemban tugas dan Rasulullah dengan semangat dan tanggung jawab penuh. Gunung yang tinggi didakinya; lurah yang dalam dituruninya. Dia benjalan seorang diri, tiada berteman selain Allah swt.

Akhirnya ‘Abdullah bin Hudzafah tiba di ibu kota Persia. Dia minta izin masuk untuk bertemu dengan Kisra. ‘Abdullah memberitahukan kepada pengawal, bahwa dia utusan Rasulullah untuk menyampaikan surat kepada Kisra. Pengawal memberi tahu Kisra, ada utusan membawa surat untuk Baginda.

Kisra memanggil segala pembesar supaya hadir ke majlis Kisra. Kemudian Kisra mengizinkan ‘Abdullah bin Hudzafah masuk menghadap baginda di majlis yang serba gernilang itu.

‘Abdullah menghadap dengan pakaian sederhana, seperti kesederhanaan orang-orang Islam, tetapi kepalanya tegak, jalannya tegap. Dalam tulang belulangnya mengalir keperkasaan Islam. Di dalam hatinya menyala kekuasaan Iman.
Tatkala Kisra melihat ‘Abdullah menghadap, dia memberi isyarat kepada pengawal supaya menenima surat yang dibawa ‘Abdullah. Tetapi ‘Abdullah menolak memberikannya kepada pengawal.

Kata ‘Abdullah, “Jangan…! Rasulullah memerintahkan supaya memberikan surat ini langsung ke tangan Kisra tanpa perantara Aku tidak mau menyalahi perintah Rasulullah”
Kata Kisra kepada pengawal, “Biarkan dia mendekat kepadaku!”
‘Abdullah menghampiri Kisra, kemudian surat itu diberikannya ketangan Kisra sendiri. Kisra memanggil sekretaris berkebangsaan ‘Arab, berasal dari Hirah.’) Kemudian Kisra memerintahkan sekretaris itu membuka surat tersebut di hadapan baginda dan menyuruh membacakan isinya:
“Dan Muhammad Rasulullah, kepada Kisra, Maharaja Kisra.
Berbahagialah siapa yang mengikut petunjuk….”
Baru sampai di situ sekretaris membaca surat, api ke marahan menyala di dada Kisra. Mukanya merah, dan urat lehernya membengkak. Hal itu ialah karena Rasulullah menyebut nama beliau sendiri lebih dahulu sebelum menuliskan nama Kisra. Lalu Kisra merebut surat tersebut dari tangan sekretaris, dan menyobeknya tanpa mengetahui isi surat selanjutnya.
Kisra berteriak, “Berani-berani dia menulis seperti itu kepadaku….! padahal dia budakku…!”

Lalu diperintahkannya mengusir ‘Abdullah bin Hudzafah dari majlis.
‘Abdullah bin Hudzafah keluar dan Majlis Kisra. Dia tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada dirinya sesudah itu. Mungkin dia akan dibunuh dan mungkin pula akan tetap hidup di dunia bebas. Tetapi tidak lama ‘Ab dullah berpikiran begitu, ia pun berkata kepada dirinya sendiri, ‘Demi Allah! Aku tidak peduli apa pun yang akan terjadi. Yang penting tugas yang dibebankan Rasulullah kepadaku telah kulaksanakan dengan baik. Surat Rasulullah telah kusampaikan ke tangan yang bersangkutan.”

Lalu dengan sgap dia melompat naik kendaraannya, dan berpacu secepat-cepatnya.
Setelah kemarahan Kisra Abrawiz agak mereda, diperintahkannya pula para pengawal supaya menghadapkan ‘Abdullah kembali. Tetapi ‘Abdullah sudah tidak ada di tempat. Para pengawal mencari ‘Abdullah ke mana mana. Jejaknya pun tidak dapat mereka temukan. Mereka melacak ‘Abdullah di jalan yang menuju ke Jazirah ‘Arab. Tetapi ‘Abdullah sudah jauh, sehingga tidak mungkin tersusul oleh mereka.
Setibanya ‘Abdullah di hadapan Rasulullah, dilaporkannya segala kejadian yang dilihat dan dialaminya, dan perbuatan Kisra menyobek surat beliau.

Mendengar laporan ‘Abdullah, Rasulullah berkata ‘
(Semoga Allah menyobek-nyobek kerajaannya pula!)
Kisra menulis surat kepada Badzan, wakil baginda di Yanian untuk menangkap Rasulullah, kemudian membawa beliau ke hadapan Kisra.
Badzan segera melaksanakan perintah Maharaja Persia yang dipertuan. Badzan mengirim dua orang yang pilihan untuk menangkap Rasulullah, disertai sepucuk surat untuk beliau. Surat itu memerintahkan Rasulullah agar segera berangkat menghadap Kisra bersama-sama dengan kedua orang itu tanpa menunggu-nunggu.

Badzan memerintahkan pula kepada kedua utusannya supaya menyelidiki dengan seksama di mana Rasulullah berada, agar teliti dalam segala urusan, dan supaya melapor kepadanya sewaktu-waktu.
Kedua utusan Badzan segera berangkat. Maka dalam tempo singkat keduanya telah sampai di Thaif. Di sana mereka bertemu dengan para pedagang suku Quraisy. Keduanya bertanya kepada mereka di mana Rasulullah berada. Para pedagang mengatakan, “Muhammad berada di Yatsrib.”

Kemudian para pedagang itu meneruskan perjalanan mereka ke Makkah. Setibanya di Makkah, mereka menyiarkan berita gembira kepada penduduk Makkah. Kata mereka, “Tenanglah kalian…! Kisra akan membunuh si Muhammad, dan melindungi kalian dan kejahatannya.”
Kedua utusan Badzan terus ke Madinah. Mereka langsung menemui Rasulullah dan menyampaikan surat Badzan kepada beliau:
Kata mereka, Kisra, Maharaja Persia mengirim surat kepada Raja kami, Badzan, memerintahkan kami menemui Anda. Kisra memerintahkan kami supaya membawa Anda bersama-sama dengan kami menghadap baginda. Jika Anda berkenan pergi bersama-sama kami, Kisra mengatakan, itulah yang sebaik-baiknya bagi Anda, karena baginda tidak akan menghukum Anda. Tetapi jika Anda mengabaikan perintah Baginda, Anda tentu sudah tahu, baginda sangat berkuasa untuk membinasakan Anda!”
Rasulullah saw. tersenyum-senyum mendengar perkataan utusan Badzan.
Beliau berkata kepada mereka, “Sebaiknya Tuan-tuan beristirahat lebih dahulu sampai besok. Besok pagi Tuan tuan boleh kembali ke sini!”

Besok pagi kedua utusan itu datang kembali menemui Rasulullah, sesuai dengan janji.
Kata mereka, “Sudah siapkah Anda berangkat bersama-sama dengan kami menemui Kira?”
Jawab Rasulullah, ‘ tidak dapat lagi bertemu dengan Kisra sesudah hari ini Kisra telah dibunuh oleh anaknya sendiri “Syirwan”, pada jam sekian, detik sekian, hari dan bulan itu.”
Kedua utusan Badzan melihat wajah Rasulullah saw. dengan mata terbelalak keheranan.
“Sadarkah Anda dengan ucapan Anda?” tanya mereka. “Bolehkan kami tulis ucapan Anda itu untuk Badzan?”

“Silakan…! Bahkan boleh Tuan-tuan tambahkan, bahwasanya agamaku akan mencapai seluruh kawasan kerajaan Kisra. Jika Badzan masuk Islam, maka wilayah yang berada di bawah kekuasaannya akan saya serahkan kepadanya. Kemudian Badzan sendiri kuangkat menjadi raja bagi rakyatnya.” jawab Rasulullah yakin.

Kedua utusan Badzan meninggalkan Rasulullah saw. Mereka kembali menghadap Badzan. Mereka melapor kepada Badzan pertemuannya dengan Rasulullah saw., dan menyampaikan pesan beliau kepadanya.

Kata Badzan, “Jika apa yang dikatakan Muhammad itu benar, sesungguhnya dia seorang Nabi. Jika tidak, ucapannya itu hanya mimpi belaka.”
Tidak berapa lama kemudian, tibalah surat Syirwan kepada Badzan.
Kata Syirwan, “Kisra telah saya bunuh. Aku terpaksa membunuhnya karena dia menindas rakyat kami. Para bangsawan kami habiskan. Wanita-wanita mereka kami tawan. Dan harta benda mereka kami rampas. Maka bila suratku ini telah engkau baca, kamu dan rakyatmu hendaklah menyatakan tunduk kepadaku!”
Selesai membaca surat itu, Badzan mengumumkan kepada seluruh rakyatnya, mulai saat ini dia masuk Islam - Mendengar pengumumannya itu, maka Islam pula segala pembesar dan orang-orang keturunan Persia yang berada di Yaman.
Itulah kisah pertemuan ‘Abdullah bin Hudzafah As Sahmy dengan Kisra, Maharaja Persia.
Nah…! Bagaimana pula kisah pertemuannya dengan Kaisar Agung, Maharaja Rum?
Pertemuan ‘Abdullah bin Hudzafah As Sahmy dengan Kaisar Agung, terjadi pada masa pemerintahan Khalifah ‘Umar bin Khaththab Al Faruq. Kisahnya merupakan kisah yang amat mengagumkan.
Pada tahun kesembilan-belas Hijriyah, Khalifah ‘Umar mengirim angkatan perang kaum muslimin memerangi kerajaan Rum. Dalam pasukan itü terdapat seorang perwira senior, ‘Abdullah bin Hudzafah As Sahmy,

Kaisar Rum telah mengetahui keunggulan dan sifat-sifat tentara muslimin. Sumber kekuatan mereka ialah Iman yang membaja, dan kedalaman ‘aqidah, serta kebera nian mereka menghadang maut. Mati fisabifflah menjadi tekad dan cita-cita hidup mereka.
Kaisar memerintahkan kepada para perwiranya, “Jika kalian berhasil menawan tentara muslimin, jangan kalian bunuh mereka. Tetapi bawa ke hadapanku!” Ditakdirkan Allah, ‘Abdullah bin Hudzafah tertawa. ‘Abdullah dibawa mereka ke hadapan Baginda Kaisar.
Kata mereka, “Tawanan ini adalah sahabat Muhammad. Dia termasuk sahabat senior, dari kelompok yang pertama-tama masuk Islam. Dia tertawan, lalu kami bawa ke hadapan Paduka.”

Lama juga kaisar memperhatikan ‘Abdullah bin Hudzafah. Sesudah itu baru dia berkata, “Saya hendak menawarkan sesuatu kepada engkau.”
“Apa yang hendak Anda tawarkan?” tanya Abdullah.
‘Maukah engkau masuk agama Nasrani? Jika engkau mau, saya bebaskan engkau, kemudian saya beri pula hadiah besar,” kata Kaisar.

‘Abdullah bernafas dalam-dalam, lalu menjawab:
‘Yaah …., aku lebih suka mati seribu kali daripada menerima tawaran Anda,” kata ‘Abdullah mantap.
Kata Kaisar, “Saya lihat engkau seorang perwira yang pintar. Jika engkau mau menerima tawaranku, saya angkat engkau menjadi pembesar kerajaan, dan saya bagi kekuasaan saya dengan engkau.”
‘Abdullah yang diborgol itu tersenyum. Kemudian ia berkata: “Demi Allah! Seandainya Anda berikan kepadaku semua kerajaan Anda, ditambah dengan semua kerajaan ‘Arab, agar aku keluar dari agama Muhammad agak sebentar saja, niscayalah aku tidak dapat menerimanya.”

Kata Kaisar, “Kalau begitu, saya bunuh engkau!”
Jawab ‘Abdullah, “Silakan…! Lakukanlah sesuka Anda!”
‘Abdullah disuruhnya ikat di kayu salib. Kemudian diperintahkannya tukang panah memanah lengan ‘Abdullah.
Sesudah itu Kaisar bertanya, “Bagaimana…? Maukah engkau masuk agama Nasrani?”
“Tidak!” kata ‘Abdullah.
‘Panah kakinya!” perintah Kaisar.

Maka dipanah orang pula kakinya.
“Nah! Maukah engkau pindah agama?” tanya Kaisar membujuk
‘Abdullah tetap menolak.
Sesudah itu Kaisar menyuruh hentikan siksaan dengan panah, lalu ‘Abdullah diturunkan dari tiang salib. Kemudian Kaisar meminta sebuah kuali besar, lalu dituangkan minyak ke dalam dan diletakkan orang di atas tungku berapi. Setelah minyak menggelegak, Kaisar meminta dua orang tawanan muslim. Seorang di antaranya disuruh nya lemparkan ke dalam kuali. Sebentar kemudian, daging orang itu hancur sehingga keluar tulang belulangnya.

Kaisar menoleh kepada ‘Abdullah, dan membujuknya masuk Nasrani. Tetapi ‘Abdullah menolak lebih keras. Setelah Kaisar putus asa, diperintahkannya melemparkan ‘Abdullah ke dalam kuali. Ketika pengawal menggiring ‘Abdullah ke dekat kuali, ‘Abdullah menangis.

Para pengawal mengatakan kepada Kaisar, ‘Dia menangis, Paduka!”
Kaisar menduga, tentu ‘Abdullah menangis karena takut mati.
Kata Kaisar, “Bawa dia kembali kepadaku!”
‘Abdullah berdiri kembali di hadapan Kaisar.
Kaisar menanyakan apakah ‘Abdullah mau menjadi Nasrani. Dengan Iman yang kokoh kuat, ‘Abdullah tetap menolak bujukan Kaisar.
Kata Kaisar, “Celaka…! Mengapa engkau menangis?”
Jawab Abdullah, “Aku menangis karena keinginanku selama ini tidak terkabul. Aku ingin mati di medan tempur perang fisabiillah. Ternyata kini, aku akan mati konyol dalam kuali.”
“Maukah engkau mencium kepalaku? Nanti kubebaskan engkau!” kata Kaisar dengan angkuh.
Jawab Abdullah, “bebas beserta semua kawan-ka wanku tawanan muslim?”
Jawab Kaisar, “Ya, saya bebaskan engkau berserta semua tawanan muslim.”
‘Abdullah berpikir sejenak, “Aku harus mencium kepala musuh Allah. Tetapi aku dan kawan-kawan yang tertawan bebas. Ah.. tidak ada ruginya.”

“Abdullah menghampiri Kaisar, lalu diciumnya kepala musuh Allah itu.
Sesudah itu Kaisar memerintahkan para pengawal mengumpulkan semua tawanan muslim untuk dibebaskan dan diserahkan kepada ‘Abdullah bin Hudzafah.
Setibanya ‘Abduflah bin Hudzafah di hadapan Khalifah ‘Umar bin Khaththab, dilaporkannya kepada beliau semua yang dialaminya serta pembebasannya berikut sejumlah tentara muslimin yang tertawan. Khalifah sangat gembira mendengarkan laporan ‘Abdullah. Ketika Khalifah memeriksa prajurit muslim yang tertawan dan bebas bersama-sama ‘Abdullah, beliau berkata, “Sepantasnyalah setiap orang muslim mencium kepala ‘Abdullah bin Hudzafah. Nah…! Aku yang memulai….!”

Khalifah berdiri seketika itu juga, lalu mencium kepala ‘Abdullah bin Hudzafah As Sahmy.
***